Ketertiban sosial
Teks Hadih Maja
Umöng meu-ateueng. nanggroe meusyarak, pakön buet sinyak mubeu laga.
Makna / terjemahan
Sawah berpematang, negeri bersyarak, mengapa kerjamu kurang ajar.
Informasi
Dipublikasikan
22 May 2026
Validator/Kurator
Dr. Syamsul Bahri, MA
Status
Published
Frekuensi Dibaca
0 kali
Audio Diputar
0 kali
Modul PDF Tematik
Modul Hadih Maja Kategori Sosial
Untuk pembelajaran
Gunakan halaman ini untuk membaca teks Aceh, membandingkan makna, lalu lanjut ke bilik belajar untuk eksplorasi modul & kuis.
Pemaknaan dan penjelasan
Hadih maja ini menggambarkan teguran kepada seseorang yang tidak mematuhi aturan, adat, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat. Ungkapan “umöng meu-ateueng” menunjukkan bahwa sawah saja memiliki pematang sebagai batas yang mengatur kepemilikan dan keteraturan. Demikian pula “nanggroe meusyarak”, sebuah negeri atau masyarakat memiliki syarak, adat, hukum, dan norma yang menjadi pedoman hidup bersama. Karena itu, seseorang tidak boleh bertindak semaunya, melanggar sopan santun, atau mengabaikan aturan sosial yang telah disepakati. Hadih maja ini menegaskan bahwa kehidupan bermasyarakat tidak dapat berjalan tanpa batas, adab, dan kepatuhan terhadap nilai bersama. Orang yang hidup dalam suatu komunitas harus tahu menempatkan diri, menghormati adat setempat, serta menjaga perilaku agar tidak merusak ketertiban sosial.
Hadih terkait
Audio pelafalan
Didengar 0 kali
Pelafalan Asli
Posisi audio akan disimpan otomatis di browser Anda.