Modul 02 • Nilai Spiritual

Modul Pembelajaran: Agama

Ketakwaan, Ibadah, Kejujuran, & Keikhlasan

Setelah mempelajari bab ini, siswa mampu menjelaskan nilai-nilai keislaman dan hukum adat-agama yang terkandung dalam hadih maja Aceh — mencakup tauhid, amanah, kesadaran akan hari akhir, dan akhlak — serta menunjukkan sikap yang sesuai dengan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

40 Kartu Hadih 40 Audio Pelafalan PDF Modul Tersedia RPP & Rubrik Siap
Kartu #1 dari 40

Tunduk dan Patuh

Abéh nyawong Tuhan tueng, abéh areuta hukôm pajôh

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Hilang nyawa diambil Tuhan, habis harta dimakan hukum."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa manusia pada dasarnya berada dalam dua ketentuan besar yang tidak dapat dihindari, yaitu kekuasaan Tuhan atas nyawa dan kekuatan hukum atas harta benda. Nyawa sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan, sehingga manusia tidak dapat menentukan sendiri batas hidupnya. Sementara itu, harta kekayaan dapat hilang atau musnah apabila seseorang melanggar aturan, menempuh jalan yang salah, atau terkena akibat dari perbuatannya sendiri. Ungkapan ini juga menggambarkan keadaan orang yang tertimpa malapetaka hingga kehilangan diri dan hartanya sekaligus. Dalam Islam, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa manusia harus menyadari keterbatasannya di hadapan Tuhan dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan agar tidak terjerumus pada tindakan yang melanggar hukum maupun nilai-nilai moral.

1 / 40
Kartu #2 dari 40

Sumber hukum

Adat bak Poteu meureuhôm, hukôm bak Syiah Kuala Kanun bak Putroe Phang, reusam bak Béntara (ureueng kaya-kaya)

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Adat pada paduka almarhum, hukum pada Teungku Syiah Kuala, undang-undang pada Putri Pahang, adat kebiasaan pada Bintara (panglima angkata darat)"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa hukum dan kehidupan masyarakat harus berjalan dalam keteraturan, dengan menempatkan syariat, adat, dan aturan sosial pada fungsi masing-masing. Ungkapan ini juga memperlihatkan kuatnya hubungan antara agama dan tata pemerintahan dalam tradisi Aceh, di mana ulama memiliki posisi penting dalam mengarahkan hukum, sementara adat dan aturan sosial tetap dipelihara sebagai penyangga kehidupan bersama. Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kehidupan yang baik harus dibangun di atas keseimbangan antara otoritas agama, adat, dan pemerintahan, sehingga masyarakat dapat hidup tertib, adil, dan selaras dengan nilai-nilai Islam.

2 / 40
Kartu #3 dari 40

Bertentangan dengan adat dan hukum

Bak adat han jikab, bak hukóm han jitaluem

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Pada adat tidak tergigit, pada hukum tidak terkulum"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan sesuatu perbuatan, sikap, atau keputusan yang tidak dapat dibenarkan, baik menurut adat maupun menurut hukum. Ungkapan “bak adat han jikab” menunjukkan bahwa suatu perkara tidak dapat diterima oleh norma adat, kebiasaan baik, dan kepatutan hidup masyarakat. Sementara “bak hukóm han jitaluem” menegaskan bahwa perkara tersebut juga tidak sesuai dengan hukum, aturan, atau ketentuan agama yang menjadi pedoman hidup. Dalam konteks agama dan budaya Aceh, adat dan hukum tidak dipandang sebagai dua hal yang terpisah secara mutlak, tetapi saling menguatkan dalam menjaga ketertiban, akhlak, dan kehormatan masyarakat. Karena itu, apabila suatu tindakan sudah tidak baik menurut adat dan tidak benar menurut hukum, maka tindakan tersebut harus dijauhi. Hadih maja ini mengajarkan pentingnya menimbang setiap perbuatan dengan ukuran kepatutan sosial dan kebenaran hukum, agar manusia tidak terjerumus pada perilaku yang merusak diri, keluarga, dan masyarakat

3 / 40
Kartu #4 dari 40

Iman

Allah Nabi, wali pèng

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Allah Nabi, wali uang"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini merupakan sindiran tajam terhadap orang yang menjadikan agama dan iman sebagai alat untuk memperoleh keuntungan duniawi, terutama harta atau uang. Ungkapan ini menegaskan bahwa ketika nilai-nilai agama ditukar dengan kepentingan materi, maka yang rusak bukan hanya kejujuran pribadi, tetapi juga martabat moral dan keteguhan iman seseorang. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa harta tidak boleh dicari dengan mengorbankan prinsip, keyakinan, dan kebenaran, sebab agama seharusnya menjadi pedoman hidup yang dijaga kemurniannya, bukan dijadikan sarana untuk meraih manfaat sesaat

4 / 40
Kartu #5 dari 40

Kekuasaan Allah

Allah bri, Allah böh

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Allah memberi, Allah membuang"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia berada dalam kekuasaan dan kehendak Allah, sebab Dia yang memberi dan Dia pula yang mengambil kembali menurut hikmah-Nya. Ungkapan ini mengajarkan bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas apa yang dimilikinya, baik berupa nikmat, kedudukan, kesehatan, maupun harta, karena semua itu pada hakikatnya hanyalah titipan yang dapat datang dan pergi sesuai ketentuan Tuhan. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menanamkan sikap tawakal, rendah hati, dan kesadaran bahwa manusia harus menerima setiap keadaan dengan iman yang teguh, tanpa sombong ketika diberi dan tanpa putus asa ketika kehilangan

5 / 40
Kartu #6 dari 40

Iman

Nyawong hukôm Allah, darah gapah diteuku po

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Nyawa hukum Allah, darah daging kepunyaan tuanku"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan keyakinan bahwa hidup dan mati manusia sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah, sedangkan tubuh dan segala urusan duniawi berada dalam lingkup kekuasaan sesama manusia atau penguasa. Ungkapan ini menunjukkan kesadaran mendalam bahwa nyawa bukan milik manusia yang dapat dipertahankan sesuka hati, melainkan berada di tangan Tuhan yang menentukan ajal setiap makhluk. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menanamkan sikap tawakal, keberanian, dan kepasrahan kepada ketentuan Ilahi, sekaligus mengingatkan bahwa manusia harus hidup dengan kesadaran akan keterbatasannya, karena pada akhirnya segala keputusan tentang hidup dan mati kembali kepada Allah semata.

6 / 40
Kartu #7 dari 40

Rendah hati

Saboh leuek saboh siwah, 'oh jikeuprak putoh taloe; Na sidroe-droe hamba Allah, ija beukah han thèe keudroe

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seekor balam dan seekor rajawali, sayap dibuka tali putus; ada seorang hamba Allah, kain robek tidak mengenal diri"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menyindir manusia yang tidak mengenal diri dan kedudukannya sebagai hamba Allah, sehingga ia cenderung bersikap berlebihan, membanggakan diri, atau menempatkan dirinya lebih tinggi daripada yang semestinya. Gambaran tentang burung yang mengepakkan sayap hingga putus talinya dan sosok yang pakaiannya robek tetapi tidak sadar akan keadaannya sendiri menunjukkan ketimpangan antara kenyataan dan cara seseorang memandang dirinya. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa manusia harus memiliki kesadaran diri, kerendahan hati, dan pemahaman akan keterbatasannya di hadapan Tuhan, karena siapa pun pada hakikatnya hanyalah hamba Allah yang lemah dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

7 / 40
Kartu #8 dari 40

Menjaga amanah

Harah bèk binasa, amanah bek meutuka

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Harapan jangan binasa, amanah jangan berubah"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa amanah merupakan nilai moral yang sangat penting dan harus dijaga dengan teguh dalam kehidupan manusia. Harapan yang tidak hancur dan amanah yang tidak berubah menggambarkan sikap istiqamah, dapat dipercaya, dan setia pada tanggung jawab yang telah dibebankan. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa amanah bukan hanya menyangkut titipan benda atau tugas tertentu, tetapi juga mencakup kejujuran, komitmen, dan kesetiaan terhadap janji, tanggung jawab, serta kewajiban kepada sesama dan kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang mampu menjaga amanah dipandang memiliki integritas moral dan keimanan yang kuat, karena ia tidak mudah berkhianat, tidak menyalahgunakan kepercayaan, dan tetap teguh dalam menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.

8 / 40
Kartu #9 dari 40

Sopan santun

Bèk kamarit meukah-kah, timoh iku jeuet keu gajah. .

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jangan berbicara berkau-kau, tumbuh ekor jadi gajah."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengajarkan pentingnya menjaga sopan santun dalam berbicara agar ucapan tidak berkembang menjadi sumber masalah yang lebih besar. Ungkapan “jangan berbicara berkau-kau, tumbuh ekor jadi gajah” memberi gambaran bahwa perkataan yang kasar, berlebihan, atau tidak terjaga dapat membesar akibatnya, menimbulkan salah paham, pertengkaran, bahkan kerusakan hubungan dengan orang lain. Dalam konteks agama dan etika sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa lisan harus dikendalikan dengan bijak, karena ucapan yang tidak sopan bukan hanya melukai sesama, tetapi juga mencerminkan rendahnya akhlak seseorang. Oleh karena itu, sopan dalam berbicara menjadi tanda kedewasaan, kehormatan diri, dan kemampuan menjaga ketenteraman dalam pergaulan

9 / 40
Kartu #10 dari 40

Iman dan istiqamah

Teutab iman sabab yakin

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Tetap iman karena yakin"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa iman yang kokoh tidak berdiri di atas keraguan, melainkan tumbuh dari keyakinan yang mantap dalam hati. Keyakinan menjadi dasar yang menguatkan seseorang untuk tetap teguh dalam memegang kebenaran, tidak mudah goyah oleh godaan, dan tidak mudah berubah oleh tekanan keadaan. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa keimanan bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi harus berakar pada pemahaman, kepercayaan yang mendalam, dan keteguhan batin, sehingga dari keyakinan itulah lahir sikap istiqamah, ketenangan jiwa, dan keteguhan dalam menjalani hidup sesuai tuntunan agama

10 / 40
Kartu #11 dari 40

Amal lebih penting dari ucapan

Indah haba nibak buet

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Indah cerita daripada perbuatan"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa dalam kehidupan beragama, nilai seseorang tidak diukur dari indahnya ucapan semata, tetapi terutama dari amal dan perbuatan nyata yang dilakukannya. Ungkapan ini menyindir orang yang pandai berkata-kata, menasihati, atau berbicara tentang kebaikan, tetapi tidak membuktikannya dalam tindakan. Dalam ajaran agama, amal menjadi bukti dari keimanan, keikhlasan, dan kebenaran sikap seseorang, sebab kata-kata tanpa perbuatan hanya akan tinggal sebagai hiasan lisan yang tidak memberi manfaat. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa manusia harus menyelaraskan ucapan dengan tindakan, karena kemuliaan akhlak dan kekuatan iman lebih tampak dalam amal daripada dalam kata-kata.

11 / 40
Kartu #12 dari 40

Jangan tertipu kabar

Indah haba nibak rupa

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Indah kabar daripada rupa"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya menilai sesuatu hanya berdasarkan kabar, cerita, atau kesan yang terdengar indah, karena kenyataan sering kali berbeda dari apa yang dibayangkan. Ungkapan ini menegaskan bahwa kabar dapat dibesar-besarkan, diperindah, atau menipu, sehingga seseorang perlu bersikap hati-hati, kritis, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Dalam konteks agama dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai kehati-hatian dalam menerima informasi, pentingnya tabayyun atau memeriksa kebenaran, serta kebijaksanaan dalam menilai sesuatu berdasarkan fakta yang nyata, bukan semata-mata berdasarkan omongan orang. Dengan demikian, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa kedewasaan berpikir terletak pada kemampuan memilah kabar, menguji kenyataan, dan tidak mudah terpesona oleh sesuatu yang hanya tampak baik di permukaan.

12 / 40
Kartu #13 dari 40

Kehidupan saling memberi

Keumudahan ilé tijoh, seulama goh hilang nyawa

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kemudahan mengalir menitik selama belum hilang nyawa"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa selama manusia masih hidup, ia mempunyai kewajiban moral untuk saling memberi, saling membantu, dan saling meringankan beban sesama. Ungkapan “kemudahan mengalir menitik selama belum hilang nyawa” memberi gambaran bahwa kebaikan, pertolongan, dan kemurahan hati seharusnya terus mengalir dalam kehidupan manusia sebagaimana air yang tidak berhenti menetes. Makna yang terkandung di dalamnya bukan hanya tentang bantuan materi, tetapi juga mencakup perhatian, dukungan, tenaga, dan kepedulian sosial yang dapat diberikan kepada orang lain. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa hidup yang baik adalah hidup yang memberi manfaat bagi sesama, sebab kemuliaan manusia tidak hanya terletak pada apa yang dimilikinya, tetapi pada seberapa jauh ia mampu berbagi dan menolong selama hayat masih dikandung badan

13 / 40
Kartu #14 dari 40

Hidup mengikuti aturan

Ban lingkôk krueng, menan ilé ie

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Begitu lekuk sungai, begitu pula mengalirnya air"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa kehidupan tidak berjalan secara bebas tanpa batas, melainkan mengikuti aturan, ketentuan, dan tatanan yang telah ditetapkan, sebagaimana air mengalir mengikuti lekuk sungai. Ungkapan ini menunjukkan bahwa setiap gerak kehidupan memiliki jalurnya sendiri, dan manusia akan hidup lebih baik apabila mampu memahami serta menempatkan diri sesuai aturan yang berlaku. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa manusia harus menyadari adanya sunnatullah, hukum, dan tata nilai yang mengatur kehidupan, sehingga ia tidak hidup semaunya sendiri, tetapi menyesuaikan diri dengan ketentuan yang benar. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai tentang pentingnya ketertiban, kepatuhan, dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup, sebab kehidupan yang terarah dan damai hanya dapat terwujud apabila manusia mau mengikuti aturan yang telah digariskan

14 / 40
Kartu #15 dari 40

Ilmu dan amal

Keu peue carong iku ka lipéh, keu peue aréh meunyoe ka ceudra

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Apa guna pintar ekor sudah tipis, apa guna arif kalau sudah cedera"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa kepandaian dan kearifan tidak akan membawa kehormatan apabila tidak disertai nama baik dan integritas moral. Ungkapan “apa guna pintar” dan “apa guna arif” menunjukkan bahwa ilmu dan kecerdasan dapat kehilangan nilainya ketika seseorang telah rusak kehormatannya, tercela perilakunya, atau hilang kepercayaan orang terhadap dirinya. Dalam kehidupan masyarakat, orang yang berilmu memang dihargai, tetapi penghargaan itu tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki, melainkan juga oleh akhlak, kejujuran, dan keteladanan yang menyertainya. Dalam konteks pendidikan dan agama, Hadih Maja ini menanamkan pesan bahwa ilmu harus dijaga dengan kemuliaan sikap, sebab pengetahuan tanpa kehormatan hanya akan menjadikan seseorang pandai secara lahir, tetapi kosong nilai di mata masyarakat. Dengan demikian, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa kehormatan moral adalah penopang utama bagi ilmu, dan tanpa itu, kepandaian tidak lagi memberi manfaat atau wibawa yang utuh.

15 / 40
Kartu #16 dari 40

Kejujuran yang pura-pura

Lagèe iku asèe lob pageue

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti ekor anjing menuruk pagar"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini digunakan untuk menyindir orang yang menampilkan diri seolah-olah jujur, lurus, dan dapat dipercaya, padahal di balik penampilannya tersimpan kepura-puraan dan ketidakjujuran. Perumpamaan “seperti ekor anjing menuruk pagar” menggambarkan sesuatu yang tampak mengikuti atau menyesuaikan diri dari luar, tetapi pada hakikatnya tidak mencerminkan ketulusan yang sejati. Dalam kehidupan sosial dan keagamaan, kejujuran yang dibuat-buat seperti ini sangat berbahaya, karena dapat menipu kepercayaan orang lain dan merusak hubungan antar sesama. Hadih Maja ini menanamkan pesan bahwa kejujuran tidak cukup hanya ditunjukkan melalui sikap lahiriah atau kata-kata manis, tetapi harus benar-benar tumbuh dari hati, tercermin dalam perbuatan, dan konsisten dalam berbagai keadaan. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kepura-puraan dalam moral akan cepat terbaca oleh masyarakat, sedangkan kejujuran sejati selalu lahir dari integritas batin yang kokoh

16 / 40
Kartu #17 dari 40

Usaha sia-sia

Lagèe taikat ôn keurusông bak iku asèe

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Bagai mengikat daun pisang kering pada ekor anjing"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan suatu usaha yang dilakukan dengan cara yang tidak tepat, sehingga hasilnya menjadi sia-sia dan tidak membawa manfaat. Perumpamaan mengikat daun pisang kering pada ekor anjing menunjukkan pekerjaan yang dari awal sudah tidak memiliki dasar kegunaan, karena objek dan caranya tidak mendukung tercapainya tujuan. Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini menyindir tindakan yang dikerjakan tanpa perhitungan, tanpa kecermatan, atau tanpa mempertimbangkan apakah usaha tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan sasaran. Dalam konteks pendidikan dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh adanya usaha, tetapi juga oleh ketepatan langkah, pemilihan cara yang benar, dan kecerdasan dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dengan demikian, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa kerja yang tidak disertai pertimbangan yang baik hanya akan menghabiskan tenaga dan waktu tanpa menghasilkan manfaat yang berarti.

17 / 40
Kartu #18 dari 40

Tipu daya manusia

Iléh lheueh parang cumèh

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Belut lepas parang sumbing"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan orang yang dengan licik mampu melepaskan diri dari keadaan sulit atau dari tanggung jawab tertentu dengan memanfaatkan tipu daya dan kecerdikan yang tidak jujur. Perumpamaan “belut lepas, parang menjadi sumbing” menunjukkan bahwa pihak yang licik dapat lolos tanpa menanggung akibat, sementara pihak lain justru dirugikan, lelah, atau mengalami kerusakan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah peringatan bahwa tidak semua kecerdikan bernilai baik, karena akal yang dipakai untuk menipu hanya akan melahirkan kerugian bagi orang lain dan merusak kepercayaan dalam kehidupan bersama. Dalam konteks sosial dan moral, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa manusia harus berhati-hati terhadap perilaku manipulatif serta tidak menggunakan kecerdasan untuk mengambil keuntungan dengan cara yang curang. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa tipu daya mungkin memberi keuntungan sesaat, tetapi pada akhirnya merusak hubungan sosial, menghilangkan kehormatan diri, dan menunjukkan rendahnya integritas seseorang

18 / 40
Kartu #19 dari 40

Ilmu diamalkan

Paléh rimueng jiböh kuréng, paléh gajah jiböh gadéng.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jahat harimau membuang belang, jahat gajah membuang gading."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa sebagaimana belang adalah tanda pada harimau dan gading adalah ciri pada gajah, demikian pula ilmu adalah kemuliaan yang semestinya tampak dalam amal dan perilaku seseorang. Jika orang berilmu tidak mengamalkan pengetahuannya, maka ia seolah-olah telah kehilangan ciri utama yang memberi nilai pada dirinya. Ungkapan ini mengandung sindiran keras kepada mereka yang memiliki pengetahuan, tetapi tidak menjadikannya pedoman dalam sikap dan tindakan. Dalam konteks pendidikan dan agama, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa ilmu tidak cukup hanya diketahui atau dibanggakan, melainkan harus diwujudkan dalam amal, akhlak, dan tanggung jawab hidup.

19 / 40
Kartu #20 dari 40

Hari pembalasan

Uroe seuneulheueh.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Hari penghabisan."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini merujuk pada hari terakhir atau hari akhir, yaitu saat seluruh amal dan perbuatan manusia selama hidup di dunia akan diperhitungkan dan dibalas dengan adil. Meskipun ungkapannya sangat singkat, maknanya sangat dalam karena mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya, melainkan ada pertanggungjawaban yang menanti di hadapan Tuhan. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menanamkan kesadaran eskatologis bahwa setiap tindakan, ucapan, dan niat manusia memiliki konsekuensi, sehingga hidup harus dijalani dengan hati-hati, jujur, dan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa keimanan kepada hari pembalasan menjadi dasar penting bagi pembentukan akhlak, karena manusia yang mengingat adanya hari akhir akan lebih terdorong untuk berbuat baik dan menjauhi keburukan

20 / 40
Kartu #21 dari 40

Hidup bermakna

Umu geutanyoe hana geunab siuroe simalam.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Umur kita tidak genap sehari semalam."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengingatkan bahwa umur manusia di dunia sangat singkat dan tidak ada jaminan akan panjangnya kehidupan yang dijalani. Ungkapan ini menanamkan kesadaran bahwa hidup bersifat sementara, sehingga waktu yang ada tidak seharusnya disia-siakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa selama masih hidup manusia harus memperbanyak amal, berbuat baik, dan memberi manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan sesama, agar hidupnya memiliki nilai dan bekas yang baik. Dengan demikian, ungkapan ini menegaskan bahwa kesadaran akan singkatnya umur seharusnya mendorong manusia untuk hidup lebih bermakna, penuh tanggung jawab, dan berorientasi pada amal yang berguna di dunia maupun di akhirat.

21 / 40
Kartu #22 dari 40

Nasihat untuk diri sendiri

Baranggadum ék gob peu-ingat, nyang leubèh that ta-ingat keudroe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Berapa pun sanggup orang ingatkan, yang lebih utama ingat kepada diri sendiri."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa perhatian, pengawasan, dan perbaikan terhadap diri sendiri merupakan hal yang paling utama dibandingkan hanya menunggu nasihat atau dorongan dari orang lain. Ungkapan ini mengandung pesan bahwa walaupun orang lain dapat mengingatkan, menasihati, dan menunjukkan jalan yang baik, pada akhirnya yang paling menentukan adalah kesadaran diri seseorang untuk menilai, memperbaiki, dan menjaga dirinya sendiri. Dalam konteks agama dan pendidikan moral, Hadih Maja ini menanamkan nilai muhasabah atau introspeksi, yaitu kebiasaan meneliti kekurangan diri, mengoreksi kesalahan, dan membangun tanggung jawab pribadi atas sikap serta perbuatan. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kematangan hidup tidak lahir dari banyaknya nasihat yang didengar, tetapi dari kesungguhan seseorang dalam mengingatkan, mendidik, dan membimbing dirinya sendiri ke arah yang benar

22 / 40
Kartu #23 dari 40

Bergurau berlebihan

Meunyoe galak tameuseunda, bèk takira luka asoe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau suka bersenda, jangan dihiraukan badan luka"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini merupakan peringatan kepada orang yang terlalu gemar bergurau, bercanda, atau bermain-main tanpa mengenal batas, seolah-olah tidak memedulikan akibat buruk yang dapat menimpa dirinya sendiri. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kebiasaan bersenda secara berlebihan dapat membuat seseorang lengah, meremehkan keadaan, dan akhirnya menanggung kerugian, baik secara moral, sosial, maupun pribadi. Dalam konteks agama dan etika, Hadih Maja ini menanamkan nilai pengendalian diri, keseriusan dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan kebijaksanaan dalam menjaga ucapan serta perilaku. Gurauan memang dapat menjadi bagian dari pergaulan, tetapi jika melampaui batas dapat melukai orang lain, merendahkan martabat diri, atau bahkan membawa penyesalan. Dengan demikian, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa manusia harus mampu membedakan antara senda gurau yang wajar dan kebiasaan bermain-main yang dapat berujung pada mudarat bagi dirinya sendiri.

23 / 40
Kartu #24 dari 40

Nasehat

Tamoe bak nyang tém peu-iem, takhém bak nyang peukra. Tapeugah bak nyang tém deungo, tabang bak ureueng na iman

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Menangis pada yang mau mendiamkan, tertawa pada yang mau bergu rau. Memberitahukan pada orang yang mau mendengar, azan pada orang beriman"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa nasihat, peringatan, dan ajakan kebaikan hanya akan bermakna apabila disampaikan kepada orang yang mau mendengar, memahami, dan menerimanya dengan hati terbuka. Ungkapan ini menunjukkan bahwa setiap sikap dan perkataan harus ditempatkan secara tepat sesuai keadaan dan karakter orang yang dihadapi, sebab pesan yang baik pun dapat menjadi sia-sia apabila diberikan kepada orang yang tidak memiliki kesiapan untuk menerimanya. Dalam konteks agama dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam menasihati, yaitu memahami waktu, cara, dan sasaran yang tepat agar nasihat dapat memberi pengaruh yang baik. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa keberhasilan dalam memberi bimbingan bukan hanya ditentukan oleh isi nasihat, tetapi juga oleh ketepatan dalam melihat siapa yang layak, siap, dan bersedia menerimanya.

24 / 40
Kartu #25 dari 40

Ingat mati

Kullu nafsin geubeuet di ulèe, nyan baroe tathèe tatinggai dônya.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kullu nafsin (talqin) dibacakan di kepala, itulah baru disadari dunia ditinggalkan."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini merupakan peringatan yang sangat kuat kepada manusia agar tidak menunda kesadaran, taubat, dan kepatuhan kepada Allah sampai datangnya ajal. Ungkapan ini menggambarkan keadaan seseorang yang baru tersadar ketika talqin telah dibacakan di dekat kepalanya, yaitu saat ia benar-benar berada di ambang perpisahan dengan dunia. Maknanya menegaskan bahwa penyesalan yang datang terlambat tidak lagi memberi banyak arti, sebab kesempatan beramal, memperbaiki diri, dan menaati perintah Allah sesungguhnya berada pada masa hidup, bukan setelah kematian mendekat. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengandung pesan agar manusia tidak lalai, tidak tenggelam dalam maksiat, dan tidak menunggu saat terakhir untuk kembali kepada kebenaran. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai keagamaan tentang pentingnya hidup dalam kesadaran, memperbanyak amal saleh, dan senantiasa siap menghadapi kematian sebelum penyesalan datang ketika semua sudah terlamba

25 / 40
Kartu #26 dari 40

Ilmu fikih

Tapeu-utang bèk payah tunggèe, tameu-utang tabayeue dilèe, tameu gurèe bak ureueng lhèe. ulèe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Piutang jangan payah ditagih, berhutang bayar dahulu, berguru pada orang tiga kepala."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini pada mulanya berbentuk ungkapan umum tentang kewajiban memenuhi hak orang lain, mendahulukan tanggung jawab, dan mencari bimbingan kepada pihak yang berwenang, tetapi dalam makna kiasannya diarahkan pada tata cara perkawinan yang harus dijalankan secara tertib menurut agama dan adat. Ungkapan ini menegaskan bahwa dalam urusan perkawinan ada syarat, kewajiban, dan ketentuan yang tidak boleh diabaikan, seperti mahar, tanda lamaran, dan kehadiran pihak-pihak yang sah sebagai saksi serta pengesah, yakni imam, kepala kampung, dan kadhi. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa perkawinan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan ikatan yang sakral dan sosial, sehingga harus dilaksanakan dengan memenuhi aturan syariat dan adat yang berlaku. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kehidupan rumah tangga yang baik harus dibangun di atas tanggung jawab, keteraturan, penghormatan terhadap hukum agama, dan kepatuhan pada tata adat yang telah diwariskan

26 / 40
Kartu #27 dari 40

Ketika fitrah berubah, kerusakan pun datang

Campli tan lé ke-eueng, sira tan lé masén. Bungong han lé mubèe aneuk dara han lé malèe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Lombok tak lagi pedas; garam tak lagi asin. Bunga tak lagi harum; gadis tak lagi malu."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan ketika sesuatu telah kehilangan sifat alaminya, sehingga tatanan hidup menjadi ganjil, tidak seimbang, dan jauh dari keadaan yang seharusnya. Perumpamaan cabai yang tidak pedas, garam yang tidak asin, bunga yang tidak harum, dan gadis yang tidak lagi memiliki rasa malu menunjukkan terjadinya perubahan nilai yang mendasar dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks agama dan moral, ungkapan ini mengandung peringatan bahwa jika manusia meninggalkan fitrah, adab, dan nilai-nilai yang semestinya dijaga, maka keberkahan akan berkurang dan kerusakan sosial akan mudah muncul. Rasa malu, kesopanan, dan penjagaan diri dipandang dalam tradisi ini sebagai bagian penting dari ketertiban moral masyarakat. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kehidupan yang baik hanya dapat terpelihara apabila setiap unsur tetap berjalan sesuai hakikat, fungsi, dan tuntunan moralnya, sehingga masyarakat tidak kehilangan arah dan tidak jatuh ke dalam kekacauan nilai.

27 / 40
Kartu #28 dari 40

Pengingat akhirat

Uroe nyoe dônya, singöh akhérat.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Hari ini dunia, esok akhirat."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia sangat singkat dan pada akhirnya manusia pasti akan berpindah menuju kehidupan akhirat. Ungkapan ini menanamkan kesadaran bahwa hari ini manusia masih diberi kesempatan untuk hidup, bekerja, berbuat baik, dan mengumpulkan amal, tetapi esok atau kapan saja ajal dapat datang sehingga semua akan kembali kepada Allah. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa selama hidup di dunia manusia tidak boleh lalai, melainkan harus memanfaatkan waktu untuk berbakti, mencari penghidupan yang baik, menjaga tanggung jawab terhadap agama, masyarakat, bangsa, dan negara, serta memperbanyak amal saleh. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan tujuan akhirnya adalah pertanggungjawaban di hadapan Tuhan

28 / 40
Kartu #29 dari 40

Kasih guru melampaui dunia

Gaséh inong 'oh rambat, gaséh agam 'oh jirat, gaséh gurèe 'oh akhirat

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kasih isteri hingga di ruangan tengah rumah. kasih suami hingga ke kubur, kasih guru hingga ke akhirat."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan perbedaan jangkauan kasih sayang dalam berbagai hubungan manusia, lalu menempatkan kasih guru pada kedudukan yang sangat tinggi karena pengaruhnya tidak berhenti pada urusan dunia, tetapi terus berlanjut sampai akhirat melalui ilmu, didikan, dan amal yang diwariskannya. Kasih isteri dan suami digambarkan memiliki batas-batas yang terkait dengan ketentuan adat dan agama dalam kehidupan dunia, sedangkan kasih guru dinilai lebih luas karena seorang guru tidak hanya mendampingi secara lahiriah, tetapi juga membimbing akal, akhlak, dan arah hidup muridnya. Dalam konteks agama dan pendidikan, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa guru memegang peran mulia sebagai pembimbing yang manfaatnya terus hidup bahkan setelah hubungan duniawi berakhir, sebab ilmu yang diajarkan dapat menjadi amal jariah dan jalan keselamatan bagi muridnya. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kedudukan guru sangat terhormat, karena kasih dan jasanya melampaui batas kehidupan dunia

29 / 40
Kartu #30 dari 40

Berilmu tapi tidak beradab

Lagèe teungku giduek kitab.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti teungku menduduki kitab."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menyindir orang yang seharusnya menjaga, menghormati, dan menegakkan aturan agama, tetapi justru merusak atau mengabaikannya melalui sikap dan perbuatannya sendiri. Perumpamaan teungku yang menduduki kitab menggambarkan suatu keadaan yang sangat janggal, karena orang yang mestinya memuliakan ilmu dan ajaran agama malah memperlakukannya dengan tidak semestinya. Dalam konteks agama, ungkapan ini menanamkan pesan bahwa tanggung jawab moral orang berilmu, pemuka agama, atau siapa pun yang memahami ajaran agama jauh lebih besar, sebab kerusakan yang datang dari orang yang seharusnya menjadi teladan akan lebih berbahaya bagi masyarakat. Dengan demikian, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa ilmu agama harus dijaga dengan adab, diamalkan dengan benar, dan tidak boleh disalahgunakan, karena orang yang merusak nilai yang seharusnya ia pelihara akan kehilangan kehormatan dan menimbulkan kerusakan yang lebih luas.

30 / 40
Kartu #31 dari 40

Anak yang enggan mendengar nasihat

Aneuk hana deungö seulaweuet

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Anak tidak mendengar selawat"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini digunakan untuk menggambarkan anak yang sukar dinasihati, suka membantah, dan tidak mau mendengar perkataan orang tua atau orang yang lebih tua darinya. Ungkapan “tidak mendengar selawat” menunjukkan sikap keras kepala dan ketidakpedulian terhadap suara yang semestinya membawa kebaikan, ketenangan, dan tuntunan. Dalam Islam, Hadih Maja ini menegaskan bahwa salah satu ukuran baik buruknya perilaku anak terletak pada kesediaannya mendengar nasihat, menghormati orang tua, dan menerima tuntunan dengan adab yang baik. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa kepatuhan, kerendahan hati, dan kesediaan menerima nasihat merupakan bagian penting dari pembentukan akhlak dan kehormatan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat

31 / 40
Kartu #32 dari 40

Ibadah pada waktunya

Tabang di lua watèe

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Berazan di luar waktu"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan sesuatu yang dilakukan tidak pada waktunya, sehingga meskipun bentuknya benar, manfaat dan maknanya menjadi hilang atau berkurang. Perumpamaan azan di luar waktu menunjukkan bahwa dalam ajaran agama, ketepatan waktu sangat penting, sebab ibadah dan seruan kebaikan memiliki saat yang telah ditentukan. Dalam makna kiasannya, ungkapan ini dipakai untuk menyindir orang yang baru menyatakan sanggahan, nasihat, atau peringatan setelah semuanya terlambat dan keputusan telah diambil. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai keagamaan tentang pentingnya ketertiban, ketepatan waktu, dan kebijaksanaan dalam menyampaikan seruan atau nasihat, karena sesuatu yang baik pun dapat kehilangan arti jika dilakukan tidak pada saat yang semestinya

32 / 40
Kartu #33 dari 40

Berani karena benar

Tatakôt meunyoe na salah, tagagah meunyoe beuna.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Takut karena salah, berani karena benar."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa keberanian sejati lahir dari kebenaran, sedangkan rasa takut biasanya tumbuh dari kesalahan, dosa, atau perbuatan yang tidak lurus. Orang yang berbuat salah cenderung gelisah, tidak tenang, dan mudah terlihat dari sikap maupun ucapannya, karena batinnya dibebani oleh rasa bersalah dan kekhawatiran akan akibat dari perbuatannya. Sebaliknya, orang yang berada di pihak benar memiliki keteguhan hati, ketenangan, dan keberanian untuk tetap berdiri teguh sekalipun menghadapi risiko yang besar. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kebenaran memberi kekuatan moral, sedangkan kesalahan membawa kegelisahan dan ketakutan, baik terhadap hukuman di dunia maupun pertanggungjawaban di akhirat. Karena itu, manusia diajarkan untuk selalu berada di jalan yang benar, sebab keberanian yang lahir dari iman dan kebenaran akan membawa kemuliaan, sementara kesalahan hanya melahirkan ketakutan dan penyesalan

33 / 40
Kartu #34 dari 40

Jangan tergesa talak

Taleuek pih tajôk, jén pih jiwèh, gaséh pi i-böh nibak nyang ka.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Cerai pun diberikan, setan pun pergi'menghilang' , kasih pun dibuang seperti sebelumnya"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengingatkan agar seseorang tidak terburu-buru menjatuhkan talak kepada isterinya hanya karena dorongan emosi, amarah, atau bisikan sesaat yang kemudian menimbulkan penyesalan. Ungkapan ini menunjukkan bahwa setelah perceraian terjadi dan kemarahan mereda, sering kali baru disadari bahwa kasih sayang, ikatan, dan nilai hubungan itu sebenarnya jauh lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menanamkan nilai kehati-hatian, pengendalian diri, dan tanggung jawab dalam menjaga rumah tangga, karena talak adalah perkara yang dibolehkan tetapi tidak boleh dilakukan secara serampangan. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa keputusan besar dalam kehidupan keluarga harus diambil dengan pertimbangan yang matang, kesabaran, dan kesadaran moral, agar seseorang tidak menukar ketenangan rumah tangga dengan penyesalan yang datang terlambat.

34 / 40
Kartu #35 dari 40

Tauhid

Tubôh di Adam, nyawong di Nabi, éleumèe di Tuhan

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Tubuh pada Adam, nyawa pada Nabi, ilmu pada Tuhan"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa manusia memiliki asal-usul, petunjuk hidup, dan sumber pengetahuan yang semuanya bersandar pada kehendak Allah. Tubuh manusia dikaitkan dengan Nabi Adam sebagai asal penciptaan manusia, nyawa pada Nabi sebagai isyarat kepada jalan kenabian dan tuntunan risalah, sedangkan ilmu ditegaskan berasal dari Tuhan sebagai sumber segala pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki manusia. Ungkapan ini menunjukkan bahwa apa pun yang dapat dipikirkan, dikerjakan, dan dihasilkan manusia pada hakikatnya tidak lepas dari anugerah akal dan ilmu yang diberikan Allah. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menanamkan kesadaran bahwa manusia tidak boleh sombong atas kepandaiannya, karena ilmu bukan milik mutlak dirinya, melainkan karunia Tuhan yang harus digunakan untuk kebaikan, penghidupan yang halal, dan kemaslahatan sesama.

35 / 40
Kartu #36 dari 40

Senandung al Qur'an

Lagèe su bulôh meurindu.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti suara buluh perindu."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini digunakan untuk menggambarkan suara yang sangat merdu, lembut, dan menyentuh perasaan, khususnya dalam membaca kitab suci Al-Qur’an. Perumpamaan dengan buluh perindu menunjukkan bunyi yang beralun halus, indah, dan mampu menggugah hati orang yang mendengarnya. Ungkapan ini menanamkan penghargaan terhadap keindahan dalam membaca Al-Qur’an, karena bacaan yang baik bukan hanya soal suara, tetapi juga berkaitan dengan kekhusyukan, adab, dan kemampuan menghadirkan makna ayat ke dalam hati pendengar

36 / 40
Kartu #37 dari 40

Kemampuan membaca al-Qur'an

Lagèe kamèng jak ateueh batèe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti kambing berjalan di atas batu."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak lancar lidahnya ketika membaca Al-Qur’an, sehingga bacaannya terdengar tersendat-sendat, tidak mengalir, dan terasa berat. Perumpamaan kambing yang berjalan di atas batu menunjukkan gerakan yang tidak mantap, serba hati-hati, dan sering terhenti, sebagaimana bacaan seseorang yang belum fasih atau belum terbiasa membaca dengan baik. Dalam konteks agama, ungkapan ini mengandung pesan bahwa membaca Al-Qur’an memerlukan latihan, kesungguhan, dan pembiasaan agar lidah menjadi lancar dan bacaan semakin baik. Dengan demikian, Hadih Maja ini tidak semata-mata bernilai sindiran, tetapi juga mengingatkan bahwa keterampilan membaca kitab suci adalah bagian dari proses belajar yang harus terus diasah dengan tekun, sabar, dan penuh hormat terhadap kalam Allah.

37 / 40
Kartu #38 dari 40

Tabiat manusia akhir zaman

Dônya ka akhé, tabeuet han malém, tahareukat han kaya.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Dunia sudah akhir, mengaji tak alim, berusaha mencari harta tidak kaya"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan zaman yang telah rusak, ketika banyak orang cenderung meninggalkan jalan yang baik dan lebih mudah terjerumus pada keburukan, sehingga hasil dari berbagai usaha hidup pun tidak mencapai kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan. Ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam keadaan moral masyarakat yang merosot, kegiatan yang seharusnya melahirkan kebaikan—seperti mengaji untuk menjadi alim atau bekerja untuk memperoleh kecukupan—sering tidak membuahkan hasil yang utuh karena lingkungan hidup telah dipenuhi oleh kekacauan nilai, lemahnya kejujuran, dan merajalelanya kejahatan. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menjadi peringatan bahwa kerusakan zaman tidak boleh membuat manusia menyerah, tetapi justru harus mendorongnya untuk lebih teguh menjaga iman, memperbaiki amal, dan bertahan pada kebenaran, sebab pada masa yang rusak itulah keteguhan beragama menjadi semakin penting.

38 / 40
Kartu #39 dari 40

Ganjaran atas amal

Göt tapubuet göt geubalah, brok geukeubah lam nuraka

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Baik dikerjakan, baik dibalas, jahat disimpan dalam neraka"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan keyakinan bahwa setiap perbuatan manusia akan menerima balasan yang setimpal dari Allah, sehingga kebaikan tidak akan sia-sia dan kejahatan tidak akan lepas tanpa pertanggungjawaban. Ungkapan ini mengandung ajaran moral dan keagamaan yang sangat kuat, yaitu bahwa hidup manusia berada dalam hukum pembalasan: siapa yang berbuat baik akan menerima ganjaran yang baik, sedangkan siapa yang berbuat jahat akan berhadapan dengan hukuman, bahkan siksa di akhirat. Dalam konteks agama, Hadih Maja ini menanamkan kesadaran bahwa manusia harus berhati-hati dalam bertindak, karena semua amal akan kembali kepada pelakunya

39 / 40
Kartu #40 dari 40

resolusi konflik

Luka puléh parot han gadöh.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Luka sembuh, parut tak hilang."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa suatu pertikaian atau perselisihan mungkin saja telah berakhir secara lahiriah, tetapi bekasnya masih tetap tertinggal di dalam hati, sebagaimana luka yang telah sembuh namun parutnya tidak hilang. Ungkapan ini menegaskan bahwa perdamaian secara formal belum tentu berarti hilangnya rasa sakit, kecewa, atau dendam di antara pihak-pihak yang pernah berselisih. Dalam konteks agama dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa penyelesaian konflik yang sejati tidak cukup hanya menghentikan pertengkaran, tetapi juga harus disertai keikhlasan, saling memaafkan, dan upaya membersihkan hati dari kebencian. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa kedamaian yang sempurna hanya akan tercapai apabila manusia tidak sekadar menutup luka di permukaan, tetapi juga menyembuhkan bekas luka yang tersisa di dalam batin

40 / 40

Daftar Kartu Belajar

40 Entri
Kemajuan Anda: 0/40
Buku Bersuara (Audio Companion): Dengarkan pelafalan otentik bahasa Aceh untuk hadih yang sedang Anda baca.

Membuka Lembaran Modul Digital...

Memuat dokumen resmi Dana Indonesiana

Pratinjau Memerlukan Bantuan

Browser Anda sedang memproses dokumen ini. Anda tetap dapat membaca langsung di tab baru atau mengunduh PDF resminya.

Hal. 1 / 1
Pelajari lebih dalam materi ini dengan fitur interaktif lainnya:
Rencana Ajar Singkat

Alur Pembelajaran 45 Menit

Skenario pembelajaran fleksibel untuk guru mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) atau Wali Kelas:

1. Kegiatan Pendahuluan ± 5 Menit
  • Guru membuka sesi dan melafalkan hadih maja dalam bahasa Aceh yang akan dipelajari.
  • Guru memberikan pertanyaan pemantik yang relevan dengan pengalaman sehari-hari siswa.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran kartu dan nilai karakter yang ingin dicapai.
2. Kegiatan Inti ± 25 - 30 Menit
  • Siswa melafalkan teks Aceh dibantu rekaman audio otentik pada platform hadihmaja.com.
  • Guru menjelaskan makna tersurat dan tersirat sesuai tingkat pemahaman peserta didik.
  • Siswa berdiskusi dalam kelompok kecil menjawab Pertanyaan Diskusi secara kontekstual.
  • Siswa melakukan Aktivitas Belajar ringan (menulis refleksi, simulasi peran, atau mini poster).
  • Perwakilan siswa mempresentasikan temuan atau hasil refleksi secara singkat.
3. Kegiatan Penutup ± 10 Menit
  • Guru bersama siswa merangkum intisari nilai karakter yang ditekankan.
  • Siswa melakukan refleksi mandiri: apa hal konkret yang akan diterapkan dalam keseharian.
  • Guru memberikan apresiasi dan penguatan atas keaktifan siswa.
Asesmen Kinerja

Rubrik Penilaian 4 Aspek (Skala 1-4)

Gunakan rubrik berikut untuk menilai diskusi kelompok, esai refleksi, dan tugas kelas:

Aspek Sangat Baik (4) Baik (3)
Pemahaman Makna Hadih Maja Menjelaskan makna hadih maja secara tepat dan mendalam, disertai kaitan yang jelas dengan nilai karakter. Menjelaskan makna hadih maja dengan tepat, namun kaitan dengan nilai belum sepenuhnya mendalam.
Kualitas Jawaban Diskusi / Esai Jawaban logis, runtut, dan didukung alasan serta contoh yang kuat. Jawaban logis dan cukup runtut, dengan alasan yang memadai.
Partisipasi dan Kreativitas Belajar Aktif berpartisipasi dan menunjukkan ide serta inisiatif kreatif dalam menyelesaikan aktivitas. Berpartisipasi aktif namun kreativitas dan inisiatif masih standar.
Keterkaitan dengan Kehidupan Sehari-hari Mampu mengaitkan nilai hadih maja dengan pengalaman nyata secara spesifik dan reflektif. Mampu mengaitkan nilai hadih maja dengan pengalaman sehari-hari secara umum.
Konversi Nilai Akhir: 13–16 = Sangat Baik, 9–12 = Baik, 5–8 = Cukup, 1–4 = Perlu Bimbingan.
Evaluasi Mandiri

Kuis Pemahaman: Agama

Uji pemahamanmu setelah mempelajari kartu-kartu hadih maja di atas.

10 Soal Pilihan Ganda

1 Hadih maja "Tunduk dan Patuh" mengajarkan bahwa nyawa manusia sepenuhnya berada dalam kuasa...

2 Hadih maja "Kekuasaan Allah" (Allah bri, Allah böh) mengajarkan sikap... terhadap segala nikmat yang dimiliki.

3 Hadih maja "Menjaga amanah" menegaskan pentingnya menjaga...

4 Hadih maja "Amal lebih penting dari ucapan" mengajarkan bahwa nilai seseorang dalam beragama diukur dari...

5 Sikap tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran sebelum percaya suatu kabar, diajarkan dalam hadih maja...

6 Hadih maja "Hari pembalasan" mengingatkan manusia akan adanya...

7 Hadih maja "Kasih guru melampaui dunia" menegaskan bahwa kasih dan jasa seorang guru...

8 Hadih maja "Berani karena benar" mengajarkan bahwa keberanian sejati lahir dari...

9 Hadih maja "Tauhid" (Tubôh di Adam, nyawong di Nabi, éleumèe di Tuhan) mengajarkan bahwa ilmu yang dimiliki manusia pada hakikatnya adalah...

10 Hadih maja "Resolusi konflik" (Luka puléh parot han gadöh) mengajarkan bahwa penyelesaian konflik yang sejati memerlukan...