Modul 04 • Kehidupan Sosial

Modul Pembelajaran: Sosial

Persaudaraan, Tolong-Menolong, & Etika Masyarakat

Setelah mempelajari bab ini, siswa mampu menjelaskan nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat Aceh yang terkandung dalam hadih maja — mencakup gotong royong, musyawarah, kepemimpinan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial — serta menerapkannya dalam interaksi bermasyarakat.

40 Kartu Hadih 40 Audio Pelafalan PDF Modul Tersedia RPP & Rubrik Siap
Kartu #1 dari 40

Persatuan masyarakat

Meuseuraya bak gampông, meupakat bak meunasah

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Bergotong royong di kampung, bermufakat di meunasah"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan corak kehidupan sosial masyarakat Aceh yang dibangun di atas semangat kebersamaan, gotong royong, dan musyawarah. Ungkapan “meuseuraya bak gampông” menunjukkan bahwa pekerjaan dan urusan bersama diselesaikan secara kolektif di lingkungan kampung, sedangkan “meupakat bak meunasah” menegaskan bahwa keputusan penting ditempuh melalui mufakat di ruang bersama yang dihormati masyarakat. Dalam konteks sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kehidupan yang harmonis tidak lahir dari sikap individualistis, melainkan dari kesediaan untuk bekerja bersama, saling membantu, dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kekuatan masyarakat Aceh bertumpu pada persatuan, partisipasi bersama, dan kebiasaan bermufakat dalam menjaga ketertiban serta keharmonisan hidup bersama.

1 / 40
Kartu #2 dari 40

Musyawarah sebagai jalan keluar

Paléh ureueng pubuet hana mupakat.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Celaka orang kerja tidak mufakat."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa musyawarah hanya akan menghasilkan kebaikan apabila dijalankan tanpa paksaan dan tanpa kehendak sepihak. Ungkapan menunjukkan bahwa inti dari mufakat bukan sekadar berkumpul untuk berbicara, tetapi mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak. Dalam kehidupan sosial, masalah tidak seharusnya diselesaikan dengan keras kepala, tekanan, atau pemaksaan kehendak, karena cara seperti itu justru melahirkan perpecahan dan luka dalam hubungan masyarakat. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa musyawarah yang baik harus dilandasi kelapangan hati, kesediaan mendengar, dan semangat mencari kesepakatan bersama, sebab dari sikap itulah lahir ketenteraman, keadilan, dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.

2 / 40
Kartu #3 dari 40

Penampilan menunjukkan derajat

Pangulèe alat parang muparôh, pangulèe pakaian boh ru bungkôh

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Penghulu senjata parang berparuh, penghulu pakaian bungkus berhias emas"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat, penampilan, perlengkapan, dan hiasan yang dikenakan seseorang sering kali menjadi penanda kedudukan, peran, atau derajat sosialnya. Ungkapan tentang parang berparuh dan pakaian berhias emas menunjukkan bahwa seorang penghulu atau tokoh masyarakat dikenali bukan hanya dari namanya, tetapi juga dari tanda-tanda lahiriah yang mencerminkan martabat dan fungsinya dalam tatanan adat. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa busana, simbol, dan kelengkapan adat tidak dipakai secara sembarangan, melainkan memiliki makna sosial yang menunjukkan posisi seseorang dalam masyarakat. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa dalam budaya Aceh, tanda-tanda lahiriah bukan sekadar hiasan, tetapi juga bagian dari tata penghormatan, identitas, dan keteraturan sosial

3 / 40
Kartu #4 dari 40

Penguasa negeri berganti, kekuasaan Tuhan tetap abadi

Raja dônya panè na meugantoe-gantoe, raja nanggroe nyang meutuka tuka.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Raja dunia tetap, raja negeri selalu berganti-ganti"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa kekuasaan manusia dalam suatu negeri bersifat sementara dan selalu dapat berganti, sedangkan kekuasaan yang mutlak dan tetap hanyalah milik Tuhan atas seluruh dunia. Ungkapan ini mengandung kesadaran sosial dan moral bahwa jabatan, pemerintahan, dan kedudukan politik tidak pernah kekal pada satu orang atau satu penguasa, karena semuanya berada dalam perubahan zaman. Dalam konteks sosial, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa masyarakat tidak seharusnya menggantungkan segala-galanya pada kekuasaan manusia yang sementara, tetapi harus memahami bahwa pergantian pemimpin adalah bagian dari kehidupan bersama. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa kekuasaan duniawi bersifat tidak tetap, sehingga manusia yang memegang jabatan harus bersikap rendah hati, adil, dan sadar bahwa dirinya hanyalah bagian dari tatanan yang akan terus berubah

4 / 40
Kartu #5 dari 40

Pengkhianatan kepercayaan

Harab keu pageue, pageue pajôh padé, harab keu jantông, jantông jithôk haté.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Harap kepada pagar, pagar makan padi, harap kepada jantung, jan tung menusuk hati."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan ketika seseorang yang diberi kepercayaan justru merusak amanah tersebut. Pagar seharusnya menjaga padi, tetapi malah memakannya. Jantung seharusnya menjadi pusat kehidupan, tetapi justru melukai hati. Ungkapan ini menjadi sindiran sosial terhadap orang yang mengkhianati kepercayaan, menyalahgunakan tanggung jawab, atau merugikan pihak yang telah mempercayainya.

5 / 40
Kartu #6 dari 40

Balasan setimpal

irhöm geutanyoe deungön bajoe, ta rhöm jih ngön nuga. Ji rhöm geu tanyoe deungön tumpoe ta rhöm jih ngön bada

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Dilempar kita dengan baji, kita lempar dia dengan gada. Dilempar kita dengan tumpoe, kita lempar dia dengan pisang goreng."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan prinsip hubungan sosial yang menekankan adanya balasan sesuai dengan perlakuan yang diterima. Jika seseorang memperlakukan kita dengan buruk, maka keburukan itu dapat kembali kepadanya dalam bentuk balasan yang setimpal. Sebaliknya, apabila seseorang datang dengan kebaikan, maka ia layak dibalas dengan kebaikan pula. Penggunaan kata bajoe dan nuga melambangkan tindakan keras atau buruk, sedangkan tumpoe dan bada melambangkan sesuatu yang baik, lembut, dan bernilai dalam tradisi masyarakat. Ungkapan ini tidak semata-mata mengajarkan pembalasan dendam, tetapi lebih menunjukkan kesadaran sosial masyarakat Aceh bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral. Dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang perlu menjaga sikap, sebab perlakuan yang diberikan kepada orang lain sering kali akan kembali dalam bentuk yang serupa

6 / 40
Kartu #7 dari 40

Sulit menyesuaikan diri

Lagèe bruek tincu punggông

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti tempurung runcing pantat"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan seseorang yang tidak betah tinggal di suatu tempat karena sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Ungkapan “bruek tincu punggóng” memberi gambaran kiasan tentang sesuatu yang tidak nyaman diduduki, sehingga orang yang mengalaminya selalu ingin berpindah. Dalam kehidupan sosial, seseorang yang tidak mampu memahami adat, kebiasaan, cara bergaul, dan tata nilai masyarakat setempat akan merasa asing, gelisah, bahkan mudah tersinggung. Akibatnya, ia sering berpindah-pindah tempat tinggal, bukan semata-mata karena tempatnya yang tidak baik, tetapi karena dirinya belum mampu membangun kesesuaian dengan lingkungan. Hadih maja ini menjadi nasihat agar manusia belajar beradaptasi, menghormati kebiasaan masyarakat, dan menempatkan diri secara bijak dalam pergaulan sosial.

7 / 40
Kartu #8 dari 40

Wibawa karena jarak

Phon-phon cit that indah, 'oh ramah kureueng mulia

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Mula-mula sangat indah, sesudah ramah kurang mulia."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perubahan pandangan sosial terhadap seseorang ketika hubungan sudah terlalu sering atau terlalu dekat. Pada awalnya, seseorang yang jarang datang atau jarang terlihat biasanya dipandang istimewa, dihormati, dan disambut dengan penuh penghargaan. Namun, ketika ia terlalu sering berkunjung atau terlalu akrab dalam pergaulan, kemuliaan dan wibawanya dapat berkurang karena orang lain mulai melihat dirinya sebagai hal yang biasa. Ungkapan ini bukan berarti melarang silaturahmi, tetapi mengingatkan pentingnya menjaga adab, jarak yang pantas, dan kewibawaan diri dalam hubungan sosial. Dalam masyarakat, kedekatan tetap perlu diiringi sikap bijak, tahu tempat, tahu waktu, dan tidak berlebihan, agar penghormatan tetap terjaga

8 / 40
Kartu #9 dari 40

Menipisnya kasih sayang

Dônya ka akhé, aneuk ngön ma jimupaké.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Dunia sudah akhir, anak dengan ibu bertengkar."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan kegelisahan sosial ketika kasih sayang, penghormatan, dan rasa kebersamaan dalam masyarakat mulai melemah. Ungkapan “dunia sudah akhir” bukan hanya menunjuk pada tanda zaman secara keagamaan, tetapi juga menjadi sindiran terhadap keadaan sosial yang dianggap sudah terbalik dari nilai-nilai ideal. Anak yang semestinya menghormati ibu justru bertengkar dengannya; hubungan yang paling dekat dan paling suci dalam keluarga pun dapat rusak oleh ego, kepentingan pribadi, dan lemahnya adab. Kiasan ini kemudian diperluas kepada kehidupan masyarakat, bahwa pada masa sekarang orang lebih mudah mementingkan diri sendiri daripada kepentingan bersama. Berbeda dengan gambaran masa dahulu, ketika solidaritas, gotong royong, dan kepentingan masyarakat lebih diutamakan, hadih maja ini menjadi peringatan agar manusia kembali menjaga kasih sayang, menghormati orang tua, memperkuat ikatan sosial, dan tidak membiarkan kepentingan pribadi menghancurkan hubungan keluarga maupun kehidupan bermasyarakat

9 / 40
Kartu #10 dari 40

Pentingnya pengalaman

Lagèe keubeue han tom eu ujeuen.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti kerbau tidak pernah melihat hujan"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan seseorang yang mudah gugup, bingung, atau ketakutan menghadapi sesuatu yang sebenarnya biasa dan tidak perlu dicemaskan secara berlebihan. Kerbau adalah hewan yang hidup dekat dengan alam, sawah, lumpur, dan hujan; karena itu, apabila diibaratkan seperti kerbau yang seolah-olah tidak pernah melihat hujan, ungkapan ini menjadi sindiran terhadap orang yang panik menghadapi keadaan yang semestinya dapat diterima dengan tenang. Dalam kehidupan sosial, sikap seperti ini sering muncul ketika seseorang kurang pengalaman, kurang percaya diri, atau terlalu cepat merasa takut sebelum memahami persoalan dengan baik. Hadih maja ini mengajarkan pentingnya ketenangan, keberanian, dan kemampuan menyesuaikan diri dalam menghadapi situasi. Seseorang tidak boleh mudah hilang arah hanya karena berhadapan dengan hal yang baru, sebab kebingungan yang berlebihan dapat membuatnya salah mengambil sikap di tengah masyarakat

10 / 40
Kartu #11 dari 40

Ketertiban sosial

Umöng meu-ateueng. nanggroe meusyarak, pakön buet sinyak mubeu laga.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sawah berpematang, negeri bersyarak, mengapa kerjamu kurang ajar."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan teguran kepada seseorang yang tidak mematuhi aturan, adat, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat. Ungkapan “umöng meu-ateueng” menunjukkan bahwa sawah saja memiliki pematang sebagai batas yang mengatur kepemilikan dan keteraturan. Demikian pula “nanggroe meusyarak”, sebuah negeri atau masyarakat memiliki syarak, adat, hukum, dan norma yang menjadi pedoman hidup bersama. Karena itu, seseorang tidak boleh bertindak semaunya, melanggar sopan santun, atau mengabaikan aturan sosial yang telah disepakati. Hadih maja ini menegaskan bahwa kehidupan bermasyarakat tidak dapat berjalan tanpa batas, adab, dan kepatuhan terhadap nilai bersama. Orang yang hidup dalam suatu komunitas harus tahu menempatkan diri, menghormati adat setempat, serta menjaga perilaku agar tidak merusak ketertiban sosial.

11 / 40
Kartu #12 dari 40

sisi nilai yang berguna

Brôk-brôk kapal, nyang labang na cit tinggai

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seburuk-buruk kapal, paku ada juga tinggal"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa sesuatu yang telah rusak sekalipun masih mungkin memiliki bagian yang berguna. Sebuah kapal yang sudah buruk, lapuk, atau tidak dapat dipakai lagi, masih menyisakan paku atau bagian tertentu yang dapat dimanfaatkan. Namun, ungkapan ini kemudian diarahkan sebagai perbandingan tajam terhadap manusia yang rusak akhlak dan budinya. Jika benda rusak masih dapat diambil manfaatnya, maka manusia yang kehilangan akhlak, adab, dan budi pekerti justru dapat menjadi beban bagi kehidupan sosial. Dalam masyarakat, nilai seseorang tidak hanya diukur dari kekayaan, kedudukan, atau kekuatan fisik, tetapi terutama dari keluhuran perangai, kejujuran, tanggung jawab, dan manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Hadih maja ini menjadi nasihat moral agar manusia menjaga akhlak dan budi, sebab kerusakan batin dan perilaku dapat membuat seseorang kehilangan nilai sosialnya di mata masyarakat.

12 / 40
Kartu #13 dari 40

Sikap berlebihan lalai

Bu sikai, ie sikai, ngob jantông gadöh akai

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Nasi sebatok, air sebatok, terbenam jantung hilang akal"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang tidak berlebihan dalam memenuhi keinginan jasmani, terutama dalam hal makan dan minum. Ungkapan “bu sikai, ie sikai” menggambarkan keadaan makan dan minum yang terlalu banyak, sehingga tubuh menjadi berat, pikiran melemah, dan akal tidak bekerja sebagaimana mestinya. Dalam kehidupan sosial, kekenyangan atau sikap berlebihan dapat membuat seseorang lalai, kurang waspada, malas bergerak, dan tidak mampu mengambil keputusan dengan jernih. Selain itu, hadih maja ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang menghadapi kesukaran karena persediaan yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan pentingnya hidup secukupnya, menjaga keseimbangan, dan mengatur kebutuhan secara bijak agar manusia tidak kehilangan kejernihan pikiran dalam menghadapi persoalan hidup.

13 / 40
Kartu #14 dari 40

Bermuka dua

Bubèe dua jab seureukab dua muka, keunoe pi toe keudéh pi rab bandua pat meuteumèe laba

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Lukah dua muka kandang dua muka, ke sini pun dekat kesana pun dekat kedua tempat mendapat laba"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perilaku orang yang tidak memiliki keteguhan sikap dan cenderung berpihak sesuai kepentingannya sendiri. Ia dapat berbicara lain di belakang dan lain pula di depan, sehingga di hadapan kawan ia tampak membela kawan, tetapi di hadapan lawan ia pun berusaha mengambil hati lawan. Ungkapan “dua jab” dan “dua muka” menjadi simbol kepalsuan, kelicikan, dan sikap mencari keuntungan dari dua arah sekaligus. Dalam kehidupan sosial, orang seperti ini sering sulit dipercaya karena tidak benar-benar berdiri di atas kejujuran, melainkan di atas perhitungan laba pribadi. Hadih maja ini juga dapat ditujukan kepada orang yang tampak berbuat baik di antara dua pihak yang bermusuhan, tetapi kebaikannya bukan lahir dari ketulusan untuk mendamaikan, melainkan karena berharap memperoleh keuntungan dari kedua belah pihak. Karena itu, ungkapan ini menjadi peringatan agar manusia menjaga kejujuran, kesetiaan, dan kejelasan sikap dalam pergaulan masyarakat.

14 / 40
Kartu #15 dari 40

Berkata jujur

Peugah ubé buet, seubut ubé na

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sebutkanlah yang sebenarnya, sebutkan seadanya."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang berkata jujur dan menyampaikan sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ungkapan “peugah ubé buet” menekankan pentingnya menceritakan suatu peristiwa sebagaimana ia terjadi, tanpa dilebih-lebihkan, dikurangi, atau diputarbalikkan. Sementara “seubut ubé na” mengajarkan agar seseorang menyebut sesuatu apa adanya, sesuai fakta yang diketahui. Dalam kehidupan sosial, kejujuran menjadi dasar kepercayaan antaranggota masyarakat. Apabila seseorang terbiasa berdusta, menyembunyikan kebenaran, atau mengubah cerita demi kepentingan pribadi, maka hubungan sosial akan rusak dan kepercayaan masyarakat akan hilang. Hadih maja ini menjadi tuntunan moral agar manusia menjaga lisan, tidak menyebarkan kebohongan, dan berani menyampaikan kebenaran secara jernih, adil, dan bertanggung jawab.

15 / 40
Kartu #16 dari 40

Bertindak tanpa berpikir

Walanca-walancé, awai tapubuet dudoe tapiké

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Dikerjakan lebih dahulu, kemudian dipikir"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perilaku seseorang yang bertindak terburu-buru tanpa mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Ungkapan “awai tapubuet dudoe tapiké” menunjukkan sikap yang keliru, yaitu pekerjaan dilakukan terlebih dahulu, sementara pertimbangan baru datang kemudian setelah akibatnya muncul. Dalam kehidupan sosial, tindakan seperti ini sering menimbulkan masalah, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, karena keputusan yang diambil tidak didasarkan pada pertimbangan matang, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Hadih maja ini juga dapat ditujukan kepada orang yang serakah, yaitu orang yang hanya mengejar keinginan atau keuntungan sesaat tanpa memikirkan dampak buruk yang mungkin terjadi. Karena itu, ungkapan ini menjadi nasihat agar manusia berpikir sebelum bertindak, menimbang baik dan buruknya suatu perbuatan, serta tidak membiarkan hawa nafsu dan keserakahan menguasai akal sehat

16 / 40
Kartu #17 dari 40

Budi baik pada orang lain

Tapula bugak di ateueh beunteueng, bugak maté beunteueng pi patah, tapula guna bak aneuk ureueng, bak aneuk bajeueng guna han leumah

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Menanam bugak di atas palang, bugak mati palang pun patah. Menanam guna pada anak orang, pada anak jadah guna tak nampak"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa kebaikan atau budi yang diberikan kepada seseorang tidak selalu berbalas dengan kebaikan yang sama, sebab balasan itu sangat bergantung pada akhlak orang yang menerimanya. Apabila budi ditanam pada orang yang baik, maka kebaikan itu akan dikenang, dihargai, dan suatu saat dapat kembali dalam bentuk penghormatan, bantuan, atau kesetiaan. Sebaliknya, apabila kebaikan diberikan kepada orang yang buruk perangai, tidak tahu balas budi, dan tidak memiliki kesadaran moral, maka kebaikan itu sering tidak tampak hasilnya. Bahkan, orang seperti itu bukan hanya melupakan budi, tetapi dapat pula membalasnya dengan keburukan. Perumpamaan “tapula bugak di ateueh beunteueng” menunjukkan pekerjaan yang sia-sia, karena tanaman tidak tumbuh pada tempat yang tepat, bahkan tempatnya pun ikut rusak. Dengan demikian, hadih maja ini mengajarkan pentingnya mengenali watak manusia dalam pergaulan sosial, tetap berbuat baik, tetapi juga bijak dalam menaruh kepercayaan dan memberikan kebaikan agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak berakhlak.

17 / 40
Kartu #18 dari 40

Jangan merebut hak orang

Nibak gob duek bèk gata kubang, bungong lam reugam bèk gata hila

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Pada tempat orang duduk jangan kau daulat, bunga dalam genggaman jangan kau hela"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang tidak mengambil, merebut, atau mencampuri sesuatu yang sudah menjadi hak dan urusan orang lain. Ungkapan “nibak gob duek bèk gata kubang” menggambarkan larangan menduduki tempat yang telah menjadi kedudukan orang lain, baik dalam arti jabatan, kehormatan, maupun posisi sosial. Sementara “bungong lam reugam bèk gata hila” memberi gambaran bahwa sesuatu yang sudah berada dalam genggaman orang lain tidak pantas ditarik atau direbut secara paksa. Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap merebut hak orang dapat menimbulkan iri hati, permusuhan, konflik, dan rusaknya kepercayaan sosial. Hadih maja ini menegaskan pentingnya adab, batas diri, dan penghormatan terhadap milik, jabatan, serta urusan orang lain. Seseorang harus tahu mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan, sehingga kehidupan sosial dapat berjalan dengan tertib, saling menghargai, dan tidak saling merugikan.

18 / 40
Kartu #19 dari 40

Gurauan jadi pertengkaran

Asai cabok nibak kudé, asai pake nibak seunda.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Asal luka dari kudis, asai pertengkaran dari senda gurau."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa persoalan besar sering kali bermula dari hal kecil yang dianggap remeh. Luka dapat berawal dari kudis yang kecil, tetapi jika tidak dijaga dapat menjadi semakin parah. Demikian pula pertengkaran dalam hubungan sosial sering bermula dari senda gurau, candaan, atau ucapan ringan yang melewati batas. Sesuatu yang pada awalnya hanya main-main dapat berubah menjadi sungguhan apabila menyentuh perasaan, merendahkan harga diri, atau menyinggung kehormatan orang lain. Dalam kehidupan masyarakat, ungkapan ini menjadi nasihat agar seseorang berhati-hati dalam bercanda, menjaga lisan, dan memahami batas kewajaran dalam pergaulan. Tidak semua orang menerima gurauan dengan cara yang sama, sehingga sikap bijak, santun, dan peka terhadap perasaan orang lain sangat penting untuk mencegah lahirnya konflik sosial dari hal-hal kecil.

19 / 40
Kartu #20 dari 40

Tidak campur urusan orang

Gob kab campli geutanyoe keu-eueng, gob meuaneuk geutanyoe madeueng.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Orang makan cabai, kita kepedasan, orang yang beranak, kita yang berdiang."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan ketika seseorang ikut menanggung akibat dari perbuatan atau urusan orang lain, padahal dirinya bukan pelaku utama. Orang lain yang makan cabai, tetapi kita yang merasa pedas; orang lain yang melahirkan, tetapi kita yang ikut berdiang. Kiasan ini menunjukkan ketidakwajaran dalam hubungan sosial, yaitu ketika kesalahan, masalah, atau beban seseorang justru dilimpahkan kepada pihak lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, hal seperti ini dapat terjadi ketika seseorang terlalu ikut campur dalam urusan orang, terlalu mudah terbawa persoalan pihak lain, atau menjadi korban dari tindakan orang yang tidak bertanggung jawab. Hadih maja ini mengingatkan agar manusia berhati-hati dalam melibatkan diri pada masalah orang lain, mampu membedakan mana urusan pribadi dan mana urusan bersama, serta tidak membiarkan diri dijadikan pihak yang menanggung akibat dari perbuatan yang bukan berasal dari dirinya.

20 / 40
Kartu #21 dari 40

Berpikir sebelum bicara

Tamarit keu gob tapeudong naphah dilèe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Mencaci orang tahan nafas dahulu."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang berpikir matang sebelum mencela, menghina, atau memburuk-burukkan orang lain. Mencaci memang mudah dilakukan, karena hanya membutuhkan keberanian lisan, tetapi akibatnya dapat membawa bahaya yang lebih besar, seperti permusuhan, dendam, hilangnya kepercayaan, atau rusaknya hubungan sosial. Ungkapan “tapeudong naphah dilèe” memberi isyarat agar manusia berhenti sejenak, menahan diri, dan mempertimbangkan akibat sebelum mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Dalam kehidupan masyarakat, lisan yang tidak dijaga dapat menjadi sumber konflik, karena hinaan yang telah terucap sulit ditarik kembali dan dapat melukai harga diri orang lain. Hadih maja ini mengajarkan pentingnya pengendalian diri, kesantunan berbicara, dan kebijaksanaan dalam menilai orang lain, sebab menjaga lisan berarti menjaga kehormatan diri sekaligus menjaga ketenteraman sosial.

21 / 40
Kartu #22 dari 40

Selalu ingin menang

Carong that bak tabalék batang, gob beutaloe gata bumeunang.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Pandai sekali menelungkup-menelentangkan, orang biar kalah engkau biar menang."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perilaku seseorang yang pandai membolak-balikkan keadaan, ucapan, atau alasan demi memenangkan dirinya sendiri. Ungkapan “tabalék batang” menjadi kiasan bagi orang yang mampu memutarbalikkan fakta, mengubah arah pembicaraan, atau mencari celah agar dirinya tampak benar, sementara orang lain dibuat salah. Dalam kehidupan sosial, sikap seperti ini sering menimbulkan ketidakadilan, karena yang dicari bukan kebenaran, melainkan kemenangan pribadi. Orang yang selalu ingin menang biasanya sulit menerima nasihat, tidak mau mengakui kesalahan, dan cenderung merugikan orang lain melalui kepintaran berbicara atau kelicikan berpikir. Hadih maja ini menjadi sindiran terhadap orang yang menggunakan kecerdikan bukan untuk memperbaiki keadaan, tetapi untuk mengalahkan orang lain dan mempertahankan kepentingannya sendiri

22 / 40
Kartu #23 dari 40

pudak semarak usia

Boh liméng leumiek asam eungkôt brok, ureueng ka datôk pane lom gura

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Belimbing lembek untuk asam ikan busuk, orang sudah tua mana ada lagi semaraknya."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan pandangan sosial bahwa usia tua sering dikaitkan dengan berkurangnya daya, semarak, dan pengaruh dalam pergaulan masyarakat. Boh liméng leumiek atau belimbing yang sudah lembek dipadankan dengan eungkót brók atau ikan busuk, sebagai kiasan terhadap sesuatu yang telah kehilangan kesegaran dan kekuatannya. Dalam ungkapan ini, orang yang sudah tua dianggap tidak lagi memiliki kegagahan, daya tarik, atau keaktifan seperti masa muda. Namun, makna sosialnya perlu dibaca secara hati-hati. Hadih maja ini bukan untuk merendahkan orang tua, melainkan menggambarkan realitas bahwa setiap fase kehidupan memiliki batas dan perubahannya sendiri. Seseorang yang dahulu kuat, disegani, dan aktif dalam masyarakat, pada masa tua dapat mengalami penurunan tenaga, peran, dan semarak sosial. Karena itu, ungkapan ini juga dapat menjadi pengingat agar manusia tidak sombong ketika muda dan kuat, sebab waktu akan membawa perubahan pada setiap orang.

23 / 40
Kartu #24 dari 40

Hirarki sosial

Bèk tapeusabé kai deungon arè.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jangan menyamakan kal dengan literan beras."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang mengetahui ukuran diri, kedudukan, pengalaman, dan batas kepantasannya dalam kehidupan sosial. Ungkapan “kai” dan “arè” menunjukkan dua alat takaran yang berbeda, sehingga tidak pantas disamakan begitu saja. Secara kiasan, hadih maja ini digunakan untuk menegur orang yang belum memiliki kedudukan, pengalaman, atau kematangan, tetapi ingin menyamakan dirinya dengan orang yang lebih tua, lebih berilmu, atau lebih tinggi tanggung jawabnya. Dalam masyarakat Aceh, penghormatan kepada orang tua, pemimpin, dan orang yang memiliki pengalaman merupakan bagian penting dari adab sosial. Karena itu, anak muda atau orang yang belum cukup memahami suatu persoalan sebaiknya tidak tergesa-gesa ikut campur, apalagi berbicara seolah-olah setara dengan orang yang lebih matang. Namun, maknanya bukan untuk merendahkan siapa pun, melainkan mengajarkan sikap tahu diri, rendah hati, menghormati hierarki sosial, dan menempatkan pendapat sesuai dengan ilmu, pengalaman, serta kepantasan.

24 / 40
Kartu #25 dari 40

Menilai atas perbuatan

Takalön ateueh rupa, tadeungö nyang meusuara.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Melihat dari rupa, mendengar yang bersuara."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengajarkan bahwa penilaian terhadap seseorang tidak cukup hanya berdasarkan penampilan luar, tetapi juga harus dilihat dari perbuatan dan tutur katanya. “Takalon ateueh rupa” menunjukkan bahwa manusia memang sering pertama kali dinilai dari apa yang tampak, seperti sikap, gerak-gerik, dan cara membawa diri. Namun, “tadeungo nyang meusuara” menegaskan bahwa suara, ucapan, dan cara berbicara juga menjadi ukuran penting untuk memahami watak seseorang. Dalam kehidupan sosial, baik buruknya pribadi seseorang akan tampak melalui perilaku, pilihan kata, kesantunan berbicara, serta kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Karena itu, hadih maja ini menjadi nasihat agar manusia menjaga penampilan, sikap, lisan, dan perbuatan, sebab semua itu menjadi cermin budi pekerti di hadapan masyarakat.

25 / 40
Kartu #26 dari 40

Muncul kembali

Karéng thô biléh leuböt, peunyakét söt meu-ulang teuma.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Ikan teri kering, setengah basah, penyakit lama berulang lagi."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan ketika seseorang atau suatu persoalan buruk yang telah lama hilang tiba-tiba muncul kembali dan menimbulkan kegelisahan dalam masyarakat. Ungkapan “peunyakét sot meu-ulang teuma” menjadi kiasan yang kuat tentang penyakit lama yang kambuh, yaitu sesuatu yang dahulu pernah meresahkan, mengganggu, atau merusak ketenteraman sosial, lalu kembali hadir setelah sempat menghilang. Dalam konteks kehidupan masyarakat, hadih maja ini dapat ditujukan kepada orang yang pernah dibenci atau ditolak karena perilakunya yang buruk, kemudian pergi atau diusir, tetapi suatu saat kembali lagi dengan membawa kekhawatiran yang sama. Perbandingan antara karéng thö dan biléh leubot memperkuat gambaran tentang sesuatu yang tidak lagi segar, tidak lagi baik, dan berpotensi membawa masalah. Ungkapan ini menjadi peringatan bahwa masyarakat perlu berhati-hati terhadap munculnya kembali perilaku, tokoh, atau kebiasaan lama yang pernah merusak harmoni sosial, agar luka lama tidak terulang dan ketertiban bersama tetap terjaga.

26 / 40
Kartu #27 dari 40

Budi yang sia-sia

Bak kayèe maté bèk tabôh beunteueng, bak aneuk bajeueng bèk tapula guna.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Pada kayu yang mati jangan dikenakan hamparan, pada anak haramzadah jangan bertanam budi."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang berhati-hati dalam menanam budi atau memberikan kebaikan kepada orang yang tidak memiliki akhlak baik. “Kayèe maté” atau kayu mati menjadi kiasan bagi sesuatu yang tidak lagi memiliki daya hidup, sehingga apa pun yang diletakkan padanya tidak akan menghasilkan manfaat. Demikian pula, “aneuk bajeueng” dalam ungkapan ini menunjuk kepada orang yang buruk perangai, tidak tahu membalas jasa, dan tidak memiliki kesadaran moral untuk menghargai kebaikan orang lain. Dalam kehidupan sosial, kebaikan memang merupakan nilai luhur, tetapi kebaikan juga perlu disertai kebijaksanaan dalam menilai watak manusia. Orang yang jahat bukan hanya tidak membalas budi dengan kebaikan, tetapi kadang-kadang justru membalasnya dengan pengkhianatan, kerugian, atau kejahatan. Hadih maja ini bukan mengajarkan agar manusia berhenti berbuat baik, melainkan mengingatkan agar kebaikan tidak diberikan secara buta kepada orang yang dapat menyalahgunakannya dan merusak hubungan sosial.

27 / 40
Kartu #28 dari 40

Sulit mengubah tabiat

Lagèe tapeuteupat kayèe ceukok.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti meluruskan kayu bengkok."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan betapa sulitnya mengubah perilaku seseorang apabila sifat buruk itu telah melekat kuat menjadi tabiat. Kayu yang sudah bengkok tentu tidak mudah diluruskan; jika dipaksa, bisa saja patah atau tetap kembali pada bentuk asalnya. Demikian pula manusia yang telah terbiasa dengan perilaku buruk, licik, keras kepala, atau suka berbuat jahat, tidak mudah diubah hanya dengan nasihat biasa. Dalam kehidupan sosial, ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan orang yang sulit diperbaiki perangainya, meskipun telah diberi peringatan, arahan, atau kesempatan untuk berubah. Hadih maja ini mengajarkan bahwa pembentukan akhlak sebaiknya dilakukan sejak awal, sebelum kebiasaan buruk mengakar menjadi karakter. Namun, ungkapan ini juga menjadi pengingat agar masyarakat berhati-hati dalam menaruh harapan kepada orang yang sudah berulang kali menunjukkan tabiat buruk, sebab perubahan perilaku membutuhkan kesadaran diri yang kuat, bukan sekadar dorongan dari orang lain.

28 / 40
Kartu #29 dari 40

efek kesalahan satu orang

Saboh keubeue meukubang, ban saboh weue meuleuhob.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seekor kerbau berkubang; sekandang berlumpur."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan ketika kesalahan satu orang dapat membawa dampak buruk kepada kelompok atau masyarakat di sekitarnya. Seekor kerbau yang masuk ke kubangan lumpur tidak hanya mengotori dirinya sendiri, tetapi dapat menyebabkan seluruh kandang ikut berlumpur. Kiasan ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial, perbuatan buruk seseorang sering kali tidak berhenti pada dirinya, melainkan ikut mencemarkan nama keluarga, kelompok, lembaga, atau komunitas tempat ia berada. Karena itu, setiap orang perlu menjaga sikap dan perbuatannya, sebab kesalahan pribadi dapat menimbulkan akibat sosial yang lebih luas. Hadih maja ini juga menjadi peringatan agar masyarakat tidak membiarkan perilaku menyimpang berkembang, karena satu tindakan yang keliru dapat menyeret banyak orang ke dalam persoalan, kecurigaan, atau penilaian buruk dari pihak lain.

29 / 40
Kartu #30 dari 40

Tak Mampu Memimpin

Tayue jak di keue jitóh geuntót, tayue jak di liköt jitrom tumèt.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Disuruh berjalan di muka dia kentut, di suruh berjalan di belakang dia menendang tumit."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perilaku seseorang yang sulit ditempatkan dalam kehidupan sosial karena tidak mampu memimpin, tetapi juga tidak mau dipimpin. Jika diberi posisi di depan, ia tidak menunjukkan keteladanan, bahkan membuat orang lain tidak nyaman. Jika ditempatkan di belakang, ia pun tetap mengganggu, menghalangi, atau merusak langkah orang yang berada di depan. Ungkapan ini menjadi sindiran tajam terhadap orang yang berhati dengki, suka mengacaukan keadaan, dan tidak memiliki kesediaan untuk bekerja sama. Dalam masyarakat, orang seperti ini sering menjadi sumber masalah karena tidak mampu mengambil tanggung jawab, tetapi juga tidak rela melihat orang lain menjalankan peran dengan baik. Hadih maja ini mengajarkan pentingnya sikap rendah hati, tahu posisi, mau bekerja sama, dan mampu menerima kepemimpinan orang lain apabila diri sendiri belum sanggup memimpin.

30 / 40
Kartu #31 dari 40

Bahaya fitnah

Meunyoe tapatéh haba peusuna, aneuk deungön ma jimupaké.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau percaya kabar fitnah, anak dengan ibu bergaduh."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan betapa berbahayanya fitnah dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Ungkapan “haba peusuna” menunjuk pada kabar yang bersifat menghasut, memecah belah, atau merusak hubungan antarorang. Apabila kabar seperti ini dipercaya tanpa diperiksa kebenarannya, maka hubungan yang paling dekat sekalipun dapat hancur, termasuk hubungan antara anak dan ibu. Kiasan ini menunjukkan bahwa fitnah tidak hanya menimbulkan salah paham, tetapi juga dapat merusak kasih sayang, kepercayaan, dan kerukunan sosial. Dalam masyarakat, fitnah sering bekerja secara halus melalui cerita yang dilebihkan, tuduhan yang tidak jelas, atau ucapan yang sengaja diarahkan untuk menimbulkan kebencian. Karena itu, hadih maja ini menjadi nasihat agar manusia tidak mudah percaya pada kabar buruk, selalu memeriksa kebenaran informasi, menjaga lisan, dan tidak ikut menyebarkan cerita yang dapat memecah persaudaraan serta merusak ketenteraman hidup bersama

31 / 40
Kartu #32 dari 40

Tanpa pemimpin

Lagèe aleue putóh ranté.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti lantai nibung yang putus rantai."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan masyarakat yang menjadi kacau apabila tidak memiliki pemimpin atau pengatur yang mampu menjaga keteraturan bersama. Aleue atau lantai yang tersusun memerlukan ikatan agar tetap kuat dan rapi; apabila rantainya putus, susunan itu akan tercerai-berai dan kehilangan kekokohannya. Demikian pula kehidupan sosial membutuhkan kepemimpinan sebagai pengikat, pengarah, dan penjaga keseimbangan di tengah masyarakat. Tanpa pemimpin, orang dapat berjalan menurut kehendaknya masing-masing, aturan menjadi lemah, keputusan bersama sulit diambil, dan perselisihan mudah muncul. Hadih maja ini menegaskan bahwa pemimpin memiliki fungsi penting bukan hanya sebagai pemegang kuasa, tetapi sebagai penjaga ketertiban, pemersatu masyarakat, dan penentu arah kehidupan bersama.

32 / 40
Kartu #33 dari 40

Jasa rakyat, nama raja

Baranggadum raya ie krueng, nyang geubileueng ie kuala. Barang gadum buet rakyat, nyang geubileueng buet raja..

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Berapa besar air sungai yang dihitung air kuala. Waiaupun bagai mana besarnya jasa rakyat jelata, yang dihitung perbuatan raja"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan kenyataan sosial bahwa dalam kehidupan masyarakat, jasa orang banyak sering kali tidak tampak secara langsung, sedangkan nama pemimpin atau penguasa lebih mudah disebut dan dikenang. Air sungai yang besar pada akhirnya dihitung sebagai air kuala, sebagaimana kerja rakyat yang luas dan berat sering dianggap sebagai keberhasilan raja atau pemimpin. Ungkapan ini mengandung kritik halus terhadap sistem sosial yang menempatkan pemimpin sebagai pusat pengakuan, sementara rakyat yang bekerja, berkorban, dan menopang kehidupan bersama kerap berada di belakang layar. Dalam konteks sosial, hadih maja ini mengingatkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak lahir sendiri, tetapi ditopang oleh tenaga, kesetiaan, dan kontribusi masyarakat. Karena itu, pemimpin yang bijak semestinya tidak melupakan jasa rakyat, dan masyarakat pun memahami bahwa kekuasaan selalu berdiri di atas kerja kolektif banyak orang.

33 / 40
Kartu #34 dari 40

Bahaya yang masih mengancam

Meunyoe mantöng reudök di glé, mantöng sabé ie raya teuka.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau masih mendung di gunung, masih selalu datang banjir."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan sosial yang belum benar-benar aman karena sumber persoalan masih ada. Mendung di gunung menjadi tanda bahwa hujan dapat turun kapan saja, dan hujan dari gunung dapat membawa banjir ke tempat yang lebih rendah. Secara kiasan, ungkapan ini digunakan untuk menjelaskan bahwa apabila huru-hara, konflik, permusuhan, atau sumber kekacauan belum sepenuhnya hilang, maka bahaya masih dapat muncul kembali sewaktu-waktu. Dalam kehidupan masyarakat, ketenangan yang tampak di permukaan belum tentu berarti masalah telah selesai, sebab akar persoalan mungkin masih tersimpan dan dapat meledak kembali apabila tidak diselesaikan dengan bijak. Hadih maja ini menjadi peringatan agar masyarakat tidak cepat merasa aman sebelum sebab-sebab kekacauan benar-benar diatasi, serta pentingnya menjaga kewaspadaan, memperkuat perdamaian, dan menyelesaikan masalah sampai ke akarnya agar kehidupan sosial tidak kembali terganggu.

34 / 40
Kartu #35 dari 40

Saat orang marah

Tajak lam reudôk, meu tika brôk han jipeutaba.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Datang pada waktu mendung, tikar buruk pun tak ditawarkan"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan ketika seseorang datang kepada orang lain pada saat suasana hati sedang tidak baik, sehingga keramahan yang biasanya ada menjadi hilang. Ungkapan “lam reudök” atau dalam keadaan mendung menjadi kiasan bagi suasana murung, marah, atau tidak menyenangkan. Sementara “tika brók han jipeutaba” menunjukkan bahwa tikar buruk sekalipun tidak ditawarkan, padahal dalam adat bertamu, menawarkan tempat duduk merupakan bentuk penghormatan dasar kepada tamu. Dalam kehidupan sosial, hadih maja ini mengajarkan pentingnya memahami suasana dan keadaan orang lain sebelum datang menyampaikan maksud, meminta bantuan, atau membicarakan sesuatu. Orang yang sedang marah, kecewa, atau banyak masalah biasanya kehilangan kelembutan sikap dan tidak mampu menerima tamu dengan baik. Karena itu, ungkapan ini menjadi nasihat agar manusia pandai membaca waktu, menjaga adab bertamu, dan memilih saat yang tepat dalam membangun komunikasi sosial.

35 / 40
Kartu #36 dari 40

Orang hina

Ureueng sipèng dua pèng.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Orang sebenggol dua benggol."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan seseorang yang dipandang rendah atau hina dalam kehidupan masyarakat karena perilaku, kedudukan, atau nilai dirinya dianggap tidak terhormat. Ungkapan “sipèng dua pèng” memberi kesan sesuatu yang sangat kecil nilainya, sehingga secara kiasan digunakan untuk menyebut orang yang tidak dihargai dalam pergaulan sosial. Dalam masyarakat, kehormatan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh harta atau pangkat, tetapi juga oleh akhlak, sikap, tutur kata, tanggung jawab, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain. Apabila seseorang berperilaku buruk, tidak menjaga adab, atau tidak memiliki harga diri dalam pandangan masyarakat, maka ia dapat kehilangan penghormatan sosial. Hadih maja ini menjadi peringatan agar manusia menjaga martabat diri, memperbaiki akhlak, dan tidak melakukan perbuatan yang membuat dirinya jatuh dalam pandangan orang banyak

36 / 40
Kartu #37 dari 40

Tidak mencampuri urusan orang lain

Nibak tapeucheue sira gob, gèt tapeucheue sira droeteu.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Dari pada menaungi garam orang, baik menaungi garam sendiri."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang lebih dahulu memperhatikan tanggung jawab, kebutuhan, dan kepentingan dirinya sendiri sebelum terlalu jauh mengurus kepentingan orang lain. Garam dalam ungkapan ini dapat dipahami sebagai sesuatu yang bernilai dan perlu dijaga agar tidak rusak, terutama dari hujan atau keadaan yang dapat membuatnya larut. Karena itu, “menaungi garam sendiri” menjadi kiasan tentang kewajiban menjaga milik, urusan, keluarga, atau tanggung jawab pribadi. Dalam kehidupan sosial, membantu orang lain memang merupakan perbuatan baik, tetapi bantuan itu tidak boleh membuat seseorang lalai terhadap kewajibannya sendiri. Orang yang terlalu sibuk mengurus urusan orang lain, sementara urusan dirinya terbengkalai, pada akhirnya dapat kehilangan keseimbangan hidup. Hadih maja ini mengajarkan sikap bijak dalam menempatkan perhatian: peduli kepada orang lain tetap penting, tetapi tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan amanah pribadi harus tetap didahulukan.

37 / 40
Kartu #38 dari 40

jarak menjaga hormat

Kayém tajak geutiek situek, jareueng taduek geubri tika.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sering-sering datang dicampakkan upih, jarang-jarang datang di berikannya tikar."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa dalam hubungan persaudaraan, persahabatan, atau hubungan sosial lainnya, jarak yang wajar sering membuat penghormatan tetap terjaga. Jika seseorang terlalu sering datang ke rumah orang lain, lama-kelamaan kehadirannya dapat dianggap biasa, bahkan penghormatan yang diberikan menjadi berkurang. Hal ini digambarkan dengan ungkapan “geutiek situek”, yaitu hanya dicampakkan upih sebagai alas, bukan tikar yang layak. Sebaliknya, orang yang jarang datang biasanya lebih dirindukan, lebih dihargai, dan disambut dengan penghormatan yang lebih besar, sebagaimana digambarkan dengan “geuori tika”, yaitu diberikan tikar sebagai bentuk pemuliaan tamu. Hadih maja ini bukan melarang silaturahmi, tetapi mengajarkan adab dalam menjaga hubungan sosial: bertamu perlu tahu waktu, tahu batas, dan tidak berlebihan, agar keakraban tidak berubah menjadi kejenuhan dan penghormatan tetap terpelihara.

38 / 40
Kartu #39 dari 40

banyak bicara kosong

Lagèe ureueng pèh tông soh.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti orang memukul tong kosong."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan seseorang yang banyak berbicara, tetapi isi pembicaraannya tidak memiliki nilai, manfaat, atau dasar yang kuat. Tong kosong apabila dipukul akan mengeluarkan bunyi yang nyaring, tetapi di dalamnya tidak berisi apa-apa. Demikian pula dalam kehidupan sosial, ada orang yang tampak menonjol karena banyak bicara, suka membuat keributan, atau ingin didengar oleh orang lain, namun perkataannya tidak disertai ilmu, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Ungkapan ini menjadi sindiran terhadap orang yang lebih mengutamakan suara daripada isi, lebih suka berbicara daripada berpikir, dan lebih ingin tampak hebat daripada memberikan manfaat. Hadih maja ini mengajarkan agar manusia menjaga lisan, berbicara seperlunya, serta memastikan bahwa setiap ucapan mengandung kebenaran, kebaikan, dan kegunaan bagi masyarakat

39 / 40
Kartu #40 dari 40

pasangan serasi

Tamsé tumpoe deungön bu leukat, misé meuseukat deungön soekaya.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seumpama tumpoe dengan ketan, seumpama meuseukat dengan serikaya."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan hubungan yang sangat serasi, cocok, dan saling melengkapi antara dua pihak. Tumpoe dengan bu leukat serta meuseukat dengan soekaya merupakan pasangan makanan yang dipandang sesuai dan nikmat apabila dipadukan. Secara kiasan, ungkapan ini dapat digunakan untuk menyebut hubungan antarmanusia yang harmonis, baik dalam persahabatan, persaudaraan, kerja sama, maupun kehidupan rumah tangga. Dua orang yang memiliki kesesuaian watak, tujuan, sikap, atau kepentingan akan mudah membangun hubungan yang baik karena masing-masing saling mendukung dan tidak saling bertentangan. Dalam kehidupan sosial, keserasian seperti ini menjadi dasar penting bagi terbangunnya kebersamaan, kepercayaan, dan kerja sama yang kuat. Hadih maja ini mengajarkan bahwa hubungan yang baik bukan hanya karena kedekatan, tetapi karena adanya kecocokan nilai, saling memahami, dan kemampuan untuk saling melengkapi.

40 / 40

Daftar Kartu Belajar

40 Entri
Kemajuan Anda: 0/40
Buku Bersuara (Audio Companion): Dengarkan pelafalan otentik bahasa Aceh untuk hadih yang sedang Anda baca.

Membuka Lembaran Modul Digital...

Memuat dokumen resmi Dana Indonesiana

Pratinjau Memerlukan Bantuan

Browser Anda sedang memproses dokumen ini. Anda tetap dapat membaca langsung di tab baru atau mengunduh PDF resminya.

Hal. 1 / 1
Pelajari lebih dalam materi ini dengan fitur interaktif lainnya:
Rencana Ajar Singkat

Alur Pembelajaran 45 Menit

Skenario pembelajaran fleksibel untuk guru mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) atau Wali Kelas:

1. Kegiatan Pendahuluan ± 5 Menit
  • Guru membuka sesi dan melafalkan hadih maja dalam bahasa Aceh yang akan dipelajari.
  • Guru memberikan pertanyaan pemantik yang relevan dengan pengalaman sehari-hari siswa.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran kartu dan nilai karakter yang ingin dicapai.
2. Kegiatan Inti ± 25 - 30 Menit
  • Siswa melafalkan teks Aceh dibantu rekaman audio otentik pada platform hadihmaja.com.
  • Guru menjelaskan makna tersurat dan tersirat sesuai tingkat pemahaman peserta didik.
  • Siswa berdiskusi dalam kelompok kecil menjawab Pertanyaan Diskusi secara kontekstual.
  • Siswa melakukan Aktivitas Belajar ringan (menulis refleksi, simulasi peran, atau mini poster).
  • Perwakilan siswa mempresentasikan temuan atau hasil refleksi secara singkat.
3. Kegiatan Penutup ± 10 Menit
  • Guru bersama siswa merangkum intisari nilai karakter yang ditekankan.
  • Siswa melakukan refleksi mandiri: apa hal konkret yang akan diterapkan dalam keseharian.
  • Guru memberikan apresiasi dan penguatan atas keaktifan siswa.
Asesmen Kinerja

Rubrik Penilaian 4 Aspek (Skala 1-4)

Gunakan rubrik berikut untuk menilai diskusi kelompok, esai refleksi, dan tugas kelas:

Aspek Sangat Baik (4) Baik (3)
Pemahaman Makna Hadih Maja Menjelaskan makna hadih maja secara tepat dan mendalam, disertai kaitan yang jelas dengan nilai karakter. Menjelaskan makna hadih maja dengan tepat, namun kaitan dengan nilai belum sepenuhnya mendalam.
Kualitas Jawaban Diskusi / Esai Jawaban logis, runtut, dan didukung alasan serta contoh yang kuat. Jawaban logis dan cukup runtut, dengan alasan yang memadai.
Partisipasi dan Kreativitas Belajar Aktif berpartisipasi dan menunjukkan ide serta inisiatif kreatif dalam menyelesaikan aktivitas. Berpartisipasi aktif namun kreativitas dan inisiatif masih standar.
Keterkaitan dengan Kehidupan Sehari-hari Mampu mengaitkan nilai hadih maja dengan pengalaman nyata secara spesifik dan reflektif. Mampu mengaitkan nilai hadih maja dengan pengalaman sehari-hari secara umum.
Konversi Nilai Akhir: 13–16 = Sangat Baik, 9–12 = Baik, 5–8 = Cukup, 1–4 = Perlu Bimbingan.
Evaluasi Mandiri

Kuis Pemahaman: Sosial

Uji pemahamanmu setelah mempelajari kartu-kartu hadih maja di atas.

10 Soal Pilihan Ganda

1 Hadih maja "Persatuan masyarakat" (Meuseuraya bak gampông, meupakat bak meunasah) mengajarkan bahwa kekuatan masyarakat Aceh bertumpu pada...

2 Menurut hadih maja "Musyawarah sebagai jalan keluar", hasil musyawarah yang baik harus dilandasi oleh...

3 Hadih maja "efek kesalahan satu orang" (Saboh keubeue meukubang, ban saboh weue meuleuhob) mengajarkan bahwa...

4 Hadih maja "Tanpa pemimpin" (Lagèe aleue putóh ranté) menggambarkan bahwa masyarakat tanpa pemimpin akan...

5 Menurut hadih maja "Bahaya fitnah", percaya pada kabar fitnah tanpa memeriksa kebenarannya dapat berakibat...

6 Hadih maja "Gurauan jadi pertengkaran" mengajarkan bahwa pertengkaran sosial sering kali bermula dari...

7 Hadih maja "Jasa rakyat, nama raja" mengandung kritik sosial bahwa...

8 Hadih maja "Berkata jujur" (Peugah ubé buet, seubut ubé na) menegaskan bahwa kejujuran menjadi dasar dari...

9 Hadih maja "Jangan merebut hak orang" mengajarkan pentingnya...

10 Hadih maja "tak mampu memimpin" menyindir orang yang...