Modul 05 • Etos Kerja & Kemandirian

Modul Pembelajaran: Ekonomi

Kerja Keras, Kejujuran Usaha, Hemat, & Anti-Kemalasan

Setelah mempelajari bab ini, siswa mampu menjelaskan nilai-nilai ekonomi tradisional masyarakat Aceh yang terkandung dalam hadih maja — mencakup etos kerja, kejujuran dalam bermuamalah, pengelolaan harta, dan kepedulian sosial — serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

40 Kartu Hadih 40 Audio Pelafalan PDF Modul Tersedia RPP & Rubrik Siap
Kartu #1 dari 40

Bertani sumber hidup

Pangulèe hareukat meugoe, pruet teutroe aneuk teuh na

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Penghulu usaha bertani/bersawah; perut kenyang anak pun ada"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa pertanian merupakan sumber penghidupan utama dalam masyarakat Aceh. Ungkapan “pangulèe hareukat meugoe” menunjukkan bahwa bertani atau bersawah dipandang sebagai usaha pokok yang paling mendasar karena menghasilkan bahan makanan utama bagi kehidupan. Sawah dan ladang bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga sumber keberlangsungan keluarga, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat. Kalimat “pruetteu troe aneuk teu na” menggambarkan bahwa apabila kebutuhan pokok terpenuhi, terutama makanan, maka kehidupan keluarga dapat berjalan dengan baik dan generasi dapat tumbuh. Dalam konteks ekonomi tradisional, hadih maja ini memperlihatkan bahwa kemakmuran masyarakat sangat bergantung pada kemampuan mengelola tanah, bekerja tekun, dan menjaga hasil pertanian. Ungkapan ini juga menjadi pengingat bahwa pekerjaan yang menghasilkan kebutuhan dasar manusia memiliki nilai ekonomi dan sosial yang sangat tinggi.

1 / 40
Kartu #2 dari 40

rajin pangkal sejahtera

Tapeujeumöt droe troe pruet.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Rajinlah bekerja, kenyang perut."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa kesejahteraan hidup sangat berkaitan dengan kerajinan, ketekunan, dan kesungguhan dalam bekerja. Ungkapan “tapeujeumot droe” menekankan pentingnya menggerakkan diri, tidak malas, dan tidak hanya menunggu hasil tanpa usaha. Sementara “troe pruet” menjadi simbol terpenuhinya kebutuhan dasar, terutama makanan dan penghidupan keluarga. Dalam kehidupan ekonomi masyarakat, orang yang rajin bekerja lebih besar peluangnya memperoleh rezeki, mencukupi kebutuhan rumah tangga, dan hidup lebih tenang. Hadih maja ini juga mengajarkan bahwa kesenangan hidup tidak datang dengan sendirinya, tetapi lahir dari usaha yang terus-menerus, disiplin, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Karena itu, ungkapan ini menjadi dorongan agar manusia tidak menyerah pada keadaan, melainkan berusaha secara sungguh-sungguh untuk memperbaiki kehidupan.

2 / 40
Kartu #3 dari 40

Takut rugi kecil

Sayang keu sira sijeumpét, teuböh sie saboh beulangong.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sayang pada garam sejemput, terbuang daging sebelanga."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan sikap keliru dalam mengelola kebutuhan, harta, atau usaha, yaitu terlalu takut mengeluarkan biaya kecil sehingga akhirnya mengalami kerugian yang jauh lebih besar. Garam sejempit nilainya kecil, tetapi sangat penting untuk membuat masakan menjadi baik. Jika seseorang terlalu sayang menggunakan sedikit garam, maka daging sebelanga dapat menjadi tidak enak, rusak, atau terbuang sia-sia. Dalam kehidupan ekonomi, ungkapan ini mengajarkan pentingnya perhitungan yang tepat, bukan sekadar hemat secara berlebihan. Ada pengeluaran kecil yang justru perlu dilakukan agar pekerjaan, usaha, atau hasil yang lebih besar dapat terselamatkan. Orang yang terlalu takut rugi sedikit kadang kehilangan peluang besar, merusak kualitas pekerjaan, atau membiarkan modal yang lebih besar terbuang. Karena itu, hadih maja ini menjadi nasihat agar manusia mampu membedakan antara hemat dan kikir, antara penghematan yang bijak dan sikap terlalu pelit yang akhirnya merugikan diri sendiri.

3 / 40
Kartu #4 dari 40

pekerjaan sia sia

Tumpang angén ngön puréh

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Menahan angin dengan lidi"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan pekerjaan atau usaha yang dilakukan tanpa perhitungan yang matang, sehingga tidak mungkin memberikan hasil yang bermanfaat. Angin adalah sesuatu yang besar, bergerak bebas, dan tidak mudah ditahan, sedangkan puréh atau lidi adalah benda kecil dan lemah. Perbandingan ini menunjukkan ketidakseimbangan antara masalah yang dihadapi dengan alat, tenaga, atau cara yang digunakan untuk mengatasinya. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini dapat dimaknai sebagai peringatan agar seseorang tidak membuang tenaga, waktu, dan modal pada pekerjaan yang sejak awal tidak memiliki peluang berhasil. Usaha harus disertai perhitungan, kemampuan, strategi, dan sarana yang memadai. Apabila seseorang memaksakan diri mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kekuatan dan kondisi yang dimiliki, maka hasilnya hanya akan menjadi pekerjaan sia-sia. Hadih maja ini mengajarkan pentingnya berpikir realistis, memilih usaha yang mungkin dijalankan, dan tidak menghabiskan sumber daya untuk sesuatu yang tidak membawa faedah.

4 / 40
Kartu #5 dari 40

angan angan

Tasukat asab, ta-uké langét

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Menakar asap, mengukir langit"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan sikap seseorang yang terlalu larut dalam angan-angan, mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai, atau mengerjakan pekerjaan yang sejak awal tidak memiliki dasar keberhasilan. Asab atau asap tidak dapat ditakar karena bentuknya tidak tetap dan mudah hilang, sementara langet atau langit tidak mungkin diukir karena berada jauh di luar jangkauan manusia. Kiasan ini menunjukkan pekerjaan yang tidak berpijak pada kenyataan, hanya dibangun di atas harapan kosong tanpa perhitungan, kemampuan, dan jalan yang jelas. Dalam konteks ekonomi, hadih maja ini menjadi peringatan agar seseorang tidak menggantungkan hidup pada mimpi yang tidak realistis, rencana usaha yang tidak masuk akal, atau harapan memperoleh keuntungan tanpa kerja nyata. Orang yang terus mengejar sesuatu yang mustahil pada akhirnya dapat menghabiskan waktu, tenaga, dan modal, bahkan jatuh dalam kesusahan. Karena itu, ungkapan ini mengajarkan pentingnya berpikir realistis, mengukur kemampuan diri, dan memilih pekerjaan atau usaha yang benar-benar mungkin menghasilkan manfaat.

5 / 40
Kartu #6 dari 40

Memudahkan pekerjaan

Geusaja peugöt aweuek bèk tutông jaroe, geumeu-aneuk bèk payah droe

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sengaja membuat sendok agar tangan tidak terbakar, beranak jangan menyusahkan diri"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menjelaskan bahwa setiap pekerjaan, alat, atau tindakan dalam kehidupan manusia biasanya memiliki tujuan tertentu, terutama untuk meringankan beban dan memudahkan urusan. Sendok dibuat agar tangan tidak langsung terkena panas ketika mengambil makanan atau memasak; artinya, manusia menciptakan alat untuk melindungi diri dan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Demikian pula ungkapan “geumeu-aneuk bèk payah droe” menggambarkan harapan bahwa anak, keluarga, atau generasi penerus dapat menjadi penolong dalam kehidupan, bukan semata-mata beban. Dalam konteks ekonomi, hadih maja ini mengajarkan pentingnya kecerdikan, perencanaan, dan penggunaan sarana yang tepat agar pekerjaan tidak dilakukan secara berat dan sia-sia. Manusia perlu mencari cara, alat, dan sistem yang dapat membuat usaha lebih efisien, mengurangi risiko, serta memperkuat keberlangsungan hidup keluarga. Ungkapan ini juga menunjukkan bahwa dalam masyarakat tradisional Aceh, kerja tidak hanya dipahami sebagai tenaga fisik, tetapi juga sebagai kemampuan berpikir untuk menciptakan kemudahan dan manfaat.

6 / 40
Kartu #7 dari 40

kreatif

Encien bak putu, bèk tasôk bak giték. aneuk bak gundék bèk tabôh keu raja

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Cincin di jari manis, jangan dipakai di kelingking, anak dari gundik/ selir jangan ditabalkan jadi raja"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar sesuatu ditempatkan sesuai dengan kedudukan, kelayakan, dan kepantasannya. Cincin yang semestinya dipakai pada jari manis tidak pantas dipindahkan ke tempat yang tidak sesuai, sebagaimana jabatan, pangkat, atau tanggung jawab besar tidak layak diberikan kepada orang yang tidak memenuhi syarat. Dalam konteks ekonomi dan kehidupan organisasi, ungkapan ini menekankan pentingnya menempatkan orang berdasarkan kemampuan, keahlian, integritas, dan kepantasan, bukan karena kedekatan, asal-usul, atau kepentingan tertentu. Apabila suatu pekerjaan atau kedudukan diberikan kepada orang yang tidak layak, maka urusan dapat rusak, keputusan menjadi keliru, dan masyarakat atau lembaga akan menanggung akibatnya. Hadih maja ini mengajarkan bahwa keteraturan hidup hanya dapat terjaga apabila setiap amanah diberikan kepada pihak yang tepat, sehingga pekerjaan berjalan baik dan tidak menimbulkan kerugian

7 / 40
Kartu #8 dari 40

efisiensi waktu kerja

Sibak geutak, siplôh bak reubah

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sebatang dipotong sepuluh batang yang rebah"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan pekerjaan yang dilakukan dengan cara tepat sehingga menghasilkan manfaat yang banyak sekaligus. Satu batang yang dipotong, tetapi sepuluh batang ikut rebah, menjadi kiasan tentang suatu tindakan yang berdampak luas dan menyelesaikan beberapa urusan dalam waktu bersamaan. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini mengajarkan pentingnya kecerdasan bekerja, strategi, dan efisiensi. Seseorang tidak hanya dituntut bekerja keras, tetapi juga perlu bekerja cerdas agar tenaga, waktu, dan modal yang dikeluarkan menghasilkan manfaat yang lebih besar. Hadih maja ini juga dapat dipahami sebagai dorongan untuk memilih langkah yang produktif, yaitu pekerjaan yang tidak hanya menyelesaikan satu masalah, tetapi sekaligus membuka peluang, mengurangi beban lain, dan memberi keuntungan tambahan. Dengan demikian, ungkapan ini menekankan nilai efektivitas dalam bekerja dan pentingnya perencanaan agar usaha kecil dapat menghasilkan dampak ekonomi yang besar

8 / 40
Kartu #9 dari 40

Sumber mata pencaharian

Pat nyang na boh kayèe masak, keunan meusapat cicém.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Di mana ada buah-buaha nmasak, ke sana berkumpul burung."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa tempat yang memiliki sumber penghidupan, peluang kerja, atau kemudahan mencari rezeki akan selalu menarik banyak orang untuk datang. Buah kayu yang masak menjadi simbol sumber makanan, hasil, atau keuntungan yang siap dinikmati, sedangkan burung yang berkumpul melambangkan manusia yang mendatangi tempat yang menjanjikan kehidupan lebih baik. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung bergerak menuju wilayah, pekerjaan, atau lingkungan yang menyediakan kesempatan memperoleh penghasilan. Di tempat yang subur, ramai perdagangan, banyak lapangan kerja, atau mudah mencari nafkah, orang akan datang, menetap, dan membangun kehidupan. Hadih maja ini juga mengingatkan bahwa pusat ekonomi biasanya lahir dari adanya sumber daya yang nyata, baik berupa hasil alam, pasar, usaha, maupun peluang kerja. Karena itu, suatu daerah yang ingin berkembang perlu menciptakan sumber penghidupan yang kuat agar menjadi tempat yang hidup, produktif, dan mampu menarik kegiatan ekonomi masyarakat.

9 / 40
Kartu #10 dari 40

Manfaatkan kesempatan

Tapeudöng suwé untông na angèn, tameu-'èn untông na muda.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Mendirikan titiran (bolang-baling) selagi ada angin, bermain selagi muda."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar setiap orang pandai memanfaatkan kesempatan ketika peluang itu masih terbuka. Suwé atau titiran/baling-baling hanya dapat berputar dan berfungsi apabila ada angin; karena itu, mendirikannya harus dilakukan pada saat angin masih ada. Secara kiasan, ungkapan ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan ekonomi, seseorang tidak boleh menyia-nyiakan waktu, tenaga, usia, dan kesempatan yang dimiliki. Masa muda, misalnya, adalah masa yang tepat untuk belajar, mencari kepandaian, membangun keterampilan, dan mempersiapkan mata pencaharian agar kelak mampu berdiri sendiri. Apabila kesempatan itu dibiarkan berlalu, maka seseorang dapat mengalami kesulitan ketika usia, tenaga, atau peluang sudah tidak lagi mendukung. Hadih maja ini menekankan pentingnya kesiapan, ketekunan, dan kecerdasan membaca waktu, sebab keberhasilan hidup sering ditentukan oleh kemampuan menggunakan kesempatan pada saat yang tepat.

10 / 40
Kartu #11 dari 40

Usaha membawa hasil

Meu-ék ta ayon ngon taantök, lam bak jôk ji teubit nira

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jika sanggup mengayun dan membentur, dalam batang ijuk keluar air nira"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa hasil hanya akan diperoleh apabila seseorang mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Batang ijuk atau pohon enau tidak akan mengeluarkan air nira dengan sendirinya tanpa proses kerja, seperti mengayun, membentur, menyadap, dan mengolahnya dengan cara yang tepat. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini menegaskan bahwa rezeki tidak cukup hanya diharapkan, tetapi harus dicari melalui ikhtiar, keterampilan, ketekunan, dan kesabaran dalam bekerja. Sesuatu yang tampak keras atau sulit sekalipun dapat menghasilkan manfaat apabila dikerjakan oleh orang yang tahu caranya dan mau bersusah payah. Hadih maja ini juga mengajarkan bahwa alam menyediakan sumber penghidupan, tetapi manusia tetap harus menggerakkan tenaga dan akalnya untuk mengambil manfaat secara halal. Karena itu, keberhasilan ekonomi sangat bergantung pada kemauan untuk bekerja, kemampuan mengolah peluang, dan kesungguhan menjalani proses sampai menghasilkan.

11 / 40
Kartu #12 dari 40

Pandai mencari peluang

Meunyoe keumeung kaya, sang brôh tamat pi jeuet keu péng

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau hendak kaya, sampah pun dipegang jadi uang"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat tentang pentingnya kecerdikan, kreativitas, dan kemauan bekerja dalam mencari rezeki. Ungkapan “sang bróh tamat pi jeuet keu pèng” menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak tidak bernilai, seperti sampah atau barang buangan, dapat berubah menjadi sumber penghasilan apabila dikelola dengan akal, keterampilan, dan usaha yang sungguh-sungguh. Dalam konteks ekonomi, hadih maja ini menegaskan bahwa kekayaan atau kesejahteraan tidak selalu lahir dari modal besar, tetapi juga dari kemampuan melihat peluang pada hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain. Orang yang ingin maju harus rajin, tidak gengsi bekerja, mampu memanfaatkan sumber daya di sekitarnya, serta kreatif mengubah sesuatu yang sederhana menjadi bernilai. Ungkapan ini juga mengajarkan bahwa rezeki terbuka bagi orang yang mau berpikir, bergerak, dan tidak memandang rendah pekerjaan apa pun selama dilakukan secara halal dan bermanfaat

12 / 40
Kartu #13 dari 40

Pentingnya perencanaan

Ingat keu laku han meuteumèe jak, ingat keu sigak han meuteumèe ba.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Ingat akan laku tak dapat bepergian, ingat akan pakaian tak dapat dibawa."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan orang yang terlalu banyak pertimbangan sehingga kehilangan kesempatan untuk bergerak dan berusaha. Berpikir sebelum bertindak memang penting, tetapi apabila pertimbangan dilakukan secara berlebihan, seseorang justru dapat tertinggal dalam pekerjaan, usaha, atau peluang ekonomi. Ungkapan “ingat keu laku han meuteumèe jak” menunjukkan bahwa orang yang terlalu sibuk memikirkan cara berjalan akhirnya tidak jadi melangkah, sedangkan “ingat keu sigak han meuteumèe ba” menggambarkan orang yang terlalu memikirkan perlengkapan atau penampilan sampai tidak mampu membawa sesuatu yang berguna. Dalam kehidupan ekonomi, sikap seperti ini dapat membuat seseorang lambat mengambil keputusan, ragu memulai usaha, dan terlalu terikat pada pendapat atau urusan orang lain. Akibatnya, peluang yang sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi hilang. Hadih maja ini mengajarkan keseimbangan antara pertimbangan dan tindakan: manusia perlu berhati-hati, tetapi juga harus berani melangkah agar tidak tertinggal dalam usaha dan kehidupan

13 / 40
Kartu #14 dari 40

peluang belum pasti

Goh teuntèe inong ngon agam, goh teuntèe talô ngon meunang.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Belum tentu betina atau jantan, belum tentu kalah atau menang."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa hasil dari suatu pekerjaan, usaha, atau perjuangan tidak dapat dipastikan sebelum benar-benar dijalankan. Ungkapan “goh teuntèe talö ngon meunang” menegaskan bahwa kalah dan menang bukan sesuatu yang dapat ditentukan hanya dari perkiraan awal. Dalam konteks ekonomi, seseorang tidak boleh terlalu cepat merasa gagal sebelum mencoba, sebagaimana ia juga tidak boleh terlalu yakin akan berhasil tanpa kerja nyata. Banyak usaha yang tampak kecil dapat berhasil apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sebaliknya pekerjaan yang tampak menjanjikan dapat gagal apabila tidak dikelola dengan baik. Hadih maja ini mengajarkan keberanian untuk memulai, keteguhan dalam berusaha, dan kesadaran bahwa keberhasilan ditentukan oleh proses, strategi, kerja keras, serta keadaan yang berkembang selama pekerjaan itu dilakukan

14 / 40
Kartu #15 dari 40

Pentingnya persiapan

Meungka takeubah mudah bak tacok.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau sudah disimpan, mudah mengambilnya."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat tentang pentingnya membuat persiapan sebelum kebutuhan datang. Sesuatu yang telah disimpan dengan baik akan mudah diambil ketika diperlukan, sehingga seseorang tidak perlu panik, bergantung kepada orang lain, atau mengalami kesulitan mendadak. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini sangat dekat dengan kebiasaan menabung, menyimpan hasil panen, menjaga persediaan makanan, mengatur keuangan, dan menyiapkan kebutuhan masa depan. Orang yang memiliki kebiasaan menyimpan tidak mudah terguncang ketika menghadapi keadaan sulit, karena ia sudah memiliki cadangan untuk digunakan pada saat tertentu. Hadih maja ini mengajarkan sikap hemat, terencana, dan tidak menghabiskan semua hasil yang diperoleh. Rezeki yang didapat hari ini perlu dikelola dengan bijak, sebab kebutuhan hidup tidak selalu datang pada saat kita memiliki kecukupan

15 / 40
Kartu #16 dari 40

Kaya makin bertambah

Nyang meuröt keubeue teumbôn, nyang meukubang keubeue pijuet.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Yang makan rumput adalah kerbau gemuk, yang berkubang kerbau kurus."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan ketimpangan dalam kehidupan ekonomi, yaitu keadaan ketika orang yang sudah memiliki modal, harta, dan kesempatan lebih mudah menambah kekayaannya, sedangkan orang yang lemah atau malas semakin sulit memperbaiki kehidupannya. Kerbau gemuk digambarkan sebagai pihak yang terus mendapat makanan dan bertambah kuat, sementara kerbau kurus justru lebih banyak berkubang dan tidak menghasilkan kemajuan. Dalam kehidupan masyarakat, ungkapan ini dapat dipahami sebagai sindiran terhadap kenyataan bahwa kekayaan sering menarik peluang baru, sementara kemiskinan atau kemalasan dapat membuat seseorang semakin tertinggal. Namun, hadih maja ini juga memberi pelajaran bahwa kesejahteraan tidak datang hanya dengan diam, melainkan perlu usaha, disiplin, dan kemampuan memanfaatkan kesempatan. Orang yang ingin keluar dari kesulitan harus meninggalkan kebiasaan malas, memperbaiki cara bekerja, dan mencari jalan agar tidak terus berada dalam keadaan yang merugikan dirinya sendiri.

16 / 40
Kartu #17 dari 40

Tanggungan semakin bertambah

Ho siuroe, ho rajeuk laju kanöt bu.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Semakin sehari, semakin bertambah besar periuk nasi."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan seorang kepala keluarga yang tanggungannya semakin hari semakin bertambah. Kanèt bu atau periuk nasi menjadi lambang kebutuhan hidup keluarga, terutama kebutuhan makan, nafkah, dan biaya sehari-hari. Ketika jumlah anggota keluarga bertambah, maka kebutuhan pun ikut membesar, baik dalam bentuk makanan, pakaian, pendidikan, tempat tinggal, maupun keperluan sosial lainnya. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga menuntut perencanaan, kerja keras, dan kemampuan mengelola penghasilan secara bijak. Seorang kepala keluarga tidak cukup hanya bekerja untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga perlu memikirkan kebutuhan yang terus berkembang seiring pertumbuhan keluarga. Hadih maja ini menjadi pengingat bahwa bertambahnya keluarga adalah amanah yang membawa kebahagiaan sekaligus tanggung jawab ekonomi yang lebih besar

17 / 40
Kartu #18 dari 40

Berusaha sebelum berhasil

Menyoe meuheut tapajôh bu, tatheun deuek dilèe, menyoe kaya tameu nabsu tahareukat dilèe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau ingin makan nasi, tahan lapar dahulu; kalau ingin kaya, berusaha dahulu"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa setiap keinginan besar membutuhkan usaha, kesabaran, dan kesanggupan menanggung kesulitan lebih dahulu. Orang yang ingin makan nasi harus mampu menahan lapar sampai makanan tersedia, sebagaimana orang yang ingin hidup berkecukupan harus mau bekerja keras sebelum menikmati hasilnya. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini menegaskan bahwa kekayaan, kemapanan, dan keberhasilan hidup tidak datang secara tiba-tiba, tetapi lahir dari proses panjang yang membutuhkan ketekunan, pengorbanan, dan kesabaran menghadapi rasa sulit. Seseorang tidak dapat hanya menginginkan hasil tanpa melewati jalan usaha. Hadih maja ini juga mengajarkan bahwa kesenangan yang baik biasanya didahului oleh kerja keras, sebagaimana panen didahului oleh menanam, merawat, dan menunggu. Karena itu, manusia perlu membangun semangat bekerja, tidak mudah menyerah, dan rela bersusah payah secara halal agar tujuan hidup dan kesejahteraan keluarga dapat tercapai

18 / 40
Kartu #19 dari 40

Mencari peluang kerja

Nabsu keu ramphak taduek keudè, nabsu keu ramè tatrôn u banda.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Ingin semarak duduk di kedai, ingin kepada keramaian turun ke kota."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa manusia kadang memerlukan suasana baru untuk menghilangkan kejenuhan, pikiran kusut, atau tekanan hidup. Kedai dan kota dalam ungkapan ini menjadi simbol tempat berkumpul, bergeraknya aktivitas ekonomi, percakapan, hiburan, dan pergaulan sosial. Dalam konteks ekonomi, kedai dan kota bukan hanya ruang mencari rezeki, tetapi juga ruang bertemu orang, bertukar kabar, melihat peluang, dan menyegarkan pikiran. Seseorang yang terlalu lama berada dalam keadaan sempit, sepi, atau penuh beban dapat memperoleh semangat baru ketika ia keluar, bergaul, dan melihat kehidupan yang lebih ramai. Hadih maja ini mengajarkan bahwa bekerja dan mencari nafkah juga membutuhkan keseimbangan batin. Pikiran yang jernih, suasana hati yang baik, dan pergaulan yang sehat dapat membantu seseorang kembali bersemangat dalam menjalani usaha dan kehidupan.

19 / 40
Kartu #20 dari 40

Besar hidup besar tanggungan

Rayeuk eungkôt rayeuk eumpeuen, rayeuk ureueng rayeuk keureuja.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Besar ikan besar umpan, besar orang besar pula peralatan."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa besar kecilnya kebutuhan hidup seseorang biasanya sejalan dengan tingkat kehidupan, kedudukan, dan tanggung jawab yang dimilikinya. Ikan yang besar memerlukan umpan yang besar pula, sebagaimana orang yang memiliki kedudukan, harta, atau pengaruh lebih besar akan berhadapan dengan kebutuhan, beban, dan urusan yang lebih besar. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini mengajarkan bahwa semakin tinggi taraf hidup seseorang, semakin banyak pula kebutuhan yang harus dipenuhi, baik kebutuhan keluarga, pekerjaan, relasi sosial, maupun tanggung jawab terhadap orang lain. Orang yang kaya mungkin memiliki lebih banyak fasilitas, tetapi juga memiliki pengeluaran, urusan, dan risiko yang lebih besar. Demikian pula orang yang berpangkat tinggi tidak hanya memperoleh kehormatan, tetapi juga memikul tanggung jawab yang lebih berat. Hadih maja ini menjadi pengingat agar manusia tidak hanya melihat kemuliaan, kekayaan, atau jabatan dari sisi enaknya saja, tetapi juga memahami beban ekonomi dan tanggung jawab sosial yang menyertainya

20 / 40
Kartu #21 dari 40

Rajin mengasah usaha

Tajam sikin kayém ta-asah, rancak meugah raya useuha.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Tajam pisau sering diasah, rancak megah besar usaha."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa keberhasilan, kemasyhuran, dan kemajuan hidup tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dibangun melalui usaha yang rajin, tekun, dan terus-menerus. Pisau menjadi tajam karena sering diasah; demikian pula kemampuan, nama baik, dan keberhasilan seseorang akan tumbuh apabila ia terus mengembangkan diri dalam bidang yang ditekuni. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini menekankan pentingnya kerja keras, keterampilan, disiplin, dan kesungguhan dalam menjalankan pekerjaan atau usaha. Orang yang ingin dikenal baik dalam masyarakat, berhasil dalam pekerjaan, atau maju sampai ke luar daerah bahkan luar negeri, harus memiliki ketekunan untuk memperbaiki kemampuan dan memperbesar usahanya. Hadih maja ini juga mengajarkan bahwa reputasi lahir dari proses panjang, bukan dari keinginan semata. Semakin sering seseorang mengasah dirinya melalui pengalaman, latihan, dan kerja nyata, semakin besar pula peluangnya untuk mencapai keberhasilan dan kehormatan dalam kehidupan

21 / 40
Kartu #22 dari 40

kaya jangan pelit

Beuthat tajam misé sikin, geutanyoe gasien syèedara kaya. Uroe dudoe nakeuh pat-pat, geupeu-ék wab ateueh gata.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Biar tajam bagai pisau, kita miskin saudara kaya. Hari kemudian adalah saatnya, ditimpakan bahaya atas saudara."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung sindiran kepada orang kaya yang enggan menolong orang miskin, terutama ketika orang miskin itu masih memiliki hubungan saudara, kerabat, atau kedekatan sosial dengannya. Ungkapan “geutanyoe gasien syèedara kaya” menunjukkan adanya jurang ekonomi antara orang yang hidup susah dan saudaranya yang berkecukupan. Namun kekayaan tidak seharusnya membuat seseorang keras hati, sebab kehidupan manusia selalu berubah. Orang yang hari ini kaya dapat saja menghadapi kesulitan pada masa mendatang, dan pada saat itu ia mungkin memerlukan bantuan dari orang yang dahulu pernah diabaikannya. Hadih maja ini mengajarkan bahwa harta harus disertai kepedulian sosial, kemurahan hati, dan kesadaran bahwa rezeki bukan hanya untuk diri sendiri. Dalam kehidupan ekonomi masyarakat, solidaritas antara yang kaya dan yang miskin menjadi penting agar hubungan sosial tidak rusak oleh kesenjangan, keangkuhan, dan hilangnya rasa persaudaraan.

22 / 40
Kartu #23 dari 40

Harta Tak Pernah Cukup

Lagèe sikriet ngon silumèh.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti sikikir dengan sirakus."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan sifat tamak, kikir, dan tidak pernah merasa cukup terhadap harta yang dimiliki. Orang yang kikir selalu merasa berat mengeluarkan harta, sedangkan orang yang rakus terus ingin menambah dan menguasai lebih banyak. Keduanya sama-sama menunjukkan ketidakseimbangan dalam memandang kekayaan. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini menjadi sindiran kepada orang yang sudah memiliki banyak harta, tetapi masih merasa kurang, enggan berbagi, dan terus mengejar keuntungan tanpa batas. Kekayaan yang seharusnya menjadi sarana untuk mencukupi hidup, membantu keluarga, dan memberi manfaat kepada masyarakat justru berubah menjadi sumber ketamakan apabila tidak dikendalikan oleh akhlak. Hadih maja ini mengajarkan bahwa harta perlu dikelola dengan rasa cukup, syukur, dan kepedulian sosial, sebab orang yang dikuasai oleh kerakusan tidak akan pernah merasa tenang meskipun hartanya terus bertambah

23 / 40
Kartu #24 dari 40

status ekonomi

Meunyoe gasien meukuwien lam tapéh, meunyoe kaya meulia bak waréh.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau miskin bergeliut dalam sabut, kalau kaya mulia pada kaum kerabat."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perbedaan perlakuan sosial yang sering terjadi antara orang miskin dan orang kaya dalam pandangan masyarakat. Orang miskin diibaratkan “meukuwien lam tapéh”, bergelut dalam sabut, yaitu berada dalam keadaan sulit, kusut, dan kurang diperhatikan. Sebaliknya, orang kaya dipandang mulia di tengah kerabat karena harta sering membuat seseorang lebih dihormati, didengar, dan dihargai dalam pergaulan sosial. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini memperlihatkan bahwa kekayaan tidak hanya berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga pada status, kehormatan, dan posisi seseorang dalam keluarga maupun masyarakat. Hadih maja ini mengandung kritik sosial terhadap kebiasaan menilai manusia berdasarkan harta, seolah-olah kemiskinan membuat seseorang rendah, sedangkan kekayaan membuat seseorang mulia. Karena itu, ungkapan ini dapat menjadi pengingat agar masyarakat tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran kehormatan, sebab nilai manusia tetap harus dilihat dari akhlak, budi, tanggung jawab, dan manfaatnya bagi orang lain.

24 / 40
Kartu #25 dari 40

Hidup pas pasan

Uroe tamita malam tapajóh.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Siang dicari malam dimakan."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perbedaan perlakuan sosial yang sering terjadi antara orang miskin dan orang kaya dalam pandangan masyarakat. Orang miskin diibaratkan “meukuwien lam tapéh”, bergelut dalam sabut, yaitu berada dalam keadaan sulit, kusut, dan kurang diperhatikan. Sebaliknya, orang kaya dipandang mulia di tengah kerabat karena harta sering membuat seseorang lebih dihormati, didengar, dan dihargai dalam pergaulan sosial. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini memperlihatkan bahwa kekayaan tidak hanya berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga pada status, kehormatan, dan posisi seseorang dalam keluarga maupun masyarakat.

25 / 40
Kartu #26 dari 40

Keadilan bantuan

Uroe tamita malam tapajôh.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Diberi kepada orang kenyang dipuji di depan mata, diberi kepada orang lapar dimakan api neraka"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung kritik terhadap cara manusia memberi bantuan atau membagikan harta yang tidak tepat sasaran. Orang yang sudah kenyang, berkecukupan, atau tidak terlalu membutuhkan bantuan sering kali hanya membalas dengan pujian di depan mata. Pujian itu mungkin menyenangkan, tetapi tidak memberi nilai moral yang besar karena bantuan tersebut tidak benar-benar menyentuh kebutuhan mendesak. Sebaliknya, apabila bantuan diberikan kepada orang yang lapar, miskin, dan sangat membutuhkan, maka pemberian itu memiliki nilai kemanusiaan dan keagamaan yang jauh lebih tinggi. Ungkapan “jisakeuek apui neuraka” menjadi peringatan keras bahwa mengabaikan orang yang lapar atau salah menempatkan bantuan dapat menjadi kesalahan moral yang berat. Dalam konteks ekonomi, hadih maja ini mengajarkan pentingnya keadilan distribusi, kepedulian kepada fakir miskin, dan ketepatan dalam memberi. Harta seharusnya tidak hanya digunakan untuk mencari pujian dari orang yang sudah mampu, tetapi diarahkan kepada pihak yang benar-benar membutuhkan agar membawa manfaat, keberkahan, dan keadilan sosial

26 / 40
Kartu #27 dari 40

Bergerak membuka rezeki

Gaki jak urat meunari, na tajak na raseuki.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kaki berjalan urat menari, ada berjalan ada rezeki."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa rezeki akan lebih mudah diperoleh oleh orang yang mau bergerak, berusaha, dan tidak hanya berdiam diri. Ungkapan “gaki jak urat meunari” menggambarkan tubuh yang aktif bekerja; kaki melangkah, urat bergerak, dan tenaga digunakan untuk mencari penghidupan. Sementara “na tajak na raseuki” menegaskan bahwa setiap langkah usaha dapat membuka jalan rezeki, baik melalui pekerjaan, perdagangan, pertemuan dengan orang lain, maupun peluang yang tidak terduga. Dalam konteks ekonomi, hadih maja ini mengajarkan bahwa rezeki tidak cukup hanya ditunggu, tetapi harus dijemput dengan ikhtiar, keberanian, dan kesungguhan. Orang yang rajin keluar mencari peluang, bekerja, berdagang, belajar keterampilan, atau membangun jaringan akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk memperoleh hasil. Ungkapan ini juga menjadi dorongan agar manusia tidak menyerah pada keadaan, sebab selama masih mau bergerak dan berusaha secara halal, selalu ada jalan untuk mendapatkan rezeki.

27 / 40
Kartu #28 dari 40

Usaha dan Hemat

Paléh ureueng gasien han torn hareukat, paléh ureueng kaya hana ceureumat.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sial orang miskin tidak pernah berusaha, sial orang kaya tidak cermat."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat ekonomi yang seimbang antara pentingnya bekerja bagi orang yang kekurangan dan pentingnya berhemat bagi orang yang berkecukupan. Orang miskin tidak boleh hanya pasrah pada keadaan tanpa berusaha mencari nafkah, karena kemiskinan akan semakin berat apabila tidak diiringi ikhtiar, keterampilan, dan kemauan bekerja. Sebaliknya, orang kaya pun dapat jatuh dalam kesulitan apabila tidak cermat mengelola harta, boros dalam pengeluaran, dan lalai menjaga sumber penghidupannya. Ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan ekonomi, kemiskinan dan kekayaan sama-sama membutuhkan sikap bijak. Yang miskin perlu giat berusaha agar dapat memperbaiki keadaan, sedangkan yang kaya perlu hemat, teratur, dan penuh perhitungan agar hartanya tidak habis sia-sia. Hadih maja ini mengajarkan bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh banyak atau sedikitnya harta, tetapi juga oleh etos kerja, kecermatan, dan kemampuan mengatur kehidupan secara bertanggung jawab

28 / 40
Kartu #29 dari 40

Pura pura kaya

Tatôb gasien peuleumah kaya.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Menyembunyikan kemiskinan, menampakkan kaya."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perilaku seseorang yang berusaha menampilkan diri seolah-olah kaya, padahal keadaan ekonominya sebenarnya sulit. Ungkapan “tatób gasien” menunjukkan usaha menutupi kemiskinan atau kekurangan, sedangkan “peuleumah kaya” menggambarkan keinginan memperlihatkan kemewahan, kehormatan, atau kemampuan ekonomi di hadapan orang lain. Dalam konteks ekonomi, sikap seperti ini dapat muncul karena gengsi, malu dipandang rendah, atau keinginan memperoleh penghargaan sosial. Namun, perilaku berpura-pura kaya sering membawa dampak buruk, karena seseorang dapat memaksakan diri berbelanja, berutang, atau hidup di luar kemampuan hanya demi menjaga penampilan. Hadih maja ini menjadi nasihat agar manusia hidup jujur sesuai keadaan, tidak diperbudak oleh gengsi, dan tidak menjadikan tampilan luar sebagai ukuran harga diri. Kehormatan seseorang seharusnya dibangun dari kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola hidup secara bijak, bukan dari kemewahan yang dipaksakan.

29 / 40
Kartu #30 dari 40

Bersaing diluar kemampuan

Grôb deut grôb budée surè, grôb nyang kaya, grôb nyang geumadè.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Melompat ikan kecil melompat ikan besar, melompat orang kaya, me lompat pula si melarat."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perilaku seseorang yang memaksakan diri mengikuti gaya hidup, kebiasaan, atau kemampuan orang lain yang lebih kaya, padahal dirinya tidak memiliki kekuatan ekonomi yang sama. Ikan kecil dan ikan besar sama-sama melompat, tetapi kemampuan, tenaga, dan ukuran keduanya tentu berbeda. Demikian pula dalam kehidupan sosial-ekonomi, orang yang hidup pas-pasan tidak seharusnya memaksakan diri bersaing dengan orang kaya dalam semua hal, seperti belanja, pesta, pakaian, kendaraan, atau gaya hidup. Sikap seperti ini sering lahir dari gengsi dan keinginan terlihat setara, tetapi akhirnya dapat membawa kesulitan, utang, dan beban hidup yang lebih berat. Hadih maja ini mengajarkan pentingnya mengukur kemampuan diri, hidup sesuai keadaan, dan tidak menjadikan gaya hidup orang lain sebagai ukuran keberhasilan. Kemuliaan hidup bukan terletak pada kemampuan meniru orang kaya, melainkan pada kecermatan mengatur kebutuhan, bekerja sungguh-sungguh, dan menjaga martabat tanpa memaksakan diri.

30 / 40
Kartu #31 dari 40

Kerja keras sampai berhasil

Grôb beu patah, manoe beu basah.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Melompat hingga patah, mandi hingga basah."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa setiap usaha harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tidak setengah hati, dan tidak berhenti sebelum mencapai hasil. Ungkapan “grób bupatah” menggambarkan keberanian melakukan sesuatu dengan tenaga penuh, sedangkan “manoe bubasah” menunjukkan bahwa jika sudah masuk ke dalam suatu pekerjaan, seseorang harus siap menerima konsekuensinya sampai tuntas. Dalam konteks ekonomi, hadih maja ini menegaskan bahwa keberhasilan tidak lahir dari usaha yang ragu-ragu, malas, atau sekadar mencoba tanpa keseriusan. Orang yang ingin maju dalam pekerjaan, perdagangan, pertanian, atau usaha apa pun harus memiliki tekad, ketekunan, dan kesiapan menghadapi risiko. Ungkapan ini mengajarkan bahwa apabila seseorang sudah memilih jalan usaha, maka ia harus mengerjakannya dengan sepenuh tenaga, sampai pekerjaan itu benar-benar menghasilkan manfaat dan membawa perubahan dalam kehidupannya.

31 / 40
Kartu #32 dari 40

Bersaing melihat kekuatan

Ngon gajah bèk tameudring-dring, ngon hakim bèk tameuseunda.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Dengan gajah jangan bersenggol-senggolan, dengan hakim jangan bersenda-gurau."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang mampu mengukur kekuatan, kemampuan, dan kedudukan dirinya sebelum berhadapan atau bersaing dengan pihak lain. Gajah melambangkan kekuatan besar; bersenggolan dengannya tentu dapat membawa bahaya bagi pihak yang lebih lemah. Sementara hakim melambangkan orang yang memiliki ilmu, kewenangan, dan keahlian; bersenda gurau secara tidak pantas dengannya dapat menimbulkan kerugian karena salah tempat, salah bicara, atau meremehkan orang yang memiliki otoritas. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini mengajarkan agar manusia tidak sembarangan bersaing dengan pihak yang jauh lebih kuat modal, pengalaman, jaringan, atau kekuasaannya tanpa persiapan yang matang. Persaingan yang tidak seimbang dapat menyebabkan kerugian, sebagaimana berbicara tanpa adab kepada orang ahli dapat menjatuhkan diri sendiri. Hadih maja ini bukan mengajarkan rasa takut, tetapi menekankan pentingnya kecermatan membaca posisi, memilih strategi, menghormati keahlian, dan tidak bertindak gegabah dalam usaha maupun pergaulan ekonomi.

32 / 40
Kartu #33 dari 40

Ujian kaya dan miskin

Kaya rab keu kriet, gasien rab keu maksiet.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kaya dekat kepada kikir, miskin dekat kepada maksiat."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa setiap keadaan ekonomi memiliki ujian moralnya masing-masing. Orang kaya sering diuji dengan sifat terlalu hemat, terlalu cermat, dan terlalu halus dalam perhitungan harta, sehingga jika tidak dikendalikan dapat berubah menjadi kikir. Kekayaan yang seharusnya menjadi jalan untuk membantu keluarga, kerabat, dan masyarakat justru dapat membuat seseorang takut berbagi dan terlalu mencintai harta. Sebaliknya, orang miskin diuji oleh tekanan hidup, kekurangan, dan kebutuhan yang mendesak. Dalam keadaan sulit, seseorang dapat tergoda melakukan kesalahan, kejahatan, atau perbuatan yang dilarang demi memenuhi kebutuhan hidupnya, meskipun ia tahu bahwa perbuatan itu tidak benar. Hadih maja ini tidak bermaksud membenarkan kekikiran orang kaya atau kesalahan orang miskin, tetapi mengingatkan bahwa harta dan kemiskinan sama-sama dapat menyeret manusia kepada perilaku tercela apabila tidak disertai iman, akhlak, kesabaran, dan pengendalian diri. Karena itu, orang kaya perlu menjaga kemurahan hati, sedangkan orang miskin perlu menjaga kejujuran dan tetap berusaha mencari rezeki secara halal

33 / 40
Kartu #34 dari 40

Orang kaya tanpa peduli

Ureueng kaya seutia kureueng, ureueng budueng akai hana.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Orang kaya kurang setia, orang dungu akal tak ada."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan dua perilaku yang dianggap bermasalah dalam kehidupan masyarakat, yaitu orang kaya yang kurang peduli kepada orang lain dan orang dungu yang bertindak tanpa menggunakan akal. Ungkapan “ureueng kaya seutia kureueng” menjadi sindiran kepada sebagian orang yang setelah memiliki harta, kedudukan, atau kehidupan yang lebih baik, justru kurang memperhatikan kesusahan orang lain, bahkan kadang-kadang tidak lagi peduli kepada kerabat dan kaum sendiri. Kekayaan yang seharusnya memperluas manfaat sosial dapat berubah menjadi jarak, keangkuhan, dan hilangnya rasa setia apabila tidak disertai akhlak. Sementara itu, “ureueng budueng akai hana” menggambarkan orang yang berkata dan bertindak semaunya tanpa pertimbangan, sehingga perilakunya dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Dalam konteks ekonomi dan sosial, hadih maja ini mengajarkan bahwa harta harus disertai kepedulian, sedangkan tindakan harus disertai akal sehat. Kekayaan tanpa kesetiaan sosial dan perilaku tanpa pertimbangan sama-sama dapat merusak hubungan dalam masyarakat.

34 / 40
Kartu #35 dari 40

Jujur dalam berusaha

Meuh tameutimang, utang tameukira.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Emas sama ditimbang, hutang sama dikira."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung ajaran tentang pentingnya kejujuran, keadilan, dan ketelitian dalam urusan ekonomi. Meuh atau emas melambangkan harta yang bernilai tinggi, sehingga harus ditimbang dengan benar agar tidak ada pihak yang dirugikan. Demikian pula utang harus dihitung secara jelas, tidak dikurangi, tidak dilebihkan, dan tidak disembunyikan. Dalam kehidupan masyarakat, hubungan ekonomi sangat bergantung pada kepercayaan. Apabila timbangan tidak jujur, hutang tidak dihitung dengan benar, atau transaksi dilakukan dengan tipu daya, maka hubungan antarmanusia akan rusak dan kepercayaan sosial akan hilang. Hadih maja ini mengajarkan bahwa harta, jual beli, pinjam-meminjam, dan segala bentuk muamalah harus dijalankan dengan adil, terbuka, dan bertanggung jawab. Keuntungan yang diperoleh dengan cara curang tidak akan membawa keberkahan, sedangkan kejujuran dalam menimbang dan menghitung akan menjaga martabat, memperkuat kepercayaan, dan menciptakan kehidupan ekonomi yang sehat.

35 / 40
Kartu #36 dari 40

Selesaikan baru hitung laba

Bèk takira keu timphiek busôk, 'oh trôh u Ihôk takira laba.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jangan dihitung jenis-jenis uang, sesampainya di tempat hitunglah laba."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar seseorang tidak terlalu cepat menghitung keuntungan sebelum pekerjaan benar-benar selesai. Dalam suatu usaha, perjalanan, perdagangan, atau pekerjaan apa pun, laba dan rugi baru dapat dinilai secara tepat setelah semua proses dilalui dan hasil akhirnya tampak. Jika seseorang terlalu sibuk menghitung keuntungan di tengah jalan, sementara pekerjaannya belum tuntas, ia dapat kehilangan fokus, menjadi terburu-buru, atau bahkan meninggalkan pekerjaan sebelum waktunya. Ungkapan ini juga mengingatkan bahwa pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah sering mendatangkan kerugian, karena tenaga, modal, dan waktu sudah dikeluarkan, tetapi hasil belum sampai pada tujuan. Dalam konteks ekonomi, hadih maja ini mengajarkan pentingnya ketekunan, kesabaran, dan penyelesaian kerja secara utuh. Keuntungan tidak cukup dibayangkan sejak awal, tetapi harus diperjuangkan melalui proses yang tertib sampai pekerjaan selesai.

36 / 40
Kartu #37 dari 40

Terlilit hutang

Utang na'èt keu-ieng.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Utang setinggi pinggang."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan seseorang yang memiliki utang sangat banyak hingga terasa berat untuk ditanggung. Ungkapan “na’èt keu-ieng” atau setinggi pinggang memberi gambaran bahwa utang tersebut sudah menumpuk dan membatasi ruang gerak seseorang dalam kehidupan ekonomi. Orang yang terlilit utang biasanya tidak bebas mengatur penghasilan, karena hasil kerja yang diperoleh harus digunakan untuk membayar tanggungan yang terus menekan. Dalam kehidupan masyarakat, utang yang terlalu banyak dapat menimbulkan kegelisahan, hilangnya ketenangan, rusaknya kepercayaan, bahkan konflik dengan orang lain apabila tidak dikelola dengan jujur dan bertanggung jawab. Hadih maja ini menjadi peringatan agar manusia berhati-hati dalam berutang, tidak hidup di luar kemampuan, dan mampu membedakan antara kebutuhan yang mendesak dengan keinginan yang dapat ditunda. Utang boleh saja menjadi jalan keluar dalam keadaan tertentu, tetapi jika tidak diperhitungkan dengan baik, ia dapat berubah menjadi beban yang mengikat kehidupan.

37 / 40
Kartu #38 dari 40

usaha sungguh-sungguh pasti berhasil

Meugrak jaroe, meu-èk gigoe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Bergerak tangan, kotor gigi."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan sesuatu bagi kehidupan. Ungkapan “meugrak jaroe” menggambarkan tangan yang bergerak untuk bekerja, berusaha, mencari nafkah, atau melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Sementara “meu-èk gigoe” menjadi tanda bahwa dari gerak dan kerja itu seseorang memperoleh hasil yang dapat dimakan atau dinikmati. Dalam konteks ekonomi, hadih maja ini menegaskan bahwa rezeki tidak datang kepada orang yang hanya diam dan menunggu, tetapi kepada orang yang mau bergerak, menggunakan tenaga, keterampilan, dan akalnya. Sekecil apa pun pekerjaan, apabila dilakukan dengan tekun dan halal, tetap dapat memberi hasil. Ungkapan ini juga menjadi dorongan agar manusia tidak malu bekerja, tidak malas berusaha, dan tidak meremehkan pekerjaan sederhana, sebab setiap gerak yang benar dapat membuka jalan bagi terpenuhinya kebutuhan hidup.

38 / 40
Kartu #39 dari 40

Terampil membawa selamat

Menyoe jeuet buet jaroe, ucông duroe pi seulamat, meunyoe han jeuet jaroe, atra lam peutoe pi kiamat.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jika pandai kerja tangan, atas duripun selamat bila tak pandai kerja tangan, milik dalam peti pun tandas"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat bahwa keterampilan, kerajinan, dan kemampuan bekerja merupakan bekal penting dalam kehidupan ekonomi. Orang yang pandai menggunakan tangannya untuk bekerja, berusaha, dan menciptakan sesuatu akan mampu bertahan meskipun berada dalam keadaan sulit. Ungkapan “ucóng duroe pi seulamat” menggambarkan bahwa seseorang yang terampil dan rajin tetap dapat menemukan jalan hidup sekalipun berada di tempat yang keras, sempit, atau penuh tantangan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kemampuan bekerja dan tidak mau berusaha akan mudah jatuh dalam kesusahan, bahkan harta yang sudah tersedia pun dapat habis karena tidak mampu mengelolanya. “Atra lam peutoe pi kiamat” menjadi kiasan bahwa simpanan sebanyak apa pun tidak akan bertahan apabila seseorang tidak memiliki keterampilan, etos kerja, dan kecermatan dalam mencari nafkah. Hadih maja ini mengajarkan bahwa modal hidup bukan hanya harta, tetapi juga keahlian, ketekunan, dan kemauan bekerja secara halal.

39 / 40
Kartu #40 dari 40

Boros membawa rugi

Meunyoe dumnan tapubuet, kapai di laôt pih karam.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau begitu dikerjakan, kapal di laut pun jadi karam."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan akibat buruk dari perilaku boros, ceroboh, dan tidak teratur dalam mengelola kehidupan atau harta. Kapal di laut seharusnya dapat berlayar apabila dikendalikan dengan baik, tetapi jika cara mengurusnya salah, kapal yang besar sekalipun dapat karam. Dalam konteks ekonomi, ungkapan ini menjadi peringatan bahwa harta, usaha, atau penghasilan sebanyak apa pun dapat habis apabila dikelola dengan cara yang buruk. Orang yang hidup boros, tidak memperhitungkan kebutuhan, suka menghamburkan uang, dan memiliki perilaku yang merusak akan mudah jatuh dalam kesusahan. Hadih maja ini mengajarkan pentingnya kecermatan, pengendalian diri, dan tanggung jawab dalam mengatur pengeluaran. Keberhasilan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga, mengelola, dan menggunakan harta secara bijak agar tidak membawa kerugian bagi diri sendiri maupun keluarga.

40 / 40

Daftar Kartu Belajar

40 Entri
Kemajuan Anda: 0/40
Buku Bersuara (Audio Companion): Dengarkan pelafalan otentik bahasa Aceh untuk hadih yang sedang Anda baca.

Membuka Lembaran Modul Digital...

Memuat dokumen resmi Dana Indonesiana

Pratinjau Memerlukan Bantuan

Browser Anda sedang memproses dokumen ini. Anda tetap dapat membaca langsung di tab baru atau mengunduh PDF resminya.

Hal. 1 / 1
Pelajari lebih dalam materi ini dengan fitur interaktif lainnya:
Rencana Ajar Singkat

Alur Pembelajaran 45 Menit

Skenario pembelajaran fleksibel untuk guru mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) atau Wali Kelas:

1. Kegiatan Pendahuluan ± 5 Menit
  • Guru membuka sesi dan melafalkan hadih maja dalam bahasa Aceh yang akan dipelajari.
  • Guru memberikan pertanyaan pemantik yang relevan dengan pengalaman sehari-hari siswa.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran kartu dan nilai karakter yang ingin dicapai.
2. Kegiatan Inti ± 25 - 30 Menit
  • Siswa melafalkan teks Aceh dibantu rekaman audio otentik pada platform hadihmaja.com.
  • Guru menjelaskan makna tersurat dan tersirat sesuai tingkat pemahaman peserta didik.
  • Siswa berdiskusi dalam kelompok kecil menjawab Pertanyaan Diskusi secara kontekstual.
  • Siswa melakukan Aktivitas Belajar ringan (menulis refleksi, simulasi peran, atau mini poster).
  • Perwakilan siswa mempresentasikan temuan atau hasil refleksi secara singkat.
3. Kegiatan Penutup ± 10 Menit
  • Guru bersama siswa merangkum intisari nilai karakter yang ditekankan.
  • Siswa melakukan refleksi mandiri: apa hal konkret yang akan diterapkan dalam keseharian.
  • Guru memberikan apresiasi dan penguatan atas keaktifan siswa.
Asesmen Kinerja

Rubrik Penilaian 4 Aspek (Skala 1-4)

Gunakan rubrik berikut untuk menilai diskusi kelompok, esai refleksi, dan tugas kelas:

Aspek Sangat Baik (4) Baik (3)
Pemahaman Makna Hadih Maja Menjelaskan makna hadih maja secara tepat dan mendalam, disertai kaitan yang jelas dengan nilai karakter. Menjelaskan makna hadih maja dengan tepat, namun kaitan dengan nilai belum sepenuhnya mendalam.
Kualitas Jawaban Diskusi / Esai Jawaban logis, runtut, dan didukung alasan serta contoh yang kuat. Jawaban logis dan cukup runtut, dengan alasan yang memadai.
Partisipasi dan Kreativitas Belajar Aktif berpartisipasi dan menunjukkan ide serta inisiatif kreatif dalam menyelesaikan aktivitas. Berpartisipasi aktif namun kreativitas dan inisiatif masih standar.
Keterkaitan dengan Kehidupan Sehari-hari Mampu mengaitkan nilai hadih maja dengan pengalaman nyata secara spesifik dan reflektif. Mampu mengaitkan nilai hadih maja dengan pengalaman sehari-hari secara umum.
Konversi Nilai Akhir: 13–16 = Sangat Baik, 9–12 = Baik, 5–8 = Cukup, 1–4 = Perlu Bimbingan.
Evaluasi Mandiri

Kuis Pemahaman: Ekonomi

Uji pemahamanmu setelah mempelajari kartu-kartu hadih maja di atas.

10 Soal Pilihan Ganda

1 Hadih maja "Bertani sumber hidup" menegaskan bahwa dalam kehidupan tradisional Aceh, sumber penghidupan utama masyarakat adalah...

2 Menurut hadih maja "rajin pangkal sejahtera" (Tapeujeumöt droe troe pruet), kesejahteraan hidup sangat berkaitan dengan...

3 Hadih maja "Takut rugi kecil" (Sayang keu sira sijeumpét, teuböh sie saboh beulangong) mengajarkan pentingnya membedakan antara...

4 Hadih maja "Pandai mencari peluang" menegaskan bahwa kekayaan dapat lahir dari...

5 Hadih maja "Jujur dalam berusaha" (Meuh tameutimang, utang tameukira) mengajarkan pentingnya kejujuran dalam...

6 Menurut hadih maja "Terlilit hutang" (Utang na'èt keu-ieng), sikap yang perlu dihindari dalam mengelola keuangan adalah...

7 Hadih maja "kaya jangan pelit" mengandung sindiran kepada orang kaya yang...

8 Hadih maja "Boros membawa rugi" (Meunyoe dumnan tapubuet, kapai di laôt pi karam) mengajarkan bahwa harta sebanyak apa pun dapat habis apabila...

9 Hadih maja "Bergerak membuka rezeki" (Gaki jak urat meunari, na tajak na raseuki) menegaskan bahwa rezeki...

10 Hadih maja "Usaha dan Hemat" (Paléh ureueng gasien han torn hareukat, paléh ureueng kaya hana ceureumat) mengajarkan keseimbangan antara...