Ketika fitrah berubah, kerusakan pun datang
Teks Hadih Maja
Campli tan lé ke-eueng, sira tan lé masén. Bungong han lé mubèe
aneuk dara han lé malèe.
Makna / terjemahan
Lombok tak lagi pedas; garam tak lagi asin.
Bunga tak lagi harum; gadis tak lagi malu.
Informasi
Dipublikasikan
22 May 2026
Validator/Kurator
Dr. Syamsul Bahri, MA
Status
Published
Frekuensi Dibaca
0 kali
Audio Diputar
0 kali
Modul PDF Tematik
Modul Hadih Maja Kategori Agama
Untuk pembelajaran
Gunakan halaman ini untuk membaca teks Aceh, membandingkan makna, lalu lanjut ke bilik belajar untuk eksplorasi modul & kuis.
Pemaknaan dan penjelasan
Hadih maja ini menggambarkan keadaan ketika sesuatu telah kehilangan sifat alaminya, sehingga tatanan hidup menjadi ganjil, tidak seimbang, dan jauh dari keadaan yang seharusnya. Perumpamaan cabai yang tidak pedas, garam yang tidak asin, bunga yang tidak harum, dan gadis yang tidak lagi memiliki rasa malu menunjukkan terjadinya perubahan nilai yang mendasar dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks agama dan moral, ungkapan ini mengandung peringatan bahwa jika manusia meninggalkan fitrah, adab, dan nilai-nilai yang semestinya dijaga, maka keberkahan akan berkurang dan kerusakan sosial akan mudah muncul. Rasa malu, kesopanan, dan penjagaan diri dipandang dalam tradisi ini sebagai bagian penting dari ketertiban moral masyarakat. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kehidupan yang baik hanya dapat terpelihara apabila setiap unsur tetap berjalan sesuai hakikat, fungsi, dan tuntunan moralnya, sehingga masyarakat tidak kehilangan arah dan tidak jatuh ke dalam kekacauan nilai.
Hadih terkait
Audio pelafalan
Didengar 0 kali
Pelafalan Asli
Posisi audio akan disimpan otomatis di browser Anda.