Modul 03 • Adat & Kearifan Lokal

Modul Pembelajaran: Budaya

Norma Adat, Kehormatan Diri, & Tradisi Leluhur

Setelah mempelajari bab ini, siswa mampu menjelaskan nilai-nilai budaya dan adat istiadat Aceh yang terkandung dalam hadih maja — mencakup hubungan adat dengan hukum, budi bahasa, tata krama, pengendalian diri, dan kejujuran — serta menerapkannya dalam pergaulan sehari-hari.

40 Kartu Hadih 40 Audio Pelafalan PDF Modul Tersedia RPP & Rubrik Siap
Kartu #1 dari 40

Sinergis adat dan hukum

Adat bak Poteu Meureuhóm, hukóm bak Syiah Kuala Kanun bak Put rot Phang, reusam bak Laksamana

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Adat pada paduka almarhum, hukum pada Teungku Syiah Kuala, Undang-undang pada Putri Pahang, adat kebiasaan pada Ulama. Maksudnya, adat istiadat, yang tidak ada dalam hukum, diatur oleh Sultan (Iskandar Muda), sedangkan hukum kenegaraan Islam diatur oleh Ulama (Syiah Kuala). (Laksamana - Panglima Angkatan Laut)"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan tatanan budaya dan pemerintahan Aceh yang menempatkan adat, hukum, qanun, dan reusam pada otoritas yang berbeda tetapi saling melengkapi. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Aceh sejak dahulu dibangun di atas keteraturan peran antara sultan sebagai pemegang adat, ulama sebagai penjaga hukum Islam, Putroe Phang sebagai lambang qanun atau aturan kerajaan, dan Laksamana sebagai pemegang reusam atau kebiasaan yang berlaku dalam praktik sosial. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini menegaskan bahwa adat Aceh tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan syariat, pemerintahan, dan kebiasaan hidup masyarakat, sehingga tercipta keseimbangan antara otoritas politik, agama, dan sosial. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa budaya Aceh bertumpu pada pembagian fungsi yang tertib, penghormatan kepada lembaga-lembaga yang berwenang, serta kesadaran bahwa kehidupan bersama harus dijalankan menurut aturan yang jelas dan selaras.

1 / 40
Kartu #2 dari 40

Adat dapat disesuaikan, hukum tidak boleh dilanggar

Adat meuköh reubông, hukôm meuköh purieh... Adat jeuet barangho takông, hukôm han jeuet barangho takieh...

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Adat memotong rebung, hukum memotong purieh; adat dapat ditimpa sekehendak, hukum tidak dapat dikiaskan sekehendak kita."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan adanya perbedaan kedudukan antara adat dan hukum dalam kehidupan masyarakat Aceh. Adat digambarkan lebih lentur karena dalam pelaksanaannya masih dapat menyesuaikan keadaan, tempat, dan kebutuhan masyarakat, sedangkan hukum memiliki sifat yang lebih tegas, mengikat, dan tidak boleh diperlakukan semaunya. Ungkapan ini menunjukkan bahwa walaupun adat tetap penting sebagai pedoman hidup bersama, hukum memiliki otoritas yang lebih kuat karena menyangkut ketertiban dan keadilan yang harus dijaga. Dalam konteks budaya Aceh, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa masyarakat harus mampu membedakan mana aturan yang dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan mana ketentuan yang tidak boleh dilanggar atau ditafsirkan sesuka hati. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa budaya yang baik adalah budaya yang menghormati adat sebagai warisan sosial, tetapi tetap menempatkan hukum sebagai batas yang harus dijaga demi keteraturan hidup bersama.

2 / 40
Kartu #3 dari 40

Orang berbudi menjaga adat

Nyang mat adat nyang mubudhoe sampoe bijaksana

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Yang memegang adat adalah yang berbudi hingga bijaksana"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa dalam masyarakat Aceh, adat tidak hanya dipahami sebagai kebiasaan turun-temurun, tetapi juga sebagai ukuran keluhuran budi dan kehormatan seseorang. Orang yang memegang adat berarti orang yang mampu menjaga tata krama, menghormati aturan hidup bersama, dan menempatkan dirinya secara pantas dalam pergaulan sosial. Karena itu, adat dipandang sejalan dengan pembentukan kepribadian yang baik, sebab seseorang yang beradat biasanya juga dikenal santun, tahu diri, menghargai orang lain, dan menjaga martabat diri serta keluarganya. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa kehormatan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan atau kedudukan, tetapi oleh kemampuannya memelihara nilai-nilai adat yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa adat merupakan penyangga budi pekerti dan menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga tertib, hormat, dan kemuliaan hidup bersama.

3 / 40
Kartu #4 dari 40

Membuang adat, memilih yang hina

Adat tajilén, adén tajilat

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Adat kita buang, pelembahan kita jilat"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini merupakan sindiran keras kepada orang yang meninggalkan hal yang baik, mulia, dan terhormat, tetapi justru mengambil sesuatu yang buruk, hina, dan tidak pantas. Perbandingan antara adat sebagai lambang tatanan hidup yang baik dengan adén sebagai kumpulan air kotor menunjukkan betapa terbaliknya pilihan orang yang melepaskan nilai luhur lalu mengikuti hal-hal yang merusak. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini menegaskan bahwa adat bukan sekadar kebiasaan, melainkan pedoman hidup yang menjaga kehormatan, ketertiban, dan martabat masyarakat. Ketika adat ditinggalkan, yang muncul bukan kebebasan yang bermakna, tetapi kemerosotan nilai dan kerusakan perilaku. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa budaya yang baik harus dipelihara dan dihormati, sebab meninggalkan yang mulia untuk mengambil yang hina hanya akan membawa kejatuhan bagi diri sendiri dan masyarakat.

4 / 40
Kartu #5 dari 40

Adat tetap hidup setelah orang wafat

Meungka matée ka gadöh adat, nyang pangkat mantöng cit raya

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Apabila telah mati hilanglah adat, yang berpangkat tetap dikenang."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa orang yang memiliki kedudukan terhormat, wibawa, dan jasa yang besar akan tetap dikenang serta dihormati meskipun ia telah meninggal dunia. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kematian memang mengakhiri kehadiran seseorang secara fisik, tetapi nama baik, martabat, dan pengaruhnya dapat terus hidup dalam ingatan masyarakat. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa kehormatan sejati tidak berhenti pada hidupnya seseorang, melainkan diwariskan melalui jasa, keteladanan, dan kedudukan yang pernah ia emban dengan baik. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa kemuliaan sosial dan budaya seseorang ditentukan bukan hanya oleh pangkat yang disandang, tetapi oleh kualitas pengabdian dan kehormatan yang membuatnya tetap dihargai setelah wafat.

5 / 40
Kartu #6 dari 40

Ucapan harus sesuai dengan kedudukan

Nyang patôt aduen bèk takheun adoe, nyang patôt mentroe. bèk takheun raja

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Yang patut abang jangan dikatakan adik, yang patut menteri jangan dikatakan raja."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa dalam pergaulan masyarakat, setiap orang harus dipanggil, disebut, dan diperlakukan sesuai dengan kedudukan, peran, dan derajatnya masing-masing. Ungkapan ini menunjukkan pentingnya ketepatan dalam bertutur kata, karena kesalahan dalam menyebut atau menempatkan seseorang dapat dianggap sebagai bentuk ketidaktahuan, ketidaksopanan, atau pengabaian terhadap tata krama. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa masyarakat Aceh sangat menghargai keteraturan sosial, penghormatan kepada orang yang lebih tua, dan ketepatan dalam menempatkan seseorang menurut martabatnya. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa bahasa dan sapaan bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan adab, penghargaan, dan pemahaman seseorang terhadap tata hidup bermasyarakat

6 / 40
Kartu #7 dari 40

Tidak memahami tata krama

Hana tupeue adat

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Tidak tahu adat"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini digunakan untuk menyindir orang yang tidak memahami adat, tata krama, dan etika pergaulan dalam masyarakat. Ungkapan ini terutama ditujukan kepada orang yang tidak mengetahui cara bertegur sapa dengan orang yang lebih tua, tokoh masyarakat, atau orang yang dihormati, serta tidak mengerti sikap yang patut ditunjukkan dalam majelis, pertemuan, dan berbagai peristiwa adat. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini menegaskan bahwa adat merupakan pedoman penting dalam membentuk sopan santun dan keteraturan hubungan sosial. Seseorang yang tidak tahu adat dipandang kurang matang dalam pergaulan, karena ia belum mampu menempatkan diri sesuai norma yang berlaku. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa memahami adat berarti memahami cara hidup bermasyarakat secara terhormat, santun, dan penuh penghargaan kepada orang lain.

7 / 40
Kartu #8 dari 40

Jangan tertipu tampilan

Boh seureuba rasa peunajóh ureueng dusön, yöh goh talakèe rasa, 'oh ka talakèe ampón.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Buah seureuba terasa seperti makanan orang dusun; sebelum meminta ingin mencicipi, sesudah meminta malah minta ampun"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa sesuatu yang tampak menarik belum tentu membawa manfaat atau kesenangan bagi orang yang menginginkannya. Pada awalnya, seseorang mungkin tertarik karena melihat bentuk, cerita, atau kesan luar dari sesuatu. Namun setelah mencobanya, ia baru menyadari bahwa hal itu tidak sesuai dengan harapan, bahkan dapat menimbulkan penyesalan. Ungkapan “yöh goh talakèe rasa, ’oh ka talakèe ampón” menunjukkan perubahan dari rasa ingin tahu menjadi rasa menyesal. Dalam konteks budaya, hadih maja ini mengajarkan sikap hati-hati dalam menilai sesuatu, tidak mudah tergoda oleh tampilan luar, dan tidak terburu-buru menginginkan sesuatu sebelum mengetahui hakikatnya. Masyarakat diajarkan agar menggunakan pengalaman, pertimbangan, dan nasihat orang tua sebelum mengambil keputusan, sebab tidak semua yang indah dilihat, enak didengar, atau menarik hati benar-benar baik bagi kehidupan

8 / 40
Kartu #9 dari 40

Sesuatu kembali ke tempat asalnya

Lagèe ie bak cucô bubông ilé u krueng.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Bagai air di pelimbahan mengalir ke sungai"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan sesuatu yang pada akhirnya akan kembali mengikuti alur asal, arah yang wajar, atau tempat yang semestinya. Perumpamaan air yang jatuh dari bubungan lalu mengalir menuju sungai menunjukkan bahwa setiap hal memiliki jalannya sendiri dan cenderung bergerak menuju tempat yang sesuai dengan tabiatnya. Dalam konteks budaya dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini dapat dipahami sebagai pengingat bahwa manusia, sikap, dan peristiwa sering kali akan kembali kepada asal-usul, kebiasaan, atau lingkungan yang membentuknya. Karena itu, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa adat, watak, dan arah hidup seseorang tidak dapat dilepaskan begitu saja dari akar tempat ia tumbuh. Dengan demikian, Hadih Maja ini mengajarkan bahwa memahami asal, akar, dan alur yang wajar sangat penting agar manusia dapat menempatkan sesuatu secara tepat dan tidak memaksakan keadaan keluar dari fitrahnya

9 / 40
Kartu #10 dari 40

Rakus menghilangkan kesopanan

Oh troe lagèe troe bubrang

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Saat kenyang seperti kenyang berang-berang"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menyindir orang yang sangat rakus terhadap makanan hingga kehilangan sopan santun dan kendali dirinya. Perumpamaan dengan berang-berang memberi gambaran tentang nafsu makan yang berlebihan, tanpa ukuran, dan tanpa memperhatikan kepantasan di hadapan orang lain. Dalam konteks budaya, ungkapan ini mengandung pesan bahwa makan bukan hanya urusan memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga bagian dari adab dan tata krama dalam pergaulan. Seseorang yang tidak mampu menahan diri ketika makan akan dipandang kurang berbudaya, karena kerakusan menunjukkan lemahnya pengendalian diri dan hilangnya rasa malu. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kesopanan harus tetap dijaga dalam segala keadaan, termasuk dalam hal makan dan menikmati nikmat dunia, agar seseorang tetap terlihat beradab dan terhormat di tengah masyarakat

10 / 40
Kartu #11 dari 40

Jangan mudah terpengaruh omongan yang tidak baik

Bèk tadeungö haba crot-brot, geutanyoe got-got jeuet binasa

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jangan didengar perkataan yang tidak bertujuan, kita yang baik jadi binasa."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengingatkan agar seseorang tidak mudah dipengaruhi oleh ucapan yang kosong, tidak benar, atau tidak membawa manfaat, karena perkataan seperti itu dapat merusak pikiran, sikap, dan akhirnya mencelakakan diri sendiri. Ungkapan ini menunjukkan bahwa tidak semua kata patut didengar, apalagi diikuti, sebab ada perkataan yang hanya menimbulkan keributan, menyesatkan arah, atau merusak ketenangan hidup. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini menanamkan nilai kehati-hatian dalam mendengar, memilih, dan menimbang ucapan orang lain, karena masyarakat yang baik akan rusak apabila anggotanya mudah terbawa oleh omongan yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa menjaga diri dari pengaruh perkataan yang buruk merupakan bagian penting dari kebijaksanaan, kedewasaan, dan keselamatan hidup bersama

11 / 40
Kartu #12 dari 40

Waktu berjalan tanpa terasa

Bubèe lam ie, ie lam bubèe, hana tathèe cuco ka na

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Lukah dalam air; air dalam luka; tak terasa cucu sudah ada"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan betapa cepatnya waktu berjalan dalam kehidupan manusia, hingga perubahan besar sering terjadi tanpa disadari. Perumpamaan antara lukah dan air menunjukkan keadaan yang begitu menyatu dan berlangsung terus-menerus, sehingga orang tidak merasakan pergeseran waktu yang sebenarnya sedang membawa hidup dari satu tahap ke tahap berikutnya. Ungkapan “tidak terasa cucu sudah ada” menegaskan bahwa umur berjalan diam-diam, masa berganti, dan generasi pun berubah tanpa dapat ditahan. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini mengandung pesan agar manusia sadar akan perubahan zaman, menghargai perjalanan hidup, dan tidak lalai dalam memanfaatkan waktu, karena kehidupan bergerak sangat cepat dan sering kali baru disadari setelah banyak hal terlanjur berubah.

12 / 40
Kartu #13 dari 40

Perasaan yang tersembunyi tidak terbaca

Gaséh han meuri, banci han meusoe.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sayang tak nyata, benci tak diketahui."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan batin seseorang yang tidak mudah terbaca oleh orang lain, karena rasa sayang tidak dinyatakan secara jelas dan rasa benci pun tidak tampak secara nyata. Ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam pergaulan hidup, tidak semua sikap manusia terlihat terus terang di permukaan, sehingga seseorang perlu berhati-hati dalam menilai hubungan, membaca isyarat, dan memahami maksud orang lain. Dalam konteks budaya dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai kewaspadaan, kecermatan membaca keadaan, dan pentingnya kejujuran dalam bersikap, sebab perasaan yang terus disembunyikan dapat menimbulkan salah paham, jarak, dan ketidakpastian dalam hubungan antarmanusia. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa keterbukaan yang bijak dan ketulusan dalam pergaulan sangat penting agar hubungan sosial berjalan dengan lebih jernih, sehat, dan saling dipahami.

13 / 40
Kartu #14 dari 40

pengendalian diri

Lagèe uleue maté iku.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti ular mati ekor."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini digunakan untuk menggambarkan orang yang sangat pemarah, mudah tersulut emosi, dan bereaksi berlebihan hanya karena kesalahan atau persoalan yang kecil. Perumpamaan “seperti ular mati ekor” memberi kesan tentang gerakan yang masih berbahaya dan ganas meskipun sebabnya tampak sepele, sehingga orang seperti ini cenderung membesar-besarkan masalah dan membuat keadaan menjadi rusak. Dalam konteks budaya dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai penting tentang pengendalian diri, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam merespons kekeliruan orang lain, karena kemarahan yang tidak terjaga dapat melukai sesama, merusak hubungan, dan menghilangkan kehormatan diri. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kedewasaan seseorang tampak dari kemampuannya menahan amarah dan menempatkan persoalan secara proporsional, bukan dari kerasnya reaksi terhadap hal-hal yang kecil.

14 / 40
Kartu #15 dari 40

Menilai sesuatu sesuai hakikatnya

Meunyoe jeuet jipö takheun cicém, Meunyoe jeuet ji 'eue takheun uleue

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kalau dapat terbang disebut burung, bila dapat merayap-rayap disebut ular."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa sesuatu harus dinilai, disebut, dan ditempatkan sesuai dengan sifat serta kenyataannya yang sebenarnya, bukan berdasarkan dugaan atau keinginan semata. Burung dikenali karena dapat terbang, sedangkan ular dikenali karena bergerak melata, sehingga masing-masing memiliki ciri yang membedakannya dengan jelas. Dalam kehidupan sosial dan budaya, ungkapan ini mengandung pesan bahwa manusia harus bersikap tepat dalam menilai orang, perkara, dan keadaan, yakni dengan memperhatikan tanda, sifat, dan bukti yang nyata. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai kehati-hatian, ketepatan penilaian, dan kebijaksanaan dalam menyebut atau memutuskan sesuatu, agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami kenyataan.

15 / 40
Kartu #16 dari 40

Gerak dan tingkah laku menunjukkan maksud

Meuleugôt ôn padé mupeue cicém, 'oh jikhém mupeue lé bahsa.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Bergoyang daun padi dikenal jenis burung bila tertawa diketahui"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa maksud, niat, dan tujuan seseorang sering kali dapat dikenali dari gerak-gerik, sikap, dan tingkah lakunya, sebagaimana jenis burung dapat diduga dari cara daun padi bergoyang. Ungkapan ini menunjukkan bahwa tidak semua maksud manusia dinyatakan secara langsung, tetapi sering tampak melalui bahasa tubuh, cara berbicara, tawa, dan perilaku yang diperlihatkannya. Dalam konteks budaya dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai kecermatan dalam membaca situasi, memahami isyarat, dan menilai orang secara bijaksana melalui tanda-tanda yang tampak. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kehidupan bersama menuntut kepekaan sosial, karena dari tingkah laku seseorang sering dapat dipahami apa yang sebenarnya ia pikirkan, rasakan, atau rencanakan

16 / 40
Kartu #17 dari 40

Tertib hidup menurut aturan dan kewajiban

Lampôh mupageue, utang tabayeue.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kebun berpagar, hutang dibayar."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa setiap urusan dalam hidup harus dijalankan menurut aturan, batas, dan kewajiban yang semestinya. Kebun yang dipagari melambangkan keteraturan dan penjagaan terhadap hak milik, sedangkan hutang yang dibayar melambangkan tanggung jawab moral yang harus dipenuhi. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kehidupan yang baik tidak dibangun atas kehendak semaunya sendiri, tetapi atas kepatuhan kepada kebiasaan yang benar, hukum yang berlaku, dan adat yang telah diterima bersama dalam masyarakat. Dalam konteks budaya dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteraturan, sebab seseorang yang hidup tertib akan menjaga haknya dengan baik dan menunaikan kewajibannya dengan benar. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kehormatan hidup terletak pada kesediaan untuk memelihara batas, memenuhi tanggung jawab, dan berjalan menurut aturan yang telah ditetapkan.

17 / 40
Kartu #18 dari 40

Kedekatan lahir dari kesamaan bahasa dan rasa

Bu, bu bit, le, ie bit, inong, inong Aceh

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Nasi, nasi benar, air, air tawar, wanita, wanita Aceh"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan kuatnya ikatan batin yang lahir dari kesamaan bahasa, budaya, dan rasa dalam kehidupan orang Aceh. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kedekatan yang paling mesra sering tumbuh dari kesamaan latar, karena melalui bahasa dan kebiasaan yang sama, perasaan yang paling halus pun lebih mudah dipahami tanpa banyak penjelasan. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini mencerminkan pandangan bahwa hubungan yang dibangun di atas kesamaan adat, bahasa, dan pengalaman hidup akan terasa lebih akrab, lebih mudah saling mengerti, dan lebih kuat dalam menghadapi suka duka. Makna kiasannya juga menekankan bahwa dalam keadaan sulit, yang benar-benar dekat dan memahami biasanya adalah orang yang berasal dari lingkungan sendiri, karena ikatan itu tidak hanya bersifat lahiriah tetapi juga emosional dan kultural. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai tentang pentingnya kedekatan budaya, kesamaan rasa, dan ikatan asal-usul dalam membangun hubungan yang mendalam dan penuh pengertian.

18 / 40
Kartu #19 dari 40

Memilih pasangan karena kebaikan, bukan penampilan

Jimita manok kön nyang panyang iku.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Di cari ayam bukan yang panjang ekor."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengajarkan bahwa dalam memilih pasangan hidup, yang utama bukanlah penampilan luar atau hal-hal yang hanya menarik pandangan sesaat, melainkan kualitas yang membawa kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupan bersama. Perumpamaan ayam yang dicari bukan karena panjang ekornya menegaskan bahwa nilai sejati tidak terletak pada hiasan lahiriah, tetapi pada manfaat, watak, dan kecocokan yang lebih mendalam. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini mencerminkan pandangan masyarakat Aceh bahwa rumah tangga yang baik dibangun di atas budi pekerti, kesantunan, tanggung jawab, dan kemampuan hidup bersama, bukan semata-mata atas dasar rupa atau kemegahan lahir. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa memilih pasangan harus didasarkan pada pertimbangan yang matang dan berorientasi pada kebaikan jangka panjang, agar kehidupan rumah tangga membawa ketenteraman, kehormatan, dan kebahagiaan

19 / 40
Kartu #20 dari 40

Kehormatan lebih penting dari kepintaran

Keu peue carong iku ka lipéh, keu peue aréh meunyoe ka ceudra

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Apa guna pintar ekor sudah tipis, apa guna arif kalau sudah cedera"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa kecerdasan dan kearifan tidak akan bernilai tinggi apabila tidak disertai kehormatan, nama baik, dan integritas moral. Ungkapan “apa guna pintar” dan “apa guna arif” menunjukkan bahwa kepandaian seseorang dapat kehilangan maknanya ketika perilakunya rusak, martabatnya jatuh, atau kepercayaan orang lain terhadap dirinya telah hilang. Dalam kehidupan masyarakat, orang berilmu memang dihargai karena pengetahuannya, tetapi penghargaan itu sesungguhnya berdiri di atas akhlak, kejujuran, dan keteladanan yang menyertai ilmunya. Karena itu, Hadih Maja ini mengandung pesan bahwa kehormatan lebih penting daripada sekadar kecerdasan, sebab nama baik merupakan penyangga utama bagi wibawa ilmu. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa kepintaran yang tidak dijaga dengan perilaku yang benar hanya akan melahirkan pengetahuan yang kosong dari kemuliaan, sedangkan orang yang menjaga kehormatan diri akan membuat ilmunya benar-benar bermakna dan dihargai

20 / 40
Kartu #21 dari 40

tanpa otoritas

Lagèe jalö hana pawang, lagèe prang hana panglima.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Bagai perahu tak berpawang, bagai perang tak berpanglima."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan pentingnya pemimpin dalam menjaga keteraturan, persatuan, dan arah kehidupan suatu kelompok atau kaum. Perahu tanpa pawang akan mudah kehilangan arah di tengah arus dan gelombang, sebagaimana perang tanpa panglima akan kacau karena tidak ada yang mengatur strategi, memberi komando, dan menyatukan kekuatan. Dalam konteks budaya Aceh, ungkapan ini menunjukkan bahwa kehidupan bersama memerlukan figur pengarah yang dihormati, baik dalam keluarga, gampong, lembaga adat, maupun masyarakat luas. Pemimpin bukan hanya orang yang berada di depan, tetapi juga penjaga keseimbangan, pemersatu, dan penentu arah ketika masyarakat menghadapi persoalan. Tanpa kepemimpinan, suatu kaum mudah terpecah, masing-masing berjalan menurut kehendaknya sendiri, dan tujuan bersama menjadi sulit dicapai. Hadih maja ini mengajarkan bahwa budaya hidup bermasyarakat membutuhkan kepemimpinan yang bijak, berwibawa, dan mampu merawat persatuan

21 / 40
Kartu #22 dari 40

Keadaan tidak berdaya

Lagèe uleue maté iku

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti ular mati ekor"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan keadaan seseorang yang sudah kehilangan daya, kekuatan, atau pengaruhnya, sehingga keberadaannya tidak lagi menimbulkan wibawa seperti sebelumnya. Perumpamaan “seperti ular mati ekor” memberi kesan tentang makhluk yang dahulu menakutkan atau berbahaya, tetapi kini telah lumpuh dan tidak lagi memiliki kemampuan untuk bergerak atau memberi pengaruh. Dalam kehidupan sosial, ungkapan ini dapat ditujukan kepada orang yang telah jatuh kedudukannya, kehilangan wibawa, atau tidak lagi diperhitungkan dalam masyarakat. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kekuatan dan pengaruh sosial tidak selalu tetap, sehingga manusia perlu menjaga kehormatan, kebijaksanaan, dan sikap hidupnya agar tetap bernilai dan tidak kehilangan martabat di tengah masyarakat.

22 / 40
Kartu #23 dari 40

Perilaku tidak terkendali

Lagèe manok pungo keu iku

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti ayam gila kepada ekornya"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bertindak secara liar, tergesa-gesa, dan tidak mampu mengendalikan dirinya dalam kehidupan sosial. Perumpamaan “seperti ayam gila kepada ekornya” menunjukkan perilaku yang kacau, tidak terarah, dan seolah-olah menyerang atau mempermainkan sesuatu tanpa tujuan yang jelas. Ungkapan ini menyindir orang yang emosinya mudah meledak, gerak-geriknya tidak terukur, dan tindakannya sering menimbulkan keresahan bagi orang lain. Dalam konteks sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai penting tentang pengendalian diri, ketenangan, dan kemampuan menata perilaku agar tetap pantas dalam pergaulan. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa manusia yang matang bukanlah orang yang bertindak mengikuti gejolak sesaat, tetapi orang yang mampu menguasai diri, berpikir jernih, dan menjaga sikapnya di tengah masyarakat

23 / 40
Kartu #24 dari 40

Usaha yang sia-sia

Lagèe taikat ôn keurusông bak iku asèe

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Bagai mengikat daun pisang kering pada ekor anjing"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan suatu usaha yang menjadi sia-sia karena dilakukan tidak pada tempat, sasaran, atau cara yang tepat. Perumpamaan mengikat daun pisang kering pada ekor anjing menunjukkan pekerjaan yang dari awal sudah tidak memiliki manfaat yang jelas, sehingga tenaga dan waktu yang dikeluarkan tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Ungkapan ini menyindir orang yang bekerja tanpa pertimbangan yang matang, tanpa memahami keadaan, atau tanpa menempatkan sesuatu sesuai fungsinya. Dalam konteks sosial dan kehidupan sehari-hari, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada adanya usaha, tetapi juga pada ketepatan langkah, kecermatan menilai keadaan, dan kebijaksanaan dalam menempatkan tindakan. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kerja yang tidak disertai pertimbangan yang benar hanya akan berakhir pada kesia-siaan, sedangkan usaha yang tepat akan membawa hasil yang bermanfaat.

24 / 40
Kartu #25 dari 40

Kehidupan saling memberi

Keumudahan ilé tijoh, seulama gôh gadôh nyawöng

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kemudahan mengalir menitik selama belum hilang nyawa"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa selama manusia masih hidup, ia mempunyai kewajiban moral untuk saling memberi, saling menolong, dan saling meringankan beban sesama dalam kehidupan bermasyarakat. Ungkapan “kemudahan mengalir menitik selama belum hilang nyawa” memberi gambaran bahwa kebaikan dan pertolongan seharusnya terus mengalir selama manusia masih diberi umur, sebagaimana air yang menetes tanpa putus. Makna yang terkandung di dalamnya bukan hanya tentang bantuan materi, tetapi juga mencakup perhatian, tenaga, nasihat, dukungan, dan kepedulian sosial yang dapat diberikan kepada orang lain. Dalam konteks sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kehidupan bersama hanya akan berjalan dengan baik apabila manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan juga hadir sebagai sumber manfaat bagi sesama. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tampak dari kesediaannya berbagi, membantu, dan menjaga kehidupan sosial tetap hidup melalui kebaikan yang terus mengalir selama hayat masih dikandung badan.

25 / 40
Kartu #26 dari 40

Mengikuti keadaan

Ban lingkôk krueng, menan ilé ie

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Begitu lekuk sungai, begitu mengalir air"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menunjukkan bahwa manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, lingkungan, dan situasi sosial yang dihadapinya, sebagaimana air mengalir mengikuti lekuk sungai. Ungkapan ini tidak mengajarkan sikap pasif atau sekadar mengikuti arus tanpa pertimbangan, melainkan menanamkan kebijaksanaan untuk memahami konteks, membaca keadaan, dan bertindak secara tepat sesuai tempat dan waktunya. Dalam kehidupan sosial, seseorang yang tidak mampu menyesuaikan diri akan mudah berbenturan dengan lingkungannya, sedangkan orang yang bijak dapat menjaga hubungan baik, memilih sikap yang pantas, dan menempatkan dirinya secara wajar di tengah masyarakat. Dengan demikian, Hadih Maja ini mengandung nilai bahwa keluwesan, kepekaan sosial, dan kemampuan menimbang situasi merupakan bagian penting dari kedewasaan hidup, karena kehidupan yang harmonis sangat bergantung pada kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip-prinsip yang benar.

26 / 40
Kartu #27 dari 40

Bijak membaca tipu daya

Bèk tapeukeutuk kon guda ladang, bèk tabóh kang kon guda kaha.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jangan diperdayakan, bukan kuda jalang, jangan dikenakan kekang"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan kecerdasan seseorang dalam mengenali tipu muslihat, bujuk rayu, atau usaha orang lain untuk memperdayanya. Kuda jalang dan kuda bendi memiliki sifat serta perlakuan yang berbeda; karena itu, tidak semua kuda dapat diperlakukan dengan cara yang sama. Secara kiasan, ungkapan ini menunjukkan bahwa orang yang bijaksana tidak mudah dikelabui, tidak mudah dipaksa masuk ke dalam permainan orang lain, dan tidak gampang menerima perlakuan yang tidak sesuai dengan martabat serta kedudukannya. Dalam konteks budaya Aceh, hadih maja ini mengajarkan pentingnya ketajaman akal, kehati-hatian, dan kemampuan membaca maksud tersembunyi di balik ucapan atau tindakan seseorang. Orang yang berpengalaman biasanya mampu membedakan antara nasihat yang tulus dan siasat yang menjerat. Karena itu, ungkapan ini menjadi nasihat agar manusia tidak polos dalam pergaulan, tetapi tetap waspada, arif, dan mampu menjaga diri dari tipu daya yang dapat merugikan kehormatan maupun kehidupannya

27 / 40
Kartu #28 dari 40

Akibat ucapan buruk

Bèk kamarit meukah-kèe, timoh iku jeuet keu asèe

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jangan berkata sembarangan, nanti tumbuh ekor menjadi anjing"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengingatkan bahwa ucapan yang tidak dijaga dapat menimbulkan akibat buruk yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan semula. Ungkapan “jangan berkata sembarangan, nanti tumbuh ekor menjadi anjing” menggambarkan bahwa perkataan yang lepas tanpa pertimbangan dapat berkembang menjadi masalah, fitnah, pertengkaran, bahkan permusuhan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Dalam kehidupan sosial, satu ucapan yang salah sering kali tidak berhenti pada saat diucapkan, tetapi dapat membesar karena ditafsirkan, diingat, dan dibicarakan kembali oleh orang lain. Karena itu, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa lisan harus dikendalikan dengan bijak, sebab kehormatan, hubungan baik, dan ketenteraman bersama sangat bergantung pada kemampuan seseorang menjaga kata-katanya. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kehati-hatian dalam berbicara merupakan tanda kedewasaan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral dalam hidup bermasyarakat

28 / 40
Kartu #29 dari 40

Pikir sebelum bertindak

Taingat yöh goh, 'oh ka hana guna lé.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Ingat sewaktu belum, jika sudah tak guna lagi."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengandung nasihat agar setiap pekerjaan, keputusan, atau tindakan direncanakan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan. Ungkapan “taingat yöh goh” menekankan pentingnya berpikir pada saat sesuatu belum terjadi, karena pada tahap itu manusia masih memiliki kesempatan untuk menimbang baik buruk, manfaat mudarat, serta untung rugi dari suatu tindakan. Sebaliknya, “’oh ka hana guna lé” menggambarkan keadaan ketika kesalahan sudah terlanjur terjadi, sehingga penyesalan tidak lagi banyak memberi manfaat. Dalam konteks budaya Aceh, hadih maja ini memperlihatkan pentingnya sikap hati-hati, musyawarah, pertimbangan adat, dan kebijaksanaan sebelum mengambil keputusan. Masyarakat diajarkan untuk tidak bertindak gegabah, sebab setiap keputusan dapat membawa akibat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sosial.

29 / 40
Kartu #30 dari 40

Kerelaan berkorban demi tujuan yang diinginkan

Di inong meunyoe ngön teungku, geupumadu pi jeut.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Perempuan itu kalau dengan teungku, dimadu pun boleh."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan sikap seseorang yang rela menanggung pengorbanan atau menerima keadaan yang tidak ideal asalkan tujuan, cita-cita, atau keinginan yang dianggap penting baginya dapat tercapai. Ungkapan ini tidak semata-mata berbicara tentang hubungan rumah tangga, tetapi lebih luas menunjukkan bahwa manusia kadang bersedia menerima beban, berbagi, atau mengalah apabila yang dihadapi dianggap bernilai tinggi dan membawa kehormatan atau kepuasan batin. Dalam konteks budaya dan kehidupan sosial, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa pilihan hidup sering kali menuntut kerelaan berkorban, dan besar kecilnya pengorbanan sangat dipengaruhi oleh apa yang dipandang berharga oleh seseorang. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa manusia sering bersedia menanggung sesuatu yang berat apabila di baliknya ada tujuan yang diyakini lebih mulia, lebih membanggakan, atau lebih diinginkan

30 / 40
Kartu #31 dari 40

Kehidupan saling memberi

Keumudahan ilé tijoh, seulama göh hilang nyawa

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kemudahan mengalir menitik selama belum hilang nyawa"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa selama manusia masih hidup, ia seharusnya menjadi sumber kemudahan, pertolongan, dan kebaikan bagi sesama. Ungkapan “kemudahan mengalir menitik selama belum hilang nyawa” menggambarkan bahwa semangat memberi dan membantu hendaknya terus mengalir sepanjang hayat, tidak berhenti hanya karena perbedaan keadaan atau kepentingan. Maknanya tidak terbatas pada pemberian materi, tetapi juga meliputi perhatian, tenaga, nasihat, dukungan, dan kepedulian sosial yang dapat meringankan beban orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa manusia yang mulia adalah manusia yang kehadirannya membawa manfaat, ketenteraman, dan kemudahan bagi lingkungannya. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa hidup yang baik bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang terus memberi selama hayat masih dikandung badan

31 / 40
Kartu #32 dari 40

Tipu daya manusia

Iléh lheueh parang cumèh

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Belut lepas parang sumbing"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan orang yang dengan licik berhasil melepaskan diri dari keadaan sulit atau memperoleh keuntungan, sementara pihak lain justru menanggung kerugian. Perumpamaan “belut lepas, parang sumbing” menunjukkan bahwa yang menjadi sasaran dapat lolos dengan licin, tetapi alat yang digunakan untuk menangkapnya malah rusak, sehingga usaha pihak lain menjadi sia-sia. Dalam kehidupan sosial, ungkapan ini menyindir orang yang menggunakan kecerdikan bukan untuk kebaikan, melainkan untuk menipu, memanipulasi keadaan, dan mengambil manfaat dari kelemahan orang lain. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kelicikan mungkin memberi keuntungan sesaat, tetapi pada hakikatnya merusak kepercayaan, mencederai hubungan sosial, dan menunjukkan rendahnya integritas moral seseorang.

32 / 40
Kartu #33 dari 40

Akibat ucapan buruk

Bek takheun haba beurangkari, eunteuk ditimoh iku jeut keu asèe

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jangan berkata sembarangan, nanti tumbuh ekor menjadi anjing"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini mengingatkan bahwa ucapan yang keluar tanpa pertimbangan dapat menimbulkan akibat yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan semula. Ungkapan “jangan berkata sembarangan, nanti tumbuh ekor menjadi anjing” menggambarkan bagaimana sebuah kata yang kecil, kasar, atau tidak terjaga bisa berkembang menjadi persoalan yang besar, memicu salah paham, pertengkaran, fitnah, bahkan permusuhan dalam kehidupan sosial. Dalam pergaulan masyarakat, lisan yang tidak dikendalikan sering menjadi sumber rusaknya hubungan baik, hilangnya kepercayaan, dan jatuhnya martabat seseorang. Karena itu, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa berbicara harus disertai kehati-hatian, pertimbangan, dan tanggung jawab, sebab kata-kata bukan hanya mencerminkan akhlak seseorang, tetapi juga dapat menentukan damai atau rusaknya hubungan dengan orang lain

33 / 40
Kartu #34 dari 40

Sikap bermuka dua

Lagèe bubèe duajab, keudéh pi toe, keunoe pi rab.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti bubu dua pintu, ke sana pun dekat, ke mari pun rapat."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan perilaku seseorang yang tidak memiliki ketegasan sikap dan cenderung mengambil keuntungan dari dua pihak sekaligus. Bubèe dua jab atau bubu dua pintu menjadi kiasan bagi orang yang dapat masuk ke satu pihak dan keluar ke pihak lain sesuai kepentingannya. Dalam kehidupan budaya masyarakat Aceh, sikap seperti ini dipandang kurang baik karena menunjukkan ketidakjujuran, ketidaktulusan, dan lemahnya pendirian. Orang seperti ini biasanya berusaha tampak dekat dengan semua pihak, tetapi kedekatan itu bukan karena niat menjaga persaudaraan, melainkan karena ingin memperoleh manfaat dari mana saja. Hadih maja ini menjadi sindiran terhadap orang yang mudah berubah arah, berbicara berbeda di hadapan pihak yang berbeda, dan tidak berani berdiri di atas kebenaran secara jelas. Ungkapan ini mengajarkan pentingnya kejujuran, keteguhan pendirian, dan kesetiaan dalam menjaga hubungan sosial dan adat bermasyarakat

34 / 40
Kartu #35 dari 40

Nama baik dan nama buruk sulit diubah

Teungoh ka Ihôk meuhat han cöt, teungöh ka göt meuhat han ceudra.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Jika sudah rendah tak akan tinggi, jika sudah baik tak akan cedera."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa penilaian masyarakat terhadap seseorang sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan sosial. Jika seseorang telah dipandang buruk, rendah, atau tercela, maka sangat sulit baginya untuk memulihkan kembali nama baiknya, karena cap negatif itu cenderung melekat dalam ingatan orang banyak. Sebaliknya, jika seseorang telah dikenal baik, maka kebaikan itu menjadi pelindung bagi kehormatannya dan tidak mudah dirusak oleh perkara-perkara kecil. Dalam konteks sosial dan budaya, Hadih Maja ini menanamkan nilai pentingnya menjaga nama baik, kehormatan, dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, sebab sekali martabat jatuh, tidak mudah untuk mengangkatnya kembali. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa manusia harus berhati-hati dalam bersikap dan bertindak, karena reputasi yang terbentuk di tengah masyarakat akan sangat menentukan bagaimana ia dihargai atau dipandang sepanjang hidupnya

35 / 40
Kartu #36 dari 40

Keindahan budi bahasa

Ureueng kön rupa nyang jroh, nyang jroh budi bahsa.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Orang bukan rupa yang elok, yang elok hanyalah budi bahasa."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa nilai dan derajat seseorang tidak terletak pada kecantikan atau ketampanan lahiriahnya, melainkan pada keluhuran budi bahasa yang tampak dalam sikap dan tutur katanya. Rupa yang indah hanya menarik pandangan sesaat, tetapi budi bahasa yang baik akan menghadirkan penghormatan, kasih sayang, dan kemuliaan yang lebih tahan lama dalam kehidupan sosial. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini mencerminkan pandangan masyarakat Aceh yang sangat menjunjung adab, kesopanan, dan kehalusan perangai sebagai ukuran utama kehormatan seseorang. Dengan demikian, ungkapan ini menanamkan nilai bahwa keindahan sejati bukanlah penampilan luar, tetapi kualitas akhlak dan kesantunan yang membuat seseorang dihargai dan dikenang baik oleh orang lain

36 / 40
Kartu #37 dari 40

Masalah kecil dapat menimbulkan kerugian besar

Sabab rumôh anjông, tutông rumôh raya

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Sebab rumah anjung terbakar rumah besar"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa persoalan yang tampaknya kecil dapat berkembang menjadi akibat yang besar apabila tidak disikapi dengan bijak. Perumpamaan tentang rumah anjung yang menyebabkan rumah besar terbakar menunjukkan bahwa sumber masalah yang semula dianggap sepele justru dapat merusak sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berharga. Dalam makna kiasannya, ungkapan ini dapat menunjuk pada pertengkaran kecil dalam hubungan keluarga yang akhirnya menimbulkan perpecahan, atau pada kesalahan kecil yang berkembang menjadi kerugian besar dalam kehidupan sosial. Dalam konteks budaya dan kehidupan bermasyarakat, Hadih Maja ini menanamkan nilai kehati-hatian, kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah sejak awal, dan pentingnya menjaga harmoni agar perkara kecil tidak berubah menjadi bencana yang lebih luas. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak kecil jangan diremehkan, karena jika dibiarkan, ia dapat merusak hubungan, ketenteraman, dan tatanan hidup yang lebih besar

37 / 40
Kartu #38 dari 40

Tidak betah karena sulit menyesuaikan diri

Lagèe bruek tincu punggông

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Seperti tempurung yang runcing pantatnya"

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak betah tinggal di suatu tempat dan selalu berpindah-pindah karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Perumpamaan tempurung yang runcing pantatnya memberi kesan tentang sesuatu yang tidak bisa duduk mantap atau tidak menemukan kedudukan yang pas, sehingga selalu goyah dan tidak tenang. Dalam kehidupan sosial dan budaya, ungkapan ini menegaskan bahwa kemampuan menempatkan diri, memahami adat setempat, dan menyesuaikan sikap dengan masyarakat sekitar sangat penting agar seseorang dapat hidup tenteram bersama orang lain. Dengan demikian, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa ketidakmampuan beradaptasi akan membuat seseorang mudah merasa asing, tidak nyaman, dan sulit memperoleh tempat yang tetap dalam kehidupan bermasyarakat

38 / 40
Kartu #39 dari 40

Keindahan asli tampak pada kesederhanaan dan adab

Ceudah-ceudah cicém laén, nyang leubèh candén cicém pala.

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Indah-indah burung yang lain, yang lebih indah ialah burung murai."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menegaskan bahwa keindahan yang paling bernilai bukan selalu yang tampak mencolok di permukaan, melainkan yang disertai kehalusan perangai, tutur kata, dan budi bahasa. Perumpamaan burung murai sebagai yang lebih indah menunjukkan adanya penghargaan terhadap keindahan yang utuh, yaitu keindahan yang bukan hanya enak dipandang, tetapi juga memiliki mutu yang lebih dalam. Dalam makna kiasannya, ungkapan ini mengarah pada pandangan bahwa gadis desa dipandang lebih utama bukan semata karena rupa, melainkan karena kesederhanaan, kesantunan, dan kedekatannya dengan nilai-nilai budaya asli. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa kebudayaan yang murni dan luhur sering kali lebih terpelihara dalam kehidupan yang sederhana, di mana sopan santun, bahasa, dan adat masih dijaga dengan baik. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa keindahan sejati tidak hanya terletak pada penampilan, tetapi pada perpaduan antara kesederhanaan, budi bahasa, dan kedekatan dengan akar budaya

39 / 40
Kartu #40 dari 40

Yang berharga akan selalu dicari

Keureuléng keubeue meuhat keu kubang, keureuléng nggang meuhat keu paya. Meung hana cangguek phang, peue buet nggang keunan jiteuka-

Pelafalan Asli Bahasa Aceh
Terjemahan Bahasa Indonesia:

"Kerling kerbau pastilah ke kubang, kerling enggang pastiiah ke paya. Kalau tak ada katak hijau, mengapa enggang ke situ datang."

Makna & Nilai Filosofis:

Hadih maja ini menggambarkan bahwa kehadiran seseorang di suatu tempat biasanya tidak tanpa sebab, melainkan karena ada sesuatu yang bernilai, menarik, atau diinginkan di tempat itu. Perumpamaan kerbau yang menuju kubangan dan enggang yang datang ke paya menunjukkan bahwa setiap makhluk akan mendatangi sesuatu yang sesuai dengan kebutuhannya atau yang dianggap berharga baginya. Dalam makna kiasannya, ungkapan ini dipakai untuk menjelaskan bahwa rumah yang didiami gadis cantik atau baik budi akan banyak didatangi pemuda, karena ada daya tarik yang membuat orang datang dan menaruh perhatian. Dalam konteks budaya, Hadih Maja ini menanamkan nilai bahwa sesuatu yang baik, indah, dan bernilai akan selalu mengundang perhatian, sehingga kehormatan, penjagaan diri, dan kesantunan menjadi hal penting dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan bahwa kedatangan orang sering kali menunjukkan adanya nilai yang dihargai, dan karena itu sesuatu yang berharga harus dijaga dengan baik agar tetap membawa kemuliaan, bukan masalah

40 / 40

Daftar Kartu Belajar

40 Entri
Kemajuan Anda: 0/40
Buku Bersuara (Audio Companion): Dengarkan pelafalan otentik bahasa Aceh untuk hadih yang sedang Anda baca.

Membuka Lembaran Modul Digital...

Memuat dokumen resmi Dana Indonesiana

Pratinjau Memerlukan Bantuan

Browser Anda sedang memproses dokumen ini. Anda tetap dapat membaca langsung di tab baru atau mengunduh PDF resminya.

Hal. 1 / 1
Pelajari lebih dalam materi ini dengan fitur interaktif lainnya:
Rencana Ajar Singkat

Alur Pembelajaran 45 Menit

Skenario pembelajaran fleksibel untuk guru mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) atau Wali Kelas:

1. Kegiatan Pendahuluan ± 5 Menit
  • Guru membuka sesi dan melafalkan hadih maja dalam bahasa Aceh yang akan dipelajari.
  • Guru memberikan pertanyaan pemantik yang relevan dengan pengalaman sehari-hari siswa.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran kartu dan nilai karakter yang ingin dicapai.
2. Kegiatan Inti ± 25 - 30 Menit
  • Siswa melafalkan teks Aceh dibantu rekaman audio otentik pada platform hadihmaja.com.
  • Guru menjelaskan makna tersurat dan tersirat sesuai tingkat pemahaman peserta didik.
  • Siswa berdiskusi dalam kelompok kecil menjawab Pertanyaan Diskusi secara kontekstual.
  • Siswa melakukan Aktivitas Belajar ringan (menulis refleksi, simulasi peran, atau mini poster).
  • Perwakilan siswa mempresentasikan temuan atau hasil refleksi secara singkat.
3. Kegiatan Penutup ± 10 Menit
  • Guru bersama siswa merangkum intisari nilai karakter yang ditekankan.
  • Siswa melakukan refleksi mandiri: apa hal konkret yang akan diterapkan dalam keseharian.
  • Guru memberikan apresiasi dan penguatan atas keaktifan siswa.
Asesmen Kinerja

Rubrik Penilaian 4 Aspek (Skala 1-4)

Gunakan rubrik berikut untuk menilai diskusi kelompok, esai refleksi, dan tugas kelas:

Aspek Sangat Baik (4) Baik (3)
Pemahaman Makna Hadih Maja Menjelaskan makna hadih maja secara tepat dan mendalam, disertai kaitan yang jelas dengan nilai karakter. Menjelaskan makna hadih maja dengan tepat, namun kaitan dengan nilai belum sepenuhnya mendalam.
Kualitas Jawaban Diskusi / Esai Jawaban logis, runtut, dan didukung alasan serta contoh yang kuat. Jawaban logis dan cukup runtut, dengan alasan yang memadai.
Partisipasi dan Kreativitas Belajar Aktif berpartisipasi dan menunjukkan ide serta inisiatif kreatif dalam menyelesaikan aktivitas. Berpartisipasi aktif namun kreativitas dan inisiatif masih standar.
Keterkaitan dengan Kehidupan Sehari-hari Mampu mengaitkan nilai hadih maja dengan pengalaman nyata secara spesifik dan reflektif. Mampu mengaitkan nilai hadih maja dengan pengalaman sehari-hari secara umum.
Konversi Nilai Akhir: 13–16 = Sangat Baik, 9–12 = Baik, 5–8 = Cukup, 1–4 = Perlu Bimbingan.
Evaluasi Mandiri

Kuis Pemahaman: Budaya

Uji pemahamanmu setelah mempelajari kartu-kartu hadih maja di atas.

10 Soal Pilihan Ganda

1 Hadih maja "Sinergis adat dan hukum" mengajarkan bahwa hubungan adat dan hukum dalam masyarakat Aceh bersifat...

2 Menurut hadih maja "Adat dapat disesuaikan, hukum tidak boleh dilanggar", adat dalam masyarakat Aceh bersifat...

3 Hadih maja "Budi bahasa sebagai nilai budaya" menegaskan bahwa kehalusan bertutur kata mencerminkan...

4 Sikap "rakus menghilangkan kesopanan" dalam hadih maja mengajarkan bahwa ketamakan dapat...

5 Hadih maja "Sikap bermuka dua" mengingatkan bahaya sikap seseorang yang...

6 Menurut hadih maja "Nama baik dan nama buruk sulit diubah", nama baik seseorang di masyarakat...

7 Hadih maja "Memilih pasangan karena kebaikan, bukan penampilan" mengajarkan bahwa dalam memilih jodoh atau sahabat, yang lebih diutamakan adalah...

8 Hadih maja "Pikir sebelum bertindak" menasihati pentingnya sikap...

9 Hadih maja "Masalah kecil dapat menimbulkan kerugian besar" mengajarkan pentingnya...

10 Hadih maja "Tidak betah karena sulit menyesuaikan diri" menjadi nasihat agar seseorang...